Detail Kesepakatan Damai Terbaru AS-Iran Mulai Terungkap
Amerika Serikat disebut semakin dekat mencapai kesepakatan damai dengan Iran. Ini artinya perang akan segera berakhir, Selat Hormuz kembali dibuka serta membuat Iran menyerahkan persediaan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi miliknya.
Informasi itu disampaikan sejumlah pejabat kawasan kepada Associated Press pada Minggu. Mereka mengatakan detail dan jadwal pelaksanaannya masih akan dibahas lebih lanjut.
Namun demikian hingga saat ini, Iran belum secara terbuka menyatakan bersedia menyerahkan uranium tersebut, yang menjadi salah satu tuntutan utama Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam beberapa pekan terakhir, kedua pihak sebenarnya disebut sudah beberapa kali hampir mencapai kesepakatan.
Trump pada Sabtu mengatakan bahwa kesepakatan itu sebagian besar sudah dinegosiasikan setelah dirinya melakukan pembicaraan dengan Israel dan sejumlah sekutu di kawasan.
"Negosiasi berjalan secara tertata dan konstruktif. Saya juga sudah meminta para perwakilan saya untuk tidak terburu-buru membuat kesepakatan karena waktu ada di pihak kami," tulis Trump di media sosial pada Minggu dikutip dari laman AP News, Senin 25 Mei 2026.
Ia juga menyebut hubungan AS dan Iran kini menjadi jauh lebih profesional dan produktif.
Menyusul dengan pembicaraan damai antara AS-Iran, ada beberapa point penting yang disebut menjadi krusial agar kesepakatan damai bisa tercapai. Apa saja? Berikut ini rangkumannya dikutip dari laman AP News.
Kesepakatan Disebut Akan Mencakup Uranium Iran
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang tengah lawatan ke India, mengatakan telah ada kemajuan signifikan, meski belum final dalam negosiasi tersebut. Ia juga menyebut dunia nantinya tidak perlu lagi khawatir Iran akan memiliki senjata nuklir, meski tidak menjelaskan lebih detail.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa negaranya siap meyakinkan dunia bahwa Iran tidak mengejar senjata nuklir.
Sementara itu, Kedutaan Besar Iran di India merespons pernyataan Rubio melalui media sosial dengan menegaskan bahwa Teheran memiliki hak yang tidak bisa dicabut untuk mengembangkan teknologi nuklir.
Iran selama ini selalu menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai, meski tetap memperkaya uranium hingga mendekati tingkat yang dapat digunakan untuk senjata.
Menurut dua pejabat kawasan yang enggan disebut namanya mengungkap dalam kesepakatan yang sedang dibahas Iran akan menyerahkan stok uranium dengan pengayaan tinggi miliknya.
Salah satu pejabat yang mengetahui langsung proses negosiasi mengatakan mekanisme penyerahan uranium itu masih akan dibahas lebih lanjut dalam periode 60 hari.
Sebagian uranium kemungkinan akan diencerkan, sementara sisanya dipindahkan ke negara ketiga. Rusia disebut telah menawarkan diri untuk menampungnya.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyebut Iran saat ini memiliki 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen, hanya selangkah lagi dari tingkat 90 persen yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.
Trump diketahui menginginkan konsesi yang lebih besar dari Iran dibanding kesepakatan nuklir era Presiden Barack Obama tahun 2015, yang kemudian ditinggalkan AS pada masa pemerintahan Trump.
Pada Sabtu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan perbedaan posisi antara Iran dan AS mulai menyempit. Namun Iran tetap berhati-hati setelah dua kali diserang selama proses negosiasi nuklir dalam setahun terakhir.
Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir, yang menjadi mediator penting dalam perundingan ini, meninggalkan Tehran pada Sabtu malam setelah kembali melakukan pembicaraan dengan pejabat Iran.
Selat Hormuz Akan Dibuka Bertahap
Menurut para pejabat tersebut, Selat Hormuz akan dibuka kembali secara bertahap bersamaan dengan pencabutan blokade AS terhadap Iran.
AS juga disebut akan mengizinkan Iran kembali menjual minyaknya melalui pelonggaran sanksi.
Salah satu pejabat mengatakan pembahasan mengenai pencabutan sanksi dan pencairan dana Iran yang dibekukan akan dilakukan dalam jangka waktu 60 hari.
Kedua pejabat itu juga menyebut draf kesepakatan mencakup penghentian perang antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.
Sudah 12 pekan berlalu sejak AS dan Israel menyerang Iran hingga menewaskan pemimpin tertinggi negara itu serta sejumlah pejabat penting lainnya. Gencatan senjata dengan Iran sendiri masih bertahan sejak 7 April, meski sesekali kedua pihak tetap terlibat saling serang.
Sejumlah negara, termasuk Uni Eropa dan Inggris, menyambut positif perkembangan menuju kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran.