WFH Jadi Senjata Hemat Energi saat Krisis di Depan Mata, Benarkah Kebijakan Ini Efektif?
Kebijakan work from home (WFH) kembali menjadi sorotan di tengah krisis energi global yang dipicu konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Lonjakan harga minyak dunia serta terganggunya pasokan energi membuat banyak negara mulai mencari cara cepat untuk menekan konsumsi bahan bakar, termasuk dengan membatasi mobilitas masyarakat.
Gangguan distribusi energi global, terutama di jalur strategis seperti Selat Hormuz yang menyuplai sebagian besar perdagangan minyak dunia, memicu kekhawatiran akan krisis energi berkepanjangan.
Dalam situasi ini, pemerintah dan perusahaan di berbagai negara mulai menghidupkan kembali kebijakan WFH sebagai langkah darurat untuk menghemat energi dan menjaga stabilitas ekonomi.
WFH pun didorong sebagai salah satu solusi praktis karena dapat langsung menekan konsumsi energi, khususnya dari sektor transportasi. Kebijakan ini dinilai relevan dalam kondisi darurat ketika harga energi melonjak dan pasokan tidak stabil.
Namun, seperti apa dampak WFH sebenarnya terhadap penghematan energi? Berikut informasi selengkapnya, seperti dilansir dari Science Alert, Selasa, 31 Maret 2026.
1. Penghematan energi terbesar berasal dari transportasi
Sejumlah studi menunjukkan bahwa dampak paling signifikan dari WFH adalah berkurangnya penggunaan energi di sektor transportasi. Tanpa perjalanan harian menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum, konsumsi bahan bakar menurun drastis.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah menemukan bahwa bekerja dari rumah dapat menurunkan emisi karbon hingga sekitar 29 persen, terutama bagi pekerja yang sebelumnya melakukan perjalanan jauh setiap hari. Artinya, semakin panjang jarak commuting, semakin besar potensi penghematan energi dari WFH.
2. Konsumsi energi rumah tangga justru meningkat
Di sisi lain, WFH menyebabkan peningkatan penggunaan energi di rumah. Aktivitas yang sebelumnya dilakukan di kantor kini berpindah ke lingkungan rumah tangga.
Penggunaan perangkat elektronik seperti laptop, pendingin ruangan, lampu, hingga koneksi internet meningkat selama jam kerja. Selain itu, aktivitas tambahan seperti memasak dan penggunaan peralatan rumah tangga juga ikut menyumbang konsumsi energi yang lebih tinggi.
Beberapa studi bahkan menunjukkan bahwa peningkatan energi rumah tangga dapat mengurangi sebagian manfaat penghematan dari sektor transportasi.
3. Efisiensi kantor menjadi faktor penentu
Efektivitas WFH dalam menghemat energi juga sangat bergantung pada bagaimana kantor beroperasi. Dalam skema kerja hybrid, banyak gedung perkantoran tetap beroperasi penuh meskipun jumlah karyawan yang hadir berkurang.
Jika sistem operasional gedung tidak disesuaikan, seperti pengurangan penggunaan listrik atau pendingin ruangan, maka penghematan energi dari WFH menjadi tidak optimal. Dalam kondisi tertentu, total konsumsi energi justru bisa meningkat karena energi digunakan di dua tempat sekaligus, yaitu rumah dan kantor.
4. Pola kerja menentukan hasil akhir
Riset juga menunjukkan bahwa WFH penuh waktu cenderung memberikan dampak penghematan energi yang lebih besar dibandingkan sistem hybrid. Hal ini karena pengurangan mobilitas terjadi secara konsisten dan penggunaan kantor dapat ditekan secara signifikan.
Sebaliknya, pada sistem hybrid tanpa pengelolaan energi yang baik, membuat manfaat WFH menjadi tidak maksimal. Energi tetap digunakan untuk operasional kantor, sementara konsumsi di rumah juga meningkat.
5. Perilaku individu turut berpengaruh
Selain faktor sistem kerja, perilaku individu juga menjadi penentu penting. Penggunaan pendingin ruangan sepanjang hari, perangkat elektronik yang tidak efisien, serta kebiasaan keluar rumah di luar jam kerja dapat mengurangi manfaat penghematan energi dari WFH.
Sebaliknya, penggunaan perangkat hemat energi dan pengelolaan listrik yang bijak dapat memperkuat dampak positif WFH terhadap efisiensi energi.