Mengintip Kriya Kayu Rik Rok di Borobudur, Surga Suvenir Unik Berlatar Perbukitan Menoreh

Borobudur, Rik Rok, Kriya Kayu Rik Rok, Mengintip Kriya Kayu Rik Rok di Borobudur, Surga Suvenir Unik Berlatar Perbukitan Menoreh

Bangunan Kriya Kayu Rik Rok di dekat Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah mudah menarik perhatian siapa pun yang melintas.

Pasalnya selain memadukan unsur kayu dan batu bata ekspos, tempat tersebut berdiri di atas pelataran sederhana yang ditumbuhi hamparan rumput hijau.

Dari halaman depannya, perbukitan Menoreh tampak membentang di kejauhan, seolah memagari kawasan Borobudur bersama hamparan sawah dan desa-desa kecil di bawahnya.

Pemandangan itu kerap membuat wisatawan yang turun dari VW wisata, spontan berhenti untuk berswafoto.

Lokasi Kriya Kayu Rik Rok

Salah satunya Inggit Lasmi, wisatawan asal Tangerang Selatan, yang beberapa kali selfie bersama dua anak gadisnya, baik di area parkir maupun di dalam ruang kriya Rik Rok.

Inggit mengaku terkesan dengan suasana dan hasil kerajinan di tempat tersebut. Hal itu terlihat dari tas yang dijinjingnya, yang penuh berisi pensil hias, nampan kayu, dan topeng yang ia beli untuk oleh-oleh.

“Kalau datang ke Borobudur lagi, saya pasti mampir ke sini lagi. Selain pemandangannya indah, suvenirnya juga lucu-lucu,” ujarnya kepada Kompas.com, Jumat (15/5/2026).

Kriya Kayu Rik Rok yang berlokasi di Jalan Umbul Tirto No.1, Dusun Tingal Kulon, Wanurejo, Borobudur, sebenarnya telah berdiri sejak masa krisis moneter 1997.

Namun pada awal dirintis, usaha keluarga tersebut belum bergerak di bidang kriya kayu, melainkan memproduksi patung berbahan fiber.

Beralih dari fiber ke kriya kayu

Borobudur, Rik Rok, Kriya Kayu Rik Rok, Mengintip Kriya Kayu Rik Rok di Borobudur, Surga Suvenir Unik Berlatar Perbukitan Menoreh

Sriningsih tengah membuat pensil hias di Kriya Kayu RIk Rok Borobudur.

Sriningsih, salah satu pengelola Rik Rok, menuturkan bahwa usaha tersebut dirintis oleh sang kakak.

Ketika harga bahan fiber semakin mahal, keluarga mereka mulai mencari jalan lain agar usaha tetap bertahan.

“Kami beralih ke kerajinan kayu karena limbah kayu lebih mudah dan murah didapatkan,” ujar perempuan kelahiran 1975 itu kepada Kompas.com, Jumat.

Keputusan itu tidak diambil secara terburu-buru. Setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun di Pendidikan Profesi Guru (PPG) Kesenian Kaliurang, Yogyakarta, barulah mereka mantap menekuni kriya kayu.

Dari sana, Rik Rok mulai memproduksi berbagai suvenir dan kerajinan tangan seperti gantungan kunci, pensil hias, cermin kayu, hingga aneka produk kecil lainnya.

“Kami menjadi pemasok untuk Manohara Hotel, Amanjiwo, Borobudur Villa, Villa Candaka, dan beberapa hotel lain di sekitar candi,” kata Sriningsih.

Bertahan saat pandemi

Perjalanan usaha yang sempat berjalan stabil itu mendadak berubah ketika pandemi Covid-19 melanda.

Pada 2021 hingga 2022, kawasan wisata Borobudur nyaris mati suri. Wisatawan berhenti datang, dan banyak pelaku usaha wisata perlahan menutup usahanya.

Di tengah situasi tersebut, Sriningsih dan keluarganya mulai mencari cara agar usaha tetap hidup. Mereka kemudian mencoba menekuni budidaya tanaman hias.

“Mengapa tanaman hias? Karena saat pandemi banyak orang mulai beralih ke gaya hidup sehat untuk meningkatkan imun tubuh. Banyak juga yang mencari tanaman yang bisa membuat lingkungan rumah terasa lebih segar,” ujarnya.

Namun untuk memulai usaha baru itu, mereka membutuhkan tambahan modal.

Program KUR BRI

Saat itulah Sriningsih mengetahui adanya program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Menurut dia, proses pengajuan saat itu cukup sederhana. Ia hanya diminta menyerahkan KTP dan mengikuti survei usaha.

“Setelah disurvei, sekitar 10 hari kemudian pinjaman Rp 10 juta cair,” ujarnya.

Dana tersebut digunakan untuk membeli bibit dan mengembangkan tanaman hias seperti aglonema dan anthurium yang dikenal sebagai tanaman penyerap polutan udara.

Membuka wisata edukasi

Borobudur, Rik Rok, Kriya Kayu Rik Rok, Mengintip Kriya Kayu Rik Rok di Borobudur, Surga Suvenir Unik Berlatar Perbukitan Menoreh

Pemandangan di depan Kriya Kayu Rik Rok Borobudur.

Ketika pandemi mulai mereda dan wisatawan kembali datang ke Borobudur, hasil budi daya tanaman hias membantu Rik Rok menghidupkan kembali usaha kriya kayunya.

“Akhirnya semua tanaman kami jual, lalu uangnya dipakai untuk memperluas lahan. Sekarang selain menjual kerajinan kayu, kami juga punya sudut wisata edukasi dan ruang hijau untuk tamu melepas penat,” ujar Sriningsih yang sehari-hari tekun membuat aneka kerajinan seperti pensil hias dan gantungan kunci.

Di Rik Rok, wisatawan kini tidak hanya berbelanja suvenir. Mereka juga dapat mengikuti berbagai kelas wisata edukasi seperti melukis topeng, gerabah, tempat pensil, hingga menghias pensil kayu dan gantungan kunci dari limbah ramah lingkungan.

Hingga kini, Rik Rok tetap menjadi pemasok suvenir untuk hotel, vila, dan sejumlah instansi yang memesan cendera mata khusus untuk berbagai acara.

“Kalau Amanjiwo misalnya, sekali pesan bisa sampai 100 pieces berupa paket pensil hias dalam besek. Saat musim liburan seperti summer holiday, pesanan bisa meningkat dua kali lipat,” ujar Sriningsih yang kini dibantu enam karyawan tetap.

Untuk memenuhi permintaan yang kadang meningkat tajam, Rik Rok juga memberdayakan ibu-ibu kampung sekitar untuk membantu proses menghias pensil dan produk kerajinan lainnya.

“Kami juga bekerja sama dengan banyak perajin di sekitar Borobudur, seperti perajin magnet dan penjahit yang menyediakan kain perca untuk menghias pensil,” katanya.

Pada akhir pekan, ruangan wisata edukasi Rik Rok bisa dipadati ratusan wisatawan. Anak-anak tampak sibuk melukis gerabah, sementara para orangtua duduk bersantai di bawah rindangnya pepohonan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang