Tiga Sepupu Jadi Korban Ambruknya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Ada yang Meninggal dan Hilang

Tiga anak dalam satu keluarga menjadi korban ambruknya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (29/9/2025) sore.
Peristiwa tragis itu menelan korban jiwa dan menyisakan puluhan santri lain yang masih tertimbun reruntuhan hingga hari ketiga pencarian.
Ketiga anak tersebut adalah M Reza, M Kevin, dan Maulana Alfan Ibrahimavic. Mereka memiliki hubungan keluarga sebagai sepupu dan sama-sama menempuh pendidikan di Ponpes Al Khoziny.
“Keluarga kami memang hampir semuanya merupakan alumni Ponpes Al Khoziny,” ujar Manshur, paman dari ketiga anak itu, saat ditemui di kediamannya di kawasan Bongkaran, Pabean Cantian, Surabaya, Rabu (1/10/2025).
Satu Meninggal, Dua Jadi Korban Luka
Dalam peristiwa ambruknya bangunan musala tiga lantai yang difungsikan sebagai asrama putra tersebut, Maulana Alfan Ibrahimavic yang masih duduk di kelas VII SMP menjadi korban jiwa.
Ia sempat mendapatkan perawatan di RS Siti Hajar Sidoarjo, namun nyawanya tidak tertolong.
“Di pondok tersebut, dia baru masuk sekitar 3 bulan,” kata Manshur.
Sepupu Alfan, Kevin, yang duduk di kelas XI SMA, sempat berusaha menolong. Namun, kepalanya terkena reruntuhan dan harus menjalani perawatan intensif di RSUD dr Soewandhie Surabaya.
Beruntung, nyawanya masih tertolong dan kini sudah diperbolehkan pulang.
“Saat ini Kevin sudah keluar dari rumah sakit,” tambah Manshur.
Sementara satu sepupu lainnya, M Reza, masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan.
Evakuasi Hari Ketiga: 7 Korban Ditemukan, 2 Meninggal Dunia
Kondisi Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo usai ambruk, Selasa (30/9/2025).
Proses evakuasi pada Rabu (1/10/2025) mencatat sebanyak tujuh korban berhasil dievakuasi dari reruntuhan Ponpes Al Khoziny. Dari jumlah itu, lima korban selamat dan dua lainnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.“Yang terbaru, seorang korban berhasil dievakuasi sekira pukul 20.22 WIB. Dia selamat namun perlu penanganan khusus oleh tim medis,” kata Direktur Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo.
Rangkaian evakuasi sepanjang Rabu, antara lain:
- Pukul 14.42 WIB, satu korban ditemukan meninggal dunia.
- Pukul 15.22 WIB, korban bernama Haikal berhasil diselamatkan. Ia sebelumnya sempat viral di media sosial.
- Pukul 16.05 WIB, satu korban selamat dievakuasi.
- Pukul 18.02 WIB, korban lain kembali ditemukan selamat.
- Pukul 18.17 WIB, satu korban ditemukan meninggal dunia.
- Pukul 18.40 WIB, seorang korban dievakuasi selamat.
- Pukul 20.22 WIB, korban terakhir hari itu berhasil dikeluarkan dalam kondisi selamat.
Para korban selamat kini menjalani perawatan intensif di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo.
Santri Harus Diamputasi di Lokasi
Tragedi robohnya Ponpes Al Khoziny juga menyisakan kisah pilu. Seorang santri berinisial NA terpaksa diamputasi tangannya agar bisa dievakuasi dari balik reruntuhan.
Direktur Utama RSUD R.T. Notopuro, dr Atok Irawan, menjelaskan, amputasi dilakukan pada lengan kiri korban karena kondisi darurat.
“Tadi malam sempat yang diamputasi di tempat, keluarga sempat protes, enggak setuju. Ya gimana kalau kondisi darurat, sempat nanya ‘Siapa yang mengizinkan?’,” ujarnya.
“Untungnya dokter kami menjelaskan dengan lembut, dengan sabar, alhamdulillah bisa menerima. Karena situasinya sempit, ini juga sebenarnya membahayakan jiwa nakes kami,” lanjutnya.
Korban kemudian dibius di lokasi, lukanya ditutup, sebelum dibawa ke RSUD R.T. Notopuro untuk pembersihan ulang dan penjahitan. Proses operasi tambahan berlangsung hingga pukul 01.30 WIB dini hari. Kondisi NA kini mulai membaik.
Santri Beri Sinyal Hidup dengan Memukul Beton
Kondisi reruntuhan bangunan musala di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Selasa (30/9/2025)
Kisah lain muncul saat sejumlah santri yang masih tertimbun memilih memukul-mukul beton untuk memberikan sinyal kehidupan.“Kebetulan teman-teman yang masih ada di dalam tumpukan itu secara naluri ingin mendapatkan pertolongan dengan memukul-mukul beton,” kata Ketua Alumni Pusat Al Khoziny, Zainal Abidin.
Suara ketukan tersebut sempat membuat petugas Basarnas bingung dan waspada terhadap kemungkinan runtuhan susulan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa hingga Selasa malam (30/9/2025), masih ada 91 orang santri yang diduga tertimbun reruntuhan bangunan Ponpes Al Khoziny.
Tiga korban telah dinyatakan meninggal dunia, yakni:
- Maulana Affan Ibrahimavic (15), warga Surabaya.
- Mochammad Mashudul Haq (14), warga Surabaya.
- Muhammad Soleh (22), warga Bangka Belitung.
“Jumlah tim SAR gabungan yang dikerahkan sebanyak 332 personel. Mulai dari Basarnas, BPBD Jawa Timur, BPBD Sidoarjo, BPBD Nganjuk, BPBD Jombang, BPBD Surabaya, Dinas PU SDA Provinsi, Tagana Dinas Sosial, aparat TNI serta Polri,” ujar Muhari.
Meski dua ekskavator sudah disiagakan sejak hari pertama, hingga kini alat berat belum difungsikan karena khawatir getaran bisa memicu runtuhan tambahan.
Evakuasi Masih Dilakukan Manual
SAR Mission Coordinator (SMC) Nanang Sigit menjelaskan, petugas lebih banyak menggunakan cara manual dengan menggali celah di antara puing atau membuat lubang kecil untuk menjangkau korban yang masih hidup.
“Jumlahnya ada beberapa. Termasuk ada yang masih bisa diajak komunikasi. Bisa minum dan makan ketika kami berikan. Tapi belum bisa dievakuasi,” ujarnya.
Menurut Nanang, penggunaan alat berat masih ditunda demi keselamatan korban maupun petugas.
Tim SAR bahkan menggunakan teknologi scan untuk mendeteksi tanda kehidupan, dan hasilnya menunjukkan masih ada korban yang merespons dengan menggerakkan kaki maupun anggota tubuh lainnya.
“Kami berusaha membuat lubang dari bawah supaya bisa sampai ke para korban dan bisa menjadi jalan untuk mengevakuasi mereka,” jelasnya.
Sebagian Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul 3 Anak yang masih 1 Keluarga Jadi Korban Ambruknya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Satu belum Ditemukan