Bukan Cuma Rebahan, Ini 5 Cara Gen Z Bisa Ubah Nasib Ekonomi
Hari Sumpah Pemuda yang baru saja diperingati beberapa waktu lalu, menjadi tonggak semangat persatuan dan kebangkitan nasional. Namun kini, di tengah tantangan ekonomi dan kesenjangan, semangat itu menemukan bentuk baru, yakni dalam gerakan pemberdayaan.
Di berbagai wilayah Indonesia, terutama di lapisan masyarakat prasejahtera, perempuan menjadi motor utama penggerak ekonomi keluarga. Banyak di antara mereka memulai usaha kecil dari nol, bermodal tekad dan dukungan lingkungan sekitar.
Di sinilah peran generasi muda, khususnya Gen Z, menjadi sangat relevan. Dalam era digital dan kolaboratif seperti sekarang, pemberdayaan bukan hanya tentang membantu secara langsung, tetapi juga menciptakan ekosistem yang berkelanjutan.
Seperti inisiatif seperti yang baru saja dilakukan PT Permodalan Nasional Madani (PNM), yang mana semangat Sumpah Pemuda dihidupkan kembali dalam bentuk keberanian untuk turun tangan memperkuat ekonomi akar rumput.
Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi, mengatakan, pentingnya keterlibatan generasi muda dalam mendampingi masyarakat. “Mereka hadir langsung di tengah masyarakat, memastikan para ibu memiliki keberanian dan kesempatan untuk naik kelas,” ujar Arief, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Kamis, 30 Oktober 2025.
Berikut lima cara Gen Z bisa berkontribusi lewat pemberdayaan ekonomi lokal:
1. Turun Langsung ke Lapangan
Salah satu kekuatan utama gerakan pemberdayaan adalah kedekatan dengan masyarakat. Seperti para Account Officer (AO) PNM Mekaar, generasi muda bisa belajar banyak dengan hadir langsung di tengah komunitas lokal.
Ilustrasi pemuda Indonesia
Pendekatan ini membuat proses pendampingan lebih personal dan efektif, terutama karena mayoritas AO merupakan perempuan muda yang dapat memahami tantangan para pelaku usaha perempuan dengan lebih empatik.
2. Gunakan Teknologi untuk Meningkatkan Akses
Gen Z dikenal sebagai generasi digital native. Kemampuan ini dapat dimanfaatkan untuk membantu pelaku usaha kecil meningkatkan akses keuangan dan pasar. Misalnya, membuat konten promosi, membantu digitalisasi pencatatan keuangan, atau mengajarkan cara menggunakan platform e-commerce. Langkah sederhana ini bisa memperluas jangkauan usaha lokal tanpa memerlukan modal besar.
3. Bangun Ekosistem Kolaboratif
PNM mencatat bahwa 51% nasabah Mekaar berada pada rentang usia 17–41 tahun. Data ini menunjukkan potensi besar generasi muda untuk saling terhubung dalam jejaring ekonomi lokal. Dengan menciptakan wadah kolaborasi, misalnya komunitas bisnis muda atau koperasi digital, Gen Z dapat memperkuat rantai nilai ekonomi sekaligus menciptakan solidaritas baru yang inklusif.
4. Kembangkan Nilai Empati dan Pemberdayaan
Pemberdayaan bukan semata soal bantuan modal, tetapi tentang menguatkan mentalitas dan kepercayaan diri masyarakat. Melalui interaksi yang hangat dan rasa saling percaya, pemuda bisa membantu perempuan prasejahtera menumbuhkan keyakinan untuk terus berusaha.
5. Terlibat dalam Program Sosial dan Edukasi
Gerakan pemberdayaan dapat dimulai dari hal sederhana, berbagi pengetahuan, pelatihan, atau menjadi relawan di program sosial. Dengan ikut serta dalam kegiatan seperti itu, Gen Z dapat memperluas dampak sosial dan belajar langsung tentang manajemen usaha, kepemimpinan, serta penguatan ekonomi keluarga.
Melalui lima langkah tersebut, generasi muda tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan ekonomi, tetapi pelaku aktif yang membawa perubahan. Sejalan dengan tema tahun 2025, “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu,” kolaborasi antara pemuda dan perempuan dalam pemberdayaan ekonomi lokal menjadi wujud baru semangat kebangsaan.