Konsumsi Pangan Lokal Bikin Umur Lebih Panjang?

“SEMOGA panjang umur, sehat, dan bahagia.” Ungkapan ini sering terdengar pada momen ulang tahun. Kalimat yang mencerminkan harapan universal: semua orang tentu ingin hidup lama, dalam kondisi sehat, dan menikmati kebahagiaan bersama orang-orang tercinta.
Namun, apakah cukup hanya dengan harapan yang terucap itu? Tentu tidak.
Meski kita percaya bahwa ajal adalah rahasia Tuhan, bukan berarti kita hanya pasrah. Tuhan telah membekali manusia dengan akal dan kemampuan untuk berpikir dan berusaha.
Maka, menjaga kesehatan dan mengupayakan hidup yang panjang dan berkualitas menjadi impian hampir semua orang.
Film dokumenter berjudul Live to 100: Secrets of the Blue Zones di Netflix, yang dipandu oleh penjelajah dan peneliti umur panjang bernama Dan Buettner, mengungkap bahwa umur panjang bukan sekadar anugerah takdir.
Umur panjang diupayakan, bahkan direkayasa melalui pola hidup sehat.
Buettner melakukan perjalanan ke lima kawasan yang dikenal sebagai Blue Zones, yaitu wilayah di dunia yang penduduknya memiliki angka harapan hidup yang luar biasa tinggi (usia 100 tahun atau lebih) dan tingkat kesehatan optimal.
Kelima wilayah itu adalah Okinawa (Jepang), Sardinia (Italia), Loma Linda (California, AS), Nicoya (Kosta Rika), dan Ikaria (Yunani).
Salah satu benang merah yang menghubungkan kelima zona ini adalah pola konsumsi pangan lokal dan alami yang mendorong penduduknya menikmati hidup yang panjang.
Di Okinawa, masyarakatnya menjadikan ubi ungu sebagai sumber utama karbohidrat. Di Loma Linda, pola makan nabati mendominasi, dengan konsumsi tinggi sayur, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
Sementara di Nicoya, Kosta Rika, masyarakat setempat mengandalkan "The Three Sisters"—kacang, jagung, dan labu—yang sudah menjadi bagian dari tradisi pangan mereka selama lebih dari 6.000 tahun.
Selain asupan makanan, gaya hidup aktif yang alami juga memainkan peran penting. Aktifitas bertanam, berkumpul dan bergerak bersama dalam komunitas secara tidak sadar memberikan stimulus yang baik bagi ketahanan fisik.
Penduduk Blue Zones cenderung memproduksi makanannya sendiri—bertani, berkebun, dan beternak. Aktivitas fisik ini bukan hasil program olahraga khusus, melainkan bagian dari keseharian yang melekat dalam budaya mereka.
Hasilnya: tubuh tetap aktif, bugar, dan tahan penyakit tanpa harus pergi ke gym.
Inti dari rahasia mereka terletak pada sinergi antara pola pangan yang alami dan sehat, aktivitas fisik yang terintegrasi dalam kehidupan harian, serta faktor sosial dan spiritual seperti komunitas yang erat dan tujuan hidup yang jelas.
Mungkin ada yang berpikiran bahwa genetik atau wilayah menjadi faktor yang turut berkontribusi terhadap angka harapan hidup, sehingga tidak bisa diterapkan di semua tempat.
Namun dari Blue Zones, kita dapat memetik satu kesimpulan bahwa hidup panjang umur, sehat, dan bahagia bukan sekadar harapan kosong. Itu bisa diupayakan melalui rekayasa gaya hidup yang lebih selaras dengan alam dan kebutuhan tubuh manusia.
Itulah yang terjadi pada negara Singapura yang belakangan dinobatkan sebagai wilayah blue zones karena angka harapan hidup meningkat drastis.
Dengan angka harapan hidup mencapai 84,9 tahun, negara tetangga ini menempati posisi tertinggi di kawasan ASEAN dan urutan keenam secara global.
Berbeda halnya dengan wilayah lima blue zone yang berakar dari tradisi dan berlangsung secara alami, Singapura bangkit melalui rekayasa pemerintah di mana pemimpinnya yang secara sistemik menciptakan lingkungan sehat dan sejahtera.
Pada akhirnya, Dan Buettner tidak hanya mengunjungi wilayah Blue Zone, tapi berupaya menciptakan kota-kota Blue Zones.
Melalui organisasi Blue Zones LLC yang didirikannya, Buettner telah membantu lebih dari 70 kota di Amerika Serikat untuk menerapkan strategi Blue Zones.
Programnya mencakup modifikasi lingkungan, desain infrastruktur, dan kebijakan publik yang mendukung gaya hidup sehat, dengan mengadopsi prinsip-prinsip Blue Zones dalam kehidupan sehari-hari, seperti pola makan yang kaya akan sayuran dan buah-buahan, konsisten aktivitas fisik, hubungan sosial yang kuat, dan jelasnya tujuan hidup.
Bagaimana di Indonesia?
Di kawasan ASEAN, angka harapan hidup Indonesia berada di urutan ketiga dari bawah. Sementara di tingkat global, Indonesia berada di urutan ke-137 dari 223 negara.
Namun demikian, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata usia harapan hidup (UHH) penduduk di Indonesia meningkat dari yang semula 72,13 tahun pada 2023, menjadi 72,39 tahun pada 2024.
Data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih relatif tertinggal dalam hal harapan hidup dibanding mayoritas negara ASEAN.
negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand memiliki UHH lebih tinggi, mencerminkan kualitas layanan kesehatan, gizi, sanitasi, serta gaya hidup masyarakat yang lebih baik.
Padahal, jika melihat satu aspek saja, yaitu pangan, Indonesia dianugerahi dengan beragam sumber daya pangan berbasis kearifan lokal. Dan ini yang tidak dimiliki negara tetangga seperti Singapura.
Sumber daya pangan lokal ini seharusnya bisa lebih dimanfaatkan untuk menunjang kualitas hidup lebih baik.
Tentu aspek pangan tidak bisa berdiri sendiri. Sebab seperti yang disebutkan Buettner, harus ditunjang dengan aktifitas fisik, harmoni sosial, dan nilai-nilai hidup yang baik.
Namun, setidaknya hal ini perlu menjadi perhatian dari banyak pihak. Saya kira, baik dari sisi pemerintah maupun masyarakat, gerakan pangan lokal sudah ada dan terus berkembang.
Namun, yang perlu lebih didorong adalah gerakan tersebut harus terorkestrasi secara lebih baik dengan menggabungkan unsur-unsur yang menunjang kita bisa hidup lebih lama dan lebih bahagia.
Bisakah kita berinisiatif membangun blue zones di Indonesia tanpa menunggu Buettner datang?
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.