Riset MIT Sebut 12 Persen Job di Amerika Sudah Bisa Diambil Alih AI, Dampaknya Ngeri! 

Ilustrasi robot dan manusia di industri.
Ilustrasi robot dan manusia di industri.

 Artificial intelligence (AI) terus melaju lebih cepat dari yang pernah dibayangkan para ahli. Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi ini tidak hanya berkembang dalam kemampuan teknis, tetapi juga mulai masuk ke berbagai lini pekerjaan manusia. 

Sektor-sektor seperti keuangan, kesehatan, hingga teknologi kini melihat perubahan besar dalam struktur pekerjaan akibat kemampuan AI yang semakin luas. Banyak perusahaan mulai mengintegrasikan teknologi ini untuk efisiensi, sementara sebagian pekerja mulai merasakan bergesernya peran mereka.

Sebuah studi terbaru dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) memunculkan temuan penting tentang seberapa besar dampak AI terhadap pekerjaan di Amerika Serikat (AS). Bukan sekadar prediksi, penelitian ini memberikan gambaran konkret mengenai pekerjaan yang sudah bisa ditangani AI saat ini, serta bagaimana teknologi tersebut mulai memengaruhi kebutuhan tenaga kerja, cara kerja perusahaan, hingga pola rekrutmen di masa depan.

Menurut temuan MIT, AI kini telah mampu menangani pekerjaan yang setara dengan hampir 12 persen dari total tenaga kerja Amerika. Peneliti menggunakan sebuah metrik bernama Iceberg Index untuk mengukur potensi otomatisasi dari berbagai jenis pekerjaan. 

Indeks ini mengukur bagaimana sebuah pekerjaan dapat terekspos atau tumpang tindih dengan kemampuan AI, termasuk kecocokan keterampilan antara pekerja manusia dan sistem otomatis.

Ilustrasi aktivitas / bekerja.

“AI sudah memiliki kapasitas kognitif dan teknis untuk menangani berbagai tugas dalam teknologi, keuangan, layanan kesehatan dan layanan profesional,” ungkap peneliti sebagaimana dikutip dari CBS, Kamis, 27 November 2025.

Studi ini memetakan bagaimana lebih dari 150 juta pekerja di hampir 1.000 jenis profesi berinteraksi dengan kemampuan AI. Selain itu, indeks tersebut juga mengukur keterpaparan pekerja terhadap sistem AI serta bagaimana teknologi ini meniru atau melengkapi keterampilan pekerjaan mereka.

Walaupun begitu, penelitian ini tidak mencoba memperkirakan berapa banyak pekerja yang telah atau akan tergantikan oleh AI. Para peneliti menegaskan bahwa dampak teknologi ini pada tenaga kerja sangat bergantung pada strategi perusahaan, penerimaan masyarakat, serta intervensi kebijakan pemerintah.

"Sejauh mana alat-alat tersebut mengambil alih fungsi pekerjaan manusia bergantung pada sejumlah faktor, termasuk strategi masing-masing bisnis, penerimaan masyarakat dan kemungkinan intervensi kebijakan,” kata peneliti. 

Dalam riset tersebut, para peneliti juga menyoroti bahwa penggunaan AI sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar fungsi yang paling terlihat publik, seperti menulis kode atau menghasilkan teks. “Penggunaan AI melampaui beberapa aplikasinya yang paling terlihat, dan teknologi ini kini dimanfaatkan dalam berbagai industri."

Dalam pemaparan mereka, para peneliti menyebutkan bahwa perusahaan jasa keuangan telah menggunakan AI untuk pemrosesan dokumen dan dukungan analitis. Sementara itu, penyedia layanan kesehatan memanfaatkan teknologi ini untuk menangani tugas administratif agar tenaga medis bisa lebih fokus pada pasien. 

Di sektor manufaktur, AI digunakan untuk pengendalian kualitas melalui otomatisasi inspeksi, sedangkan di bidang logistik digunakan untuk menangani pemenuhan pesanan.

Tim MIT juga menganalisis ribuan kemampuan AI dan membandingkannya dengan keterampilan pekerja di berbagai jenis profesi. Mereka menemukan bahwa dalam beberapa kasus, AI mampu memperkuat kemampuan manusia, sementara di pekerjaan lain AI justru menjadi teknologi yang sangat mengubah cara kerja. 

Penelitian mencontohkan bahwa AI dapat memperlancar proses pengisian dokumen sehingga perawat dapat menghabiskan lebih banyak waktu bersama pasien. Tidak hanya itu, AI juga dapat menghasilkan kode perangkat lunak dengan cepat dan akurat, sehingga mendorong para insinyur perangkat lunak dengan keterampilan terbatas untuk mengalihkan fokus mereka.

Salah satu temuan yang cukup mencolok adalah fakta bahwa AI telah mengambil alih sebagian pekerjaan tingkat pemula yang sebelumnya diisi oleh lulusan baru atau pekerja dengan pengalaman terbatas. 

"Sistem AI kini menghasilkan lebih dari satu miliar baris kode setiap hari, mendorong perusahaan untuk merombak jalur rekrutmen dan mengurangi permintaan untuk pemrogram tingkat pemula,” ungkap peneliti.