Studi: Menolong Sesama 2 Jam Seminggu Turunkan Risiko Pikun
Seiring bertambahnya usia, sebagian besar masyarakat hanya mengaitkan menjaga kesehatan otak dengan pemeliharaan fisik semata.
Pola makan bergizi seimbang, rutinitas olahraga yang teratur, manajemen penurunan tingkat stres, hingga pemenuhan kualitas tidur yang baik, menjadi deretan kebiasaan yang wajib dilakukan.
Namun, tahukah kamu bahwa kebaikan hati terhadap sesama juga memiliki andil yang sama besarnya bagi pelestarian ketajaman pikiran?
Membantu orang lain mencegah penurunan kognitif
Sebuah penelitian yang dipublikasi dalam jurnal Social Science & Medicine pada Oktober 2025 berhasil mengungkap kaitan erat antara interaksi sosial dengan fungsi memori.
Melansir Martha Stewart, Senin (4/5/2026), meluangkan waktu secara rutin untuk membantu orang lain di luar rumah terbukti secara nyata mampu memperlambat laju penurunan kognitif, khususnya pada kelompok usia paruh baya dan lanjut usia.
Interaksi dengan komunitas sekitar menjadi elemen penting yang tidak boleh diremehkan dalam menjaga kebugaran pikiran.
Asisten Profesor untuk Human Development and Family Sciences di University of Texas, AS, Sae Hwang Han, mengungkap, nilai dari sebuah pertolongan sering kali dipandang sebelah mata.
"Bantuan informal terkadang diasumsikan menawarkan lebih sedikit manfaat kesehatan karena kurangnya pengakuan sosial," tutur Han.
Alhasil, temuan ini merupakan sebuah kejutan yang menyenangkan lantaran bantuan informal ternyata memberikan manfaat kognitif yang sebanding dengan kesukarelaan formal.
Dampak nyata dukungan sosial
Penelitian mendalam yang digagas oleh tim ilmuwan dari University of Texas dan University of Massachusetts Boston ini mengamati rekam jejak lebih dari 30.000 orang dewasa.
Hasil analisis data menunjukkan, tingkat penurunan kognitif yang terkait dengan proses penuaan alami menurun secara drastis sebesar 15-20 persen. Angka pelambatan yang signifikan ini ditemukan pada individu yang secara resmi menjadi sukarelawan.
Menariknya, efek yang sama juga dinikmati oleh mereka yang secara teratur memberikan bantuan informal kepada tetangga sekitar, anggota keluarga, maupun teman dekat.
Bentuk pertolongan dalam kehidupan sehari-hari ini sangatlah beragam dan tidak selalu menuntut tenaga fisik yang berat.
Kamu bisa sekadar membantu mengantar kerabat ke jadwal pemeriksaan dokter, menjaga dan merawat cucu di rumah, atau membantu membersihkan halaman.
Ilustrasi membantu rekan kerja yang kena PHK
Lebih lanjut, studi ini menemukan, mendedikasikan waktu hanya dua hingga empat jam per minggu untuk membantu sesama sudah cukup untuk memberikan efek yang menguntungkan bagi otak.
"Tindakan dukungan sehari-hari, baik yang terorganisir maupun pribadi, dapat memiliki dampak kognitif yang bertahan lama," ucap Han.
"Apa yang menonjol bagi saya adalah bahwa manfaat kognitif dari membantu orang lain bukan hanya dorongan jangka pendek, tetapi kumulatif dari waktu ke waktu dengan keterlibatan yang berkelanjutan, dan manfaat ini terbukti untuk sukarelawan formal maupun bantuan informal," lanjut dia.
Bahaya mengisolasi diri di hari tua
Melihat besarnya dampak positif dari interaksi tersebut, memutus tali silaturahmi sosial justru membawa petaka bagi kesehatan saraf pada masa tua.
Data riset menunjukkan bahwa menghentikan rutinitas menolong ini akan langsung mempercepat laju kerusakan memori.
"Menarik diri sepenuhnya dari membantu dikaitkan dengan fungsi kognitif yang lebih buruk. Ini menunjukkan pentingnya menjaga orang dewasa yang lebih tua tetap terlibat dalam beberapa bentuk bantuan selama mungkin, dengan dukungan dan akomodasi yang tepat," ujar Han.
Meskipun alasan biologis mengenai bagaimana tepatnya aktivitas sukarela ini membantu memperlambat kepikunan masih belum terurai secara pasti, para peneliti memiliki teori akan hal tersebut.
Mereka berpendapat, kegiatan sukarela secara langsung akan mendorong terciptanya hubungan sosial yang erat antarmanusia.
Koneksi ini kemudian akan menawarkan ragam keuntungan psikologis, perlindungan emosional, dan stimulasi kognitif yang berkelanjutan bagi fungsi saraf di dalam otak.
Pada akhirnya, semua rangkaian manfaat tersebut bekerja sama untuk menekan dan menjauhkan rasa kesepian yang kerap menjadi musuh terbesar bagi kesehatan para lansia pada masa pensiun mereka.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang