Berkaca dari Baim dan Paula, Berapa Lama Waktu Pulih dari Kesedihan Setelah Cerai?
Perceraian Baim Wong dan Paula Verhoeven kembali jadi percakapan warganet soal bagaimana seseorang menghadapi perpisahan. Baim menyebut dirinya ingin membuka lembaran baru.
"Jadi sekarang stop, buat gue yuk Paula kita bahagia. Lo bahagia dengan kehidupan, gue bahagia dengan kehidupan gue," kata Baim, dilaporkan oleh , Minggu (28/9/2025).
Lantas, sebenarnya berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk melewati kesedihan setelah bercerai?
Normalnya berapa lama sedih setelah cerai?
Durasi pemulihan tiap orang tidak sama
Berkaca dari perceraian Baim Wong dan Paula Verhoeven, setiap orang butuh waktu untuk pulih dari kesedihan pasca-cerai. Ini penjelasan psikolog.
Psikolog, Sani Budiantini Hermawan, S.Psi, menyampaikan, bahwa setiap orang punya ritme pemulihan sendiri.
"Ada fase sedih, kehilangan, marah, lalu bisa balik lagi ke sedih. Itu bisa terjadi pada siapa pun dan tidak ada tahapan yang pasti," tuturnya saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (30/9/2025).
Menurut Sani, justru yang membedakan adalah cara perceraian itu terjadi.
"Memang semakin orang soft landing dalam perceraian, emosinya akan jauh lebih manageable (mudah diatur) dibanding misalnya perceraiannya itu agak sedikit hard landing ya," jelasnya.
Sebagai informasi, soft landing adalah perceraian yang terjadi atas perdamaian, minim konflik, dan lebih terencana.
Sementara itu, hard landing disebabkan karena perceraian akibat pertengkaran, sering memicu konflik, dan biasanya banyak masalah saat pernikahan.
Selain itu, perceraian yang menimbulkan perpecahan dua keluarga, misalnya, sering membuat emosi lebih negatif dari proses pemulihan jadi lebih panjang.
"Membuat konflik baru atau perpecahan dua keluarga, nah itu tentunya bisa mengakibatkan emosi lebih negatif ketimbang orang yang cerainya soft landing dan prepare dan sudah siap dalam menghadapi pasca-cerai," tambahnya.
Fase kritis: Tiga bulan hingga satu tahun
Berkaca dari perceraian Baim Wong dan Paula Verhoeven, setiap orang butuh waktu untuk pulih dari kesedihan pasca-cerai. Ini penjelasan psikolog.
Meski tak ada rumus pasti, Sani menyebut ada masa krusial yang umum dialami banyak orang setelah bercerai.
"Biasanya orang fase kritis (setelah bercerai) itu tiga bulan sampai satu tahun," katanya.
Pada periode inilah seseorang menyesuaikan diri, mulai dari urusan sosial, finansial, hingga kehidupan sehari-hari sebagai individu yang sudah berstatus lajang kembali.
Lebih lanjut, Sani menilai perasaan lega kerap datang jika memang pernikahan sudah lama diwarnai dengan konflik.
"Perasaan lega atau perasaan bahagia ya bisa muncul ketika seseorang sudah melewati fase kritisnya itu, sampai akhirnya orang adjust (menyesuaikan) atau merasa siap untuk ke depannya menjadi single kembali," paparnya.
Kisah Baim dan Paula bisa menjadi contoh. Laki-laki 44 tahun ini mengaku menyesal sempat mengumbar masalah rumah tangganya di depan publik, dan saat ini memilih menjaga ketenangan demi anak-anak.
"Kita jangan jadiin anak-anak drama karena kasihan anak-anak," ujar Baim.
Kedewasaan emosional jadi penanda
Sani menyebut, tanda seseorang telah melalui fase kritis adalah kemampuannya berdamai dengan situasi.
"Emotional maturity (kedewasaan emosional) kematangan emosi seseorang yang sifatnya positif dan bisa kontrol emosi," jelasnya.
Proses ini, lanjutnya, membantu seseorang berhenti menoleh ke masa lalu dan fokus membangun hidup baru.
"Bahagia (setelah bercerai) berarti berdamai dengan keadaan dan menerimanya sebagai keputusan yang terbaik, jadi enggak ada penyesalan," tuturnya.
Dengan demikian, lamanya waktu untuk keluar dari kesedihan pasca-perceraian bukan soal hitungan berapa lamanya, melainkan kesiapan mental untuk menerima kenyataan.
Yang penting adalah memberi ruang pada diri sendiri untuk merasakan, menata, dan akhirnya melangkah lebih maju.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.