Media China Soroti Reshuffle Kabinet Prabowo, Singgung Sri Mulyani Diganti Purbaya

Perombakan kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto tidak hanya mendapat sorotan di dalam negeri, namun juga dari luar negeri.
Media asal Hong Kong South China Morning Post (SCMP) mengulas reshuffle kabinet tersebut dalam berita berjudul "Can Indonesia’s cabinet reshuffle restore public trust and calm protesters?"
Mereka menyebutkan, reshuffle dilakukan sebagai langkah “taktis” untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap pemerintah menurut para analis, namun mereka berpendapat hal tersebut tidak akan cukup untuk meredakan kerusuhan di antara para pengunjuk rasa jika tidak mengarah pada reformasi sistemik yang lebih lanjut.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan perubahan tersebut menyusul “berbagai pertimbangan, masukan, dan evaluasi presiden”.
“Semoga keputusan ini membawa kebaikan bagi bangsa, negara, dan masyarakat,” kata Prasetyo.
Konsolidasi politik Prabowo?
Beberapa analis mengatakan langkah reshuffle tersebut mencerminkan keinginan Prabowo untuk mengonsolidasikan basis politiknya dengan menempatkan loyalis yang lebih selaras dengan visinya.
Empat dari lima menteri yang diganti– Sri Mulyani, Gunawan, Budi Arie, dan Ariotedjo – pernah menjabat di bawah mantan presiden Joko Widodo. Beberapa di antaranya dianggap sebagai figur penghubung dalam upaya Prabowo untuk meyakinkan investor dan melanjutkan program-program pendahulunya.
"Jelas Prabowo sedang memperkuat barisannya, dengan alasan utama untuk menentukan siapa yang akan menjadi loyalisnya dan siapa yang dapat melaksanakan program-programnya," kata Nicky Fahrizal, peneliti politik di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia.
Ia mengatakan kerusuhan tersebut telah menciptakan “momentum yang tepat untuk menyingkirkan orang-orang yang diduga memiliki hubungan dua sisi” dengan Prabowo dan Jokowi.
Namun ada pula yang menolak narasi bahwa perombakan kabinet itu ditujukan untuk membersihkan para teknokrat era Jokowi
"Ini terobosan Presiden untuk memulihkan kepercayaan publik, karena salah satu tuntutan publik adalah mencopot menteri-menteri kontroversial yang pernyataannya tidak membela rakyat," kata Pangi Syarwi Chaniago, direktur eksekutif lembaga survei Voxpol yang berbasis di Jakarta.
Prasetyo juga menepis spekulasi tersebut pada hari Senin, dengan mengatakan bahwa kabinet Prabowo tidak mencakup “individu yang mewakili tokoh tertentu”.
Awal yang sulit Menkeu baru
Menteri Keuangan baru Purbaya Yudhi Sadewa, yang sebelumnya memimpin Lembaga Penjamin Simpanan, memicu kontroversi kurang dari 24 jam setelah dilantik sebagai pengganti Sri Mulyani pada hari Senin.
Berbicara kepada wartawan, Purbaya mengatakan protes baru-baru ini mewakili “hanya sebagian kecil dari rakyat kita, yang merasa hidup mereka masih belum cukup”.
"Kalau saya ciptakan pertumbuhan ekonomi 6 atau 7 persen, [unjuk rasa] otomatis hilang. Orang-orang akan sibuk mencari pekerjaan dan makan enak, alih-alih berdemo," kata Purbaya.
Purbaya kemudian membanggakan “pengalamannya selama 15 tahun di pasar [saham], jadi saya tahu betul bagaimana cara meningkatkan perekonomian”.
Ia juga mengatakan optimistis pertumbuhan ekonomi 8 persen yang digagas Prabowo "bukanlah hal yang mustahil" untuk dicapai dalam kurun waktu dua atau tiga tahun.
Pada hari Selasa, Purbaya meminta maaf atas gaya bicaranya yang “koboi”, dan meminta wartawan untuk memberinya “waktu beberapa bulan untuk bekerja sebelum mengkritik saya secara keras”.
Nah, itulah sorotan media China terkait perombakan kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo salah satunya mengganti Sri Mulyani dengan Purbaya Yudhi Sadewa.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.