Iran Klaim Punya Teknologi Baru, 210 Pesawat Musuh Bisa Dilumpuhkan
Iran disebut berhasil mengembangkan teknologi pertahanan udara selama perang dengan Amerika Serikat dan Israel. Terobosan itu membuat militer Iran mampu menargetkan lebih dari 200 pesawat musuh.
Dalam video yang dipublikasikan pada Selasa, Menteri Pertahanan Sementara Iran, Brigadir Jenderal Seyed Majid Ibn Reza mengatakan kemampuan militer dan taktik tempur Iran berkembang pesat selama 40 hari pertempuran sengit melawan AS-Israel.
"Kejutan kami di bidang teknik dan taktik selama Perang Ramadan jauh lebih maju dibanding perang sebelumnya," ujarnya dikutip dari laman presstv.ir, Rabu 27 Mei 2026.
Ia mengatakan bahwa pada perang 12 hari pada Juni 2025 lalu jumlah pesawat yang berhasil ditargetkan Iran masih sangat sedikit. Namun dalam perang kali ini, menurutnya, Iran berhasil mengembangkan teknologi yang memungkinkan negara tersebut menargetkan sekitar 210 pesawat musuh.
Dia juga menyebut Iran dengan cepat mengembangkan kemampuan untuk menghadapi pesawat siluman canggih, termasuk Lockheed Martin F-35 Lightning II buatan Amerika Serikat.
"Menargetkan pesawat siluman milik musuh menjadi salah satu prioritas industri pertahanan kami sejak awal perang. Dalam waktu kurang dari 10 hari, kami menguasai teknologi yang memungkinkan kami memberikan kerusakan serius pada F-35 dan pesawat tempur canggih lainnya milik musuh," sambung dia.
Menhan sementara Iran itu menambahkan bahwa penargetan drone dan pesawat lain termasuk jet tempur General Dynamics F-16 Fighting Falcon, pada akhirnya menjadi rutinitas harian dan mingguan.
Sebagai informasi, Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu memicu balasan besar-besaran dari Iran berupa rudal dan drone yang diarahkan ke target-target Israel serta aset militer Amerika di berbagai wilayah.
Selama perang berlangsung, pasukan Iran disebut berhasil mencegat dan menjatuhkan sejumlah jet tempur, rudal, dan drone milik pihak penyerang.
Pemerintah Iran berulang kali menyatakan bahwa perang tersebut membuktikan rapuhnya sistem militer canggih Amerika di hadapan kemampuan rudal dan pertahanan udara Iran.
Menurut seorang perwira senior Iran yang mengaku berhasil menjatuhkan jet tempur F-35 milik Amerika, mitos pesawat perang yang tak bisa terdeteksi radar kini telah runtuh.
"Kami benar-benar menghancurkan teknologi Lockheed Martin. Mitos jet tempur siluman sudah berakhir," kata perwira tersebut.
Sebuah laporan kongres yang baru dirilis mengungkap bahwa militer Amerika Serikat kehilangan sedikitnya 42 pesawat selama perang melawan Iran, dengan total kerugian yang diperkirakan mencapai sekitar 2,6 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp46,39 triliun.
Menurut dokumen tersebut, kerugian mencakup jet tempur, pesawat pengintai, pesawat pengisian bahan bakar di udara, helikopter penyelamat tempur, hingga drone.
Beberapa pesawat yang dilaporkan hancur atau rusak antara lain empat jet tempur McDonnell Douglas F-15E Strike Eagle, satu F-35A Lightning II, satu Fairchild Republic A-10 Thunderbolt II, tujuh pesawat pengisian bahan bakar Boeing KC-135 Stratotanker, serta satu Boeing E-3 Sentry.
Laporan itu juga mencatat hilangnya dua pesawat Lockheed Martin MC-130J Commando II, satu helikopter Sikorsky HH-60W Jolly Green II, 24 drone General Atomics MQ-9 Reaper, dan satu Northrop Grumman MQ-4C Triton.
Para analis yang dikutip dalam laporan memperkirakan total kerugian pesawat dan program penggantiannya pada akhirnya bisa melampaui 7 miliar dolar AS atau sekitar Rp124,92 triliun.