Rupiah Melemah Seiring Laporan BPS soal Pelemahan Inflasi Bulan November 2025
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.632 per Selasa, 2 Desember 2025. Posisi rupiah itu menguat 36 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.668 pada perdagangan Senin, 1 Desember 2025.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Rabu, 3 Desember 2025 hingga pukul 09.04 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.632 per dolar AS. Posisi itu melemah 7 poin atau 0,04 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.625 per dolar AS.
Ilustrasi mata uang Rupiah.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, laju inflasi nasional kembali menunjukkan pelemahan pada November 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) hanya naik 0,17 persen month-to-month (mtm) atau secara bulanan, lebih rendah dibandingkan 0,28 persen pada Oktober 2025.
"Secara tahunan, inflasi mereda menjadi 2,72 persen sementara inflasi year-to-date (ytd) berada di level 2,27 persen," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu, 3 Desember 2025.
Inflasi tersebut terutama ditopang oleh komponen inti yang naik 0,17 persen dan berkontribusi 0,11 persen terhadap inflasi nasional. Komoditas emas perhiasan kembali menjadi pendorong terbesar, dimana harga emas mencatat kenaikan hampir 4 persen dan memberikan andil 0,08 persen.
Dari kelompok harga yang dipengaruhi kebijakan pemerintah, tarif angkutan udara kembali merangkak dan mencatat inflasi 0,24 persen, dengan kontribusi 0,05 persen. Sementara komponen harga bergejolak naik tipis 0,02 persen, terutama akibat kenaikan harga beberapa sayuran seperti bawang merah, wortel, jeruk, sawi hijau, ketimun, dan kacang panjang.
Selain itu, Kementerian Keuangan mencatatkan, posisi utang pemerintah per akhir Kuartal III-2025 senilai Rp 9.408,64 triliun. Jika dirinci lebih lanjut, komposisi utang pemerintah Rp 9.408,64 triliun itu didominasi oleh hasil penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) Rp 8.187,55 triliun atau sekitar 87,02 persen. Sedangkan yang berasal dari pinjaman mencapai Rp 1.221,09 triliun (12,98 persen).
Dari sisi rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB), per akhir Kuartal III-2025 telah mencapai 40,30 persen. Utang yang berasal dari penerbitan SBN itu pun melonjak sekitar 2,59 persen dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar Rp 7.980,87 triliun.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.620 - Rp 16.640," ujarnya.
Sebagai informasi, ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan melanjutkan siklus pelonggarannya telah meningkat dengan, CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Desember adalah sebesar 87,4 persen.
Penasihat Ekonomi Nasional Gedung Putih, Kevin Hassett, kemungkinan akan ditunjuk sebagai Ketua Fed berikutnya, menggantikan Jerome Powell. Namun, Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa ia tidak akan memberi tahu siapa pun siapa yang akan ditunjuk, tetapi ia sudah menentukan pilihannya.