Atur Komunikasi saat WFH untuk Mencegah Budaya Selalu Siaga
Kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) pada hari Jumat secara nasional ditetapkan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Sistem kerja ini memunculkan ekspektasi baru dalam dinamika komunikasi.
Karena tidak berada di kantor secara fisik, banyak pegawai merasa harus terus memantau gawai atau laptop untuk memastikan mereka tidak melewatkan instruksi atasan.
Kondisi ini lambat laun menciptakan fenomena budaya selalu aktif atau always-on culture, yakni ketika batasan antara waktu dinas dan waktu istirahat menjadi sangat bias.
Terus-menerus terhubung dengan urusan kantor tanpa jeda merupakan salah satu pemicu utama kelelahan mental.
Psikolog Klinis Indopsycare Clement Eko Prasetio, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa mengambil jarak dari notifikasi pekerjaan di luar jam kerja adalah langkah penting bagi pemulihan mental pekerja.
"Penting banget untuk bisa mematikan notifikasi di luar jam kerja," tegas Clement saat dihubungi beberapa waktu lalu.
Menetapkan batasan komunikasi yang jelas saat WFH
Meski mematikan notifikasi sangat dianjurkan, langkah ini sebaiknya tidak dilakukan secara sepihak tanpa pemberitahuan.
"Saranku adalah beritahu ke rekan-rekan kerja. Kasih tahu ke mereka bahwa jangan ganggu dari jam segini sampai jam segini," tutur Clement.
Informasikan jadwal kerjamu kepada rekan satu tim, misalnya dengan memasang status khusus atau mengubah foto profil di aplikasi perpesanan, selain langsung mengabari mereka.
Ilustrasi
Menurut Clement, transparansi ini penting agar rekan kerja memahami bahwa pesan mereka mungkin akan mendapat balasan yang terlambat apabila dikirim di luar jam kerja ASN.
Kesalahan yang paling sering dilakukan pegawai saat WFH adalah tetap merespons pesan urusan kantor pada malam hari karena merasa tidak enak hati.
Padahal, tindakan merespons pesan di luar jadwal justru membentuk ekspektasi yang salah. Secara tidak sadar kita melatih rekan kerja untuk bebas menghubungi kapan saja.
"Semakin kita terus-terusan menjawab pertanyaan di luar jam yang telah kita tentukan, maka itu akan memberikan tanda kepada orang lain bahwa kita ini sebenarnya enggak punya jam kerja," papar Clement.
Sepakati definisi kondisi darurat
Dalam menerapkan batasan, berikan pemahaman tentang aturan komunikasi.
Fleksibilitas dalam WFH Jumat tetap diizinkan, asalkan kamu menentukan syarat yang spesifik, seperti batas maksimal waktu untuk dihubungi atau topik-topik tertentu yang memang mendesak.
"Berikan syarat-syarat yang jelas kepada orang lain. Boleh dihubungi di luar jam kerja, misalnya maksimal sampai jam tujuh malam, tapi dengan topik-topik ABC," sebut Clement.
Untuk menyiasati situasi yang benar-benar darurat, kamu bisa membuat kesepakatan khusus dengan tim.
Misalnya, pesan teks digunakan untuk urusan biasa yang bisa dibalas keesokan harinya, sedangkan panggilan telepon berkali-kali digunakan khusus untuk kondisi krisis.
Jika rekan kerja tetap menelepon untuk urusan yang tidak mendesak, kamu bisa menegurnya secara profesional.
"Kita bisa kasih tahu ke mereka, misalnya, 'Ini sebenarnya enggak terlalu urgent lho. Kamu enggak usah telepon-telepon saya, saya akan balas besok'," ungkap Clement.
Menghadapi atasan yang kaku
Praktik membatasi komunikasi sering kali menemui jalan buntu jika teguran atau tuntutan untuk selalu siaga datang dari atasan yang kaku.
Clement mengatakan, menghadapi pimpinan dengan pola pikir konvensional memang memerlukan pendekatan yang lebih strategis.
Jika memungkinkan, cobalah untuk berdiskusi secara personal mengenai beban kerjamu agar atasan bisa memahami situasinya.
"Kalau ada kesempatan untuk bisa bicara secara hati ke hati dengan mereka tentang harapan kita, mungkin akan lebih baik. Jadi, gunakan persuasi dan negosiasi secara halus," terang Clement.
Pentingnya regulasi emosi
Namun, jika atasan tetap tidak mau berkompromi dan terus menuntut respons cepat di luar jam kerja, kamu harus mengalihkan fokus pada manajemen stres diri sendiri.
Jangan biarkan tekanan tersebut merusak waktu istirahat sepenuhnya. Perkuat regulasi emosimu dengan cara benar-benar melepaskan diri dari urusan kantor saat akhir pekan tiba.
"Misalnya, memperbanyak strategi regulasi emosi. Saat weekend, mungkin bener-bener liburan, ambil cuti juga, olahraga lebih kuat," pungkas Clement.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang