Bukan Mager atau Malas, Ini Alasan Banyak Karyawan Terasa Kehilangan Semangat

Ilustrasi Karyawan yang Sulit Tidur Karena Cemas
Ilustrasi Karyawan yang Sulit Tidur Karena Cemas

 Budaya kerja jarang benar-benar memberi ruang tumbuh bagi karyawan. Di dunia kerja saat ini, tekanan justru makin meningkat. Banyak orang harus berjibaku dengan target, tenggat waktu, dan minimnya apresiasi. Beberapa waktu terakhir, kita mengenal istilah quiet quitting semacam bentuk perlawanan diam-diam, ketika karyawan menarik batas tak kasat mata pada pekerjaannya.

Kini, muncul tren baru di tempat kerja yakni quiet cracking. Lantas apa itu quiet cracking dan tanda-tanda peringatannya yang tidak boleh diabaikan seperti dilansir dari laman Times of India Kamis 18 Desember 2025.

Quiet cracking kerap disebut sebagai salah satu tanda awal dari quiet quitting. Untuk memahaminya, kita perlu mengenal quiet quitting terlebih dahulu. Quiet quitting adalah kondisi ketika seseorang berhenti berusaha menjadi yang terbaik. Tandanya bisa berupa pulang tepat waktu, menolak lembur tanpa bayaran, dan memilih istirahat dibanding terus memaksakan diri. Singkatnya, seseorang hanya melakukan tugas minimum agar pekerjaannya tetap aman, tanpa upaya ekstra atau kerja lembur.

Sementara itu, quiet cracking adalah kondisi ketika karyawan tetap datang bekerja dan menjalankan tugasnya, tetapi diam-diam berjuang sendirian. Istilah ini diperkenalkan oleh platform pembelajaran berbasis cloud, TalentLMS. Dalam riset mereka, quiet cracking didefinisikan sebagai perasaan tidak bahagia yang terus-menerus di tempat kerja, yang berujung pada hilangnya keterlibatan, menurunnya kinerja, dan meningkatnya keinginan untuk resign.

Merasa terlepas dari pekerjaan, tapi tetap terjebak

Quiet cracking membuat karyawan merasa tidak terhubung dengan pekerjaannya, tidak puas, dan pada akhirnya bisa menurunkan produktivitas. Laporan tersebut menyebutkan bahwa 54 persen karyawan mengalami tingkat quiet cracking tertentu. Survei ini melibatkan 1.000 karyawan di Amerika Serikat pada Maret lalu. Pada dasarnya, quiet cracking dan quiet quitting adalah dua sisi dari koin yang sama. Lalu, mengapa mereka tidak langsung berhenti?

“Apa yang kami lihat belakangan ini, banyak orang sebenarnya bertahan di tempat kerja mereka saat ini, tetapi tidak benar-benar berkembang,” ujar Chief Well-Being Officer EY Americas, Frank Giampietro kepada Business Insider.

Meski tidak bahagia dengan perannya, banyak karyawan tetap bertahan karena ketidakpastian ekonomi dan kondisi pasar kerja yang menantang.

“Banyak orang merasa terjebak. Bukan karena mereka memilih untuk tetap di sana, tapi karena tidak melihat pilihan lain yang lebih baik,” tambahnya.

Tanda-tanda peringatan quiet cracking

Quiet cracking berbeda dengan burnout sesekali. Burnout biasanya datang tiba-tiba dan terasa menguras habis energi, sementara quiet cracking berkembang perlahan, seperti retakan halus yang nyaris tak terlihat.

Menurut Giampietro, quiet cracking memang mirip burnout, tetapi tidak selalu seekstrem itu. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Gejala fisik: sering merasa lelah atau sakit, lebih sering mengeluh sakit kepala.
  • Penurunan kinerja: karyawan yang sebelumnya berprestasi tidak lagi menunjukkan performa terbaik.
  • Berkurangnya optimisme.
  • Hadir secara fisik, tapi tidak lagi seantusias dulu: datang bekerja, namun tanpa semangat dan energi seperti sebelumnya.

Psikolog konseling di Rocket Health, Aseesinder Kaur Khurana mengatakan kepada Harper’s Bazaar bahwa quiet cracking adalah bentuk burnout fungsional. Kondisi ini dapat memicu masalah fisik maupun mental.

“Menekan emosi menjadi strategi bertahan hidup, tetapi dampaknya ditanggung oleh tubuh dan pikiran. Tidur jadi terganggu, fokus memudar, mudah tersinggung. Bahkan rasa bahagia perlahan menghilang. Kamu berhenti merasa benar-benar hidup,” ujarnya.

Quiet cracking bukan hanya soal kesejahteraan karyawan, tapi juga berdampak langsung pada bisnis. Ketika karyawan mulai retak, produktivitas dan kreativitas ikut menurun, dan loyalitas pun tak lagi bisa diharapkan.