Berbulan-bulan Berlayar ke Gaza, Chiki Fawzi Bongkar Dugaan Pelanggaran Hukum Internasional oleh Israel

Chiki Fawzi
Chiki Fawzi

 Perjalanan panjang artis sekaligus aktivis kemanusiaan Chiki Fawzi menuju Gaza kini menjadi sorotan publik. Putri dari Ikang Fawzi itu membagikan kisah mencekam selama mengikuti misi Global Sumud Flotilla 2 yang bertujuan menembus blokade Gaza lewat jalur laut.

Chiki menceritakan bahwa perjalanan tersebut tidak berlangsung singkat. Ia bahkan menghabiskan waktu hingga berbulan-bulan di laut bersama relawan dari berbagai negara. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Iya, jadi ada etape-etapenya. Keberangkatan awal itu dari Barcelona, aku di sana berlayar selama dua bulan,” ujar Chiki Fawzi saat ditemui di Tendean, Jakarta Selatan pada Selasa, 26 Mei 2026. 

Perjalanan panjang itu dimulai dari Barcelona, Spanyol, lalu singgah di Augusta, Sisilia, Italia. Namun situasi mulai memanas ketika kapal yang mereka tumpangi disebut dihadang di wilayah perairan internasional.

“Setelah berangkat dari sana, kapal kita sempat di-intersep di perairan Yunani. Ini sebenarnya sudah jelas-jelas Israel melanggar hukum internasional karena intersep dilakukan jauh di luar wilayah mereka,” katanya.

Menurut Chiki, etape terakhir perjalanan dilakukan dari Turki. Dari sana, sembilan delegasi Indonesia lainnya ikut bergabung dalam pelayaran menuju Gaza. Total terdapat 11 orang dari Indonesia yang terlibat dalam misi tersebut.

“Yang berlayar itu ada 9 orang. Ditambah aku dan koordinator kami, Uni Maimun, jadi totalnya ada 11 orang,” jelasnya.

Misi Global Sumud Flotilla sendiri disebut murni bertujuan kemanusiaan. Mereka ingin membawa bantuan sekaligus menembus blokade Gaza yang dianggap ilegal menurut hukum internasional.

“Tujuannya adalah mendobrak blokade ilegal yang dibuat Israel di sekitar Gaza,” ungkap Chiki.

Ia juga menyinggung ketimpangan yang ia lihat langsung di laut. Menurutnya, kapal-kapal pembawa alat perang bisa melintas bebas, sementara kapal bantuan kemanusiaan justru dicegat.

“Aku melihat sendiri, kapal kargo besar pembawa alat perang Israel dibiarkan bebas berlayar, sementara kapal kami yang membawa bantuan kemanusiaan justru dihadang,” tuturnya.

Saat insiden pencegatan terjadi, Chiki ternyata tidak berada di atas kapal. Ia berada di pusat krisis atau command room di Istanbul, Turki, untuk memantau situasi secara langsung melalui CCTV.

“CCTV itu kami fungsikan untuk merekam bukti-bukti kejahatan militer Israel yang nantinya kami laporkan ke ICJ dan ICC,” katanya.

Situasi semakin mencekam ketika para relawan disebut harus membuang ponsel mereka ke laut demi menghindari penyitaan data.

“Begitu kapal militer Israel mendekat sekitar 10 meter, semua ponsel relawan harus segera dilempar ke laut supaya tidak disita,” ujar Chiki.

Tak hanya itu, ia juga mengungkap dugaan penyiksaan yang dialami sejumlah relawan selama ditahan.

“Mereka dipukuli, disetrum, dan diborgol menggunakan cable ties yang sangat kencang sampai melukai tangan,” katanya.

Salah satu relawan bahkan disebut mengalami kondisi serius akibat kekerasan yang diterima.

“Ada satu jurnalis yang setelah bebas aku temani di rumah sakit, dia sampai kencing darah karena bagian ginjalnya dipukuli terus-menerus,” ungkapnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski mengalami pengalaman traumatis, Chiki mengaku tidak takut untuk kembali mengikuti misi serupa di masa depan. Baginya, perjuangan kemanusiaan untuk Palestina harus terus dilakukan.

“Kalau ada kesempatan ketiga, aku mau banget ikut lagi. Sampai Palestina merdeka, karena Palestina adalah tolok ukur kemanusiaan dunia saat ini,” tegasnya.