Basuki Tegaskan Belum Ada Dampak Pelemahan Rupiah pada Proyek IKN: Kontraktor Tak Mengeluh
Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), Basuki Hadimuljono mengatakan belum ada dampak signifikan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada proyek pembangunan IKN.
Ia menambahkan, hingga kini belum ada keluhan dari para kontraktor terkait kenaikan harga material maupun biaya operasional akibat fluktuasi mata uang tersebut.
"Belum. Belum ada (keluhan). Belum ada eskalasinya," ujar Basuki di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026.
Istana Negara IKN
Di sisi lain, Basuki menjelaskan penyesuaian harga mengikuti kebijakan nasional. Namun, hingga saat ini kondisi tersebut belum terjadi sehingga pihaknya tetap menjalankan kontrak sesuai kesepakatan awal.
Terkait ketersediaan logistik, Basuki memastikan bahwa pasokan bahan material di lapangan masih stabil.
Ia menekankan bahwa belum ada laporan mengenai kendala suplai maupun lonjakan harga bahan bangunan di kawasan IKN.
"Belum ada, belum ada komplain itu (soal suplai dan harga material)," pungkasnya.
Sebelumnya, Basuki meminta tambahan anggaran sebesar Rp15,5 triliun di 2027. Usulan penambahan anggaran itu akan digunakan buat target pembangunan IKN pada 2028 mendatang.
Usulan itu disampaikan Basuki saat Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi II DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 11 Juni 2026. Ia menjelaskan kebutuhan anggaran OIKN tahun 2027 sebesar Rp22,2 triliun.
"Telah dialokasikan dalam pagu indikatif sebesar Rp6,7 triliun, sehingga masih terdapat kebutuhan tambahan anggaran sebesar Rp15,5 triliun," kata Basuki.
Istana Negara IKN
Dia menjelaskan penambahan anggaran itu bakal digunakan untuk pembangunan IKN batch kedua untuk tahun 2025, 2026, 2027 sebesar Rp7,4 triliun dan pembangunan batch 3 sebesar Rp8 triliun untuk kontrak tahun jamak 2026-2028.
"Sehingga tujuan dari Perpres 79/2025 tahun 2025 untuk menjadikan kawasan IKN menjadi ibu kota negara tahun 2028," kata dia.