Mengapa Kartini Begitu Peduli pada Pangan Lokal? Ini Sejarah Lengkapnya
Sosok Raden Ajeng Kartini selama ini begitu lekat dengan perjuangan emansipasi dan pendidikan perempuan.
Namun jarang sekali yang mengulas bagaimana sang pahlawan nasional ini sebenarnya memiliki kepedulian yang luar biasa besar terhadap kedaulatan pangan dan kuliner lokal.
Berdasarkan laporan mendalam dari Antara News, (21/4/24) Kartini memandang dapur bukan sekadar tempat mengolah makanan, melainkan simbol peradaban dan martabat sebuah bangsa di tengah kuatnya dominasi budaya kolonial.
Ketertarikan Kartini terhadap dunia boga tertuang dalam catatan sejarah yang menunjukkan betapa ia sangat piawai meracik bumbu-bumbu tradisional Nusantara.
Bahkan menjadikan masakan lokal sebagai alat diplomasi budaya untuk memperkenalkan kekayaan tanah air kepada rekan-rekan Belandanya.
Pilihan Kartini untuk tetap memprioritaskan bahan pangan lokal di meja makannya adalah bentuk perlawanan halus terhadap ketergantungan pada produk-produk impor yang kala itu mulai mendominasi kalangan elite.
Ia sangat sadar bahwa tanah Jawa yang subur menyediakan segala kebutuhan gizi, mulai dari hasil laut Jepara yang melimpah hingga hasil bumi dari lereng pegunungan.
Dalam ulasan "Kiprah Kartini merawat kuliner dan pangan lokal" yang diterbitkan oleh Antara News.
Ilustrasi RA Kartini.
Disebutkan bahwa warisan resep keluarga Kartini menjadi bukti otentik bagaimana ia mendokumentasikan tradisi lisan menjadi pengetahuan tertulis agar tidak hilang dimakan zaman.
sela kehidupannya yang pendek, Kartini masih sempat merekam resep masakan yang dihidangkan untuk keluarga bangsawan di lingkungan Kadipaten Jepara.
Tentu, resep masakan yang dihidangkan untuk keluarga priyayi berasal dari tangan dingin perempuan bangsawan dan dayang terbaik di zamannya. Kartini menulis resep makanan tersebut dalam aksara Jawa dengan rinci.
Kelak, oleh keturunan Kartini ternyata diketahui bukan hanya Kartini yang menulis resep masakan tersebut. Saudari Kartini yang lain juga menulis.
Rekaman tulisan mereka kemudian ditransliterasi dan diterjemahkan ke Bahasa Indonesia modern oleh sang cicit, Suryatini N. Ganis.
Buku itu diterbitkan dengan judul "Kisah & Kumpulan Resep PUTRI JEPARA Rahasia Kuliner R.A Kartini, R.A Kardinah dan R.A Roekmini", 20 tahun silam.
Suryatini menyebut menu ayam besengek, nasi liwet ayam, selat usar, dan sup pangsit Jepara sebagai menu favorit sang pahlawan nasional itu.
Kartini juga tidak hanya menulis masakan lokal yang dihidangkan keluarga bangsawan, tetapi juga resep masakan keluarga-keluarga kolonial Belanda yang sempat berjumpa dengannya.
Selat usar memadukan nuansa lokal dengan Belanda. Sementara sup pangsit memadukan bumbu lokal dengan China.
Dengan menyajikan hidangan asli daerah yang ditata dengan apik, Kartini berhasil membuktikan kepada dunia luar bahwa pangan lokal mampu berdiri sejajar, bahkan melampaui standar kuliner Barat.
Semangat Kartini dalam merawat pangan lokal ini memberikan pelajaran berharga bagi generasi masa kini bahwa mencintai produk asli Indonesia adalah bagian dari perjuangan menjaga identitas bangsa.
Kepedulian Kartini pada masa itu melampaui urusan rasa; ia memikirkan keberlangsungan hidup para petani dan nelayan lokal yang menjadi tulang punggung penyedia makanan.
Membaca sejarah lengkap kiprah kuliner Kartini mengingatkan kita bahwa ketahanan pangan yang sesungguhnya dimulai dari kebanggaan mengonsumsi apa yang ditanam dan dipanen dari bumi sendiri.
Melalui setiap piring masakan tradisional yang ia hidangkan, Kartini menitipkan pesan kuat bahwa kedaulatan bangsa dimulai dari kemandirian isi piring kita masing-masing.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang