Pemantauan Tumbuh Kembang Balita: Refleksi dari Provinsi Jawa Timur

KEBERHASILAN pembangunan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari kualitas sumber daya manusianya. Kualitas itu ditentukan sejak usia paling dini. Masa anak-anak bukan sekadar masa bermain, tetapi masa emas perkembangan otak, fisik, dan kepribadian.
Oleh karena itu, setiap upaya memastikan anak tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia adalah investasi jangka panjang yang tidak boleh ditawar. Di dalamnya termasuk pemantauan tumbuh kembang anak.
Ketika mendengar istilah “pemantauan tumbuh kembang”, apa yang pertama kali terlintas di benak Anda? Mungkinkah gambaran seorang balita yang sedang diukur tinggi dan berat badannya di Posyandu.
Apa pun bayangan yang muncul, esensinya tetap sama, yaitu pemantauan tumbuh kembang adalah proses krusial untuk memastikan setiap anak dapat bertumbuh secara optimal, mencapai potensi terbaiknya, serta memperoleh intervensi yang sesuai jika dibutuhkan.
Secara umum, tumbuh merujuk pada perubahan fisik seperti tinggi badan, berat badan, dan keterampilan motorik. Sementara itu, berkembang mengarah pada aspek kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan kemandirian anak.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 66 Tahun 2014, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini, mempersiapkan mereka memasuki jenjang pendidikan formal, sekaligus memperbaiki status kesehatan, gizi, kognitif, mental, dan psikososial anak.
Terlaksananya kegiatan ini juga menjadi cerminan komitmen negara dan daerah dalam menjamin pemenuhan hak-hak dasar anak: hak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan dilindungi. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Konvensi Hak Anak tahun 1989.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menetapkan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan sebagai agenda rutin setiap bulan Februari dan Agustus atau yang dikenal sebagai Bulan Timbang. Kegiatan ini dilakukan di Posyandu sebagai langkah preventif untuk mencegah stunting, melengkapi imunisasi, serta memberikan edukasi gizi kepada masyarakat.
Lalu bagaimana dengan implementasinya di tingkat daerah? Beberapa daerah telah menunjukkan komitmen dalam mendukung tumbuh kembang anak. Salah satunya Provinsi Jawa Timur.
Komitmen ditunjukkan melalui penyediaan alat, bahan, serta tenaga kesehatan dan kader Posyandu yang tersebar hingga ke tingkat desa. Hal ini terefleksi dari capaian persentase Posyandu aktif di seluruh kabupaten/kota Jawa Timur yang telah mencapai 100 persen. Berdasarkan data Kemenkes pada 2023, angka ini lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 83,1 persen.
Menurut data Pusdatin, Kemenkes pada 2024, untuk segi konten layanan, dari total 2.301.221 balita (usia 0-4 tahun) di Jawa Timur sebanyak 81,2 persen telah memiliki Buku KIA. Angka ini juga lebih tinggi dari rata-rata nasional yaitu 80 persen.
Ketika hasil pemantauan menunjukkan data yang belum lengkap, anak dirujuk ke puskesmas untuk mengikuti layanan Stimulasi Dini Intervensi Deteksi Tumbuh Kembang (SDIDTK). Pada 2023, cakupan layanan SDIDTK di Jawa Timur telah menjangkau 74,5 persen balita, melampaui capaian nasional sebesar 70,8 persen.
Pertama, adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya membawa anak secara rutin ke Posyandu untuk pemantauan tumbuh kembang. Salah satu alasannya adalah karena isu ini belum ditempatkan sebagai bagian dari percakapan publik.
Selain itu, tidak sedikit orangtua yang menganggap anaknya baik-baik saja, padahal pemantauan berkala dapat mendeteksi gangguan perkembangan yang tidak kasat mata.
Oleh karena itu, perlu ada inisiatif untuk mendorong dan mengajak para orangtua dan pengasuh datang ke layanan kesehatan tanpa harus menunggu anak sakit atau tertinggal jauh dari teman sebayanya.
Sosialisasi harus dirancang dengan pendekatan komunikasi yang menyentuh emosi dan realitas orangtua muda saat ini yaitu visual, cepat, dan dekat dengan keseharian mereka. Perlu ditanamkan bahwa pemantauan tumbuh kembang adalah langkah preventif, bukan reaktif.
Banyak yang beranggapan bahwa rendahnya kesadaran masyarakat ini hanya terjadi di daerah pedesaan karena ketersediaan layanan juga terbatas. Namun, ternyata tidak. Di beberapa kota besar di Jawa Timur seperti Surabaya dan Madiun, tingkat kunjungan ke Posyandunya relatif rendah.
Artinya, ketersediaan layanan belum otomatis membuat masyarakat sadar dan tingkat partisipasi jadi tinggi. Di daerah-daerah ini, pemerintah daerah mengembangkan strategi “jemput bola”, seperti pembagian telur dan susu kepada keluarga yang memiliki anak dengan hambatan pertumbuhan.
Tenaga Puskesmas juga bekerja sama dengan kader PKK mendatangi rumah-rumah, mendata secara manual, lalu menyampaikan laporan digital kepada tenaga medis. Ini bukan pekerjaan mudah, tetapi inilah bentuk nyata semangat gotong royong Jawa Timur.
Tantangan kedua adalah masih sering dipisahkannya pemantauan kesehatan orangtua dari pemantauan kesehatan anak. Pemantauan tumbuh kembang harus dilakukan secara holistik bersama kesehatan orangtua atau pengasuh.
Kesehatan fisik dan mental orangtua sangat mempengaruhi kualitas hidup anak. Orangtua yang sering mengalami sakit pasti juga memberikan dampak kesehatan pada anaknya.
Orangtua yang sehat secara emosional dan fisik akan lebih mampu memberikan stimulasi yang positif, merawat dengan penuh kasih, dan menciptakan lingkungan tumbuh yang kondusif.
Oleh karena itu, integrasi antara layanan kesehatan orangtua dan pemantauan tumbuh kembang anak menjadi pendekatan yang mutlak. Hal ini tidak hanya memperkuat fondasi kesehatan keluarga tetapi juga mendukung pencapaian target pembangunan kesehatan nasional.
Pemantauan tumbuh kembang yang dilakukan secara rutin juga tidak hanya berdampak langsung pada kesehatan anak, tetapi juga memberikan manfaat edukatif bagi orang tua dan pengasuh.
Orangtua atau pengasuh memperoleh informasi tentang pola asuh yang sesuai, stimulasi yang tepat, serta dan pentingnya gizi seimbang sehingga pengasuhan di dalam keluarga bisa dijalankan dengan optimal.
Selanjutnya, tantangan yang ketiga adalah masih kurangnya dukungan kebijakan dan pendanaan yang berkelanjutan untuk menjamin akses layanan pemantauan tumbuh kembang yang merata di seluruh wilayah.
Padahal, komitmen politik dan dukungan anggaran adalah fondasi utama keberlanjutan program. Tanpa itu, inisiatif yang telah berjalan dengan baik bisa terhenti sewaktu-waktu.
Kita perlu memastikan bahwa pemantauan tumbuh kembang menjadi bagian dari perencanaan pembangunan daerah, dialokasikan dalam APBD, serta diawasi implementasinya secara konsisten.
Tantangan keempat adalah sinergi antar pihak terkait. Persepsi yang berkembang di masyarakat masih menunjukkan bahwa isu tumbuh kembang anak adalah urusan teknis medis atau masalah keluarga semata.
Padahal, ini adalah persoalan publik. Tumbuh kembang anak menentukan masa depan bangsa. Ini adalah urusan semua pihak. Pemerintah, masyarakat, sektor swasta, lembaga filantropi, organisasi masyarakat sipil, semua harus bergerak bersama dalam satu irama.
Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor juga menjadi kunci untuk tumbuh kembang anak. Sinergi antara sektor kesehatan, pendidikan, dan perlindungan anak juga akan memperkuat sistem layanan yang holistik dan integratif.
Tantangan terakhir adalah belum mengakarnya kesadaran bahwa kesehatan dan tumbuh kembang anak merupakan bagian penting dari agenda pembangunan nasional. Isu ini sering kali muncul hanya saat momen kampanye penurunan stunting atau ketika data dirilis ke publik.
Padahal, pemantauan tumbuh kembang berkontribusi langsung pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu tujuan tanpa kelaparan, kehidupan sehat dan sejahtera, serta pendidikan berkualitas.
Kita membutuhkan narasi besar yang mengangkat pentingnya investasi pada tahun-tahun awal kehidupan anak. Narasi ini harus hadir di ruang-ruang publik, didorong oleh media, tokoh masyarakat, dan para pengambil kebijakan.
Mari kita jadikan pemantauan tumbuh kembang bukan sekadar rutinitas kesehatan, tetapi gerakan kolektif untuk membangun generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan tangguh.
Mari tanamkan kesadaran bahwa masa depan bangsa ditentukan sejak dalam gendongan ibu dan di pelukan keluarga. Pemantauan tumbuh kembang adalah bahasa cinta paling awal yang bisa kita berikan pada anak-anak Indonesia.
Setiap langkah kecil di Posyandu adalah pijakan besar menuju Indonesia yang lebih kuat. Karena masa depan Indonesia, ditentukan oleh anak-anak yang kita sayangi hari ini.