Dua Bulan di Laut Demi ke Gaza, Chiki Fawzi Sampai Lupa Kehidupan Normalnya

Chiki Fawzi
Chiki Fawzi

 Chiki Fawzi sedang menjadi sorotan setelah membagikan curahan hati menyentuh usai menjalani misi kemanusiaan menuju Gaza lewat jalur laut. Putri Ikang Fawzi itu mengaku pengalaman panjang selama berbulan-bulan di tengah lautan membuat dirinya sampai lupa seperti apa kehidupan normal yang biasa dijalani.

Lewat unggahan di Instagram pribadinya, Chiki menuliskan perasaan campur aduk setelah kembali dari misi Global Sumud Flotilla 2. Di tengah situasi Gaza yang kembali dibombardir, Chiki mengaku sulit menerima kenyataan bahwa kekerasan masih terus terjadi. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Saat aku kembali ke ‘normal’, sebenarnya apa itu kehidupan normal?” tulis Chiki Fawzi yang dikutip dari Instagram @chikifawzi pada Kamis, 28 Mei 2026. 

Ia juga mengungkap kesedihannya melihat kondisi Gaza yang kembali diserang saat Hari Raya Idul Adha. Bahkan, beberapa unggahan mengenai Gaza disebut sempat dihapus oleh media sosial.

“Hari ied ini, Gaza lagi-lagi dibom. Sakit sekali melihatnya,” tulisnya lagi.

Chiki mengaku selama dua bulan terakhir dirinya benar-benar mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk misi kemanusiaan tersebut. Fokusnya hanya satu, yakni membantu perjuangan kemanusiaan untuk Palestina.

“Selama dua bulan kemarin, sepenuh hati dan sepenuh jiwa menjalankan misi laut menuju Gaza. Sampai aku lupa kehidupan normalku seperti apa,” ungkapnya.

Perjalanan panjang itu dimulai dari Barcelona, Spanyol. Chiki sebelumnya juga sempat menceritakan bahwa pelayaran menuju Gaza dilakukan melalui beberapa etape dan penuh risiko.

“Iya, jadi ada etape-etapenya. Keberangkatan awal itu dari Barcelona, aku di sana berlayar selama dua bulan,” ujar Chiki saat ditemui di kawasan Tendean, Jakarta Selatan pada beberapa waktu lalu. 

Dalam pelayaran tersebut, mereka sempat singgah di Italia hingga akhirnya menghadapi situasi menegangkan ketika kapal dihadang di perairan internasional.

“Setelah berangkat dari sana, kapal kita sempat di-intersep di perairan Yunani. Ini sebenarnya sudah jelas-jelas Israel melanggar hukum internasional karena intersep dilakukan jauh di luar wilayah mereka,” katanya.

Meski penuh ancaman, Chiki justru menemukan banyak pengalaman yang menurutnya sangat berharga. Ia merasa bertemu dengan orang-orang tulus dari berbagai negara yang memiliki tujuan sama untuk membantu Palestina.

“Di sini aku bertemu banyak sekali orang yang cinta Palestina. Orang-orang hebat, tulus, berani, dan banyak yang sudah selesai dengan dirinya,” tulis Chiki.

Ia juga menyoroti solidaritas para relawan internasional yang datang dari berbagai latar belakang agama dan negara. Menurut Chiki, banyak relawan dari negara-negara Barat menggunakan privilese mereka untuk melindungi relawan lain yang berasal dari negara berkembang dan muslim.

“Teman-teman global north menggunakan white privilege mereka untuk melindungi kami yang berwarna dan muslim,” tulisnya.

Bagi Chiki, gerakan Global Sumud Flotilla bukan sekadar aksi politik, melainkan gerakan kemanusiaan yang lahir dari hati nurani.

“Ada yang bergerak karena akidah, ada yang bergerak karena kesamaan sejarah kolonialisasi, ada yang bergerak karena ingin memberi kembali, ada juga yang bergerak karena hati nurani,” lanjutnya.

Pengalaman selama misi tersebut juga membuat Chiki merasa keberanian dan ketulusan bisa menular kepada siapa saja.

“Ketulusan itu menular. Keberanian itu menular. Keteguhan itu menular,” tulisnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski menghadapi ancaman, intersep kapal, hingga cerita penyiksaan terhadap relawan lain, Chiki mengaku belum kehilangan semangat untuk terus mendukung Palestina. Bahkan ia berharap perjuangan yang dilakukan bisa menjadi amal dan bukti di akhirat kelak.

“Kami akan terus berlayar sampai Palestina merdeka. Kami akan mematahkan blokade itu, insya Allah,” tutup Chiki penuh harap.