Alasan Nicke Widyawati Sebut Tugas BUMN Indonesia Paling Rumit Sedunia

Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengungkap alasan mengapa tugas badan usaha milik negara (BUMN) di Indonesia dinilainya memiliki tingkat kompleksitas yang sangat tinggi, bahkan dibandingkan dengan BUMN di negara lain.
Penjelasan tersebut disampaikan Nicke saat memberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara dugaan korupsi tata kelola minyak mentah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Menurut Nicke, karakter BUMN Indonesia, khususnya Pertamina, tidak bisa disamakan dengan perusahaan pada umumnya.
Ia menilai beban tugas yang diemban BUMN mencakup berbagai peran strategis sekaligus, baik sebagai entitas bisnis maupun sebagai perpanjangan tangan negara dalam melayani masyarakat.
“Jadi, memang mungkin di seluruh dunia hanya BUMN di Indonesia yang mempunyai misi yang sangat rumit seperti ini. Tapi, ini kita jalankan,” ujar Nicke di hadapan majelis hakim.
Nicke menjelaskan, Pertamina merupakan satu-satunya perusahaan milik negara yang mengelola sektor minyak dan gas bumi secara terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir.
Menjalankan fungsi dari PSO
Eks Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan Elia Massa Manik saat menghadiri sidang lanjutan kasus korupsi tata kelola minyak mentah di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (13/11/2025)
Kondisi tersebut membuat Pertamina tidak dapat semata-mata berorientasi pada keuntungan finansial sebagaimana korporasi swasta.
“Misinya bukan hanya menjalankan misi seperti PT biasa yang mencari keuntungan. Tetapi, kita juga mengemban amanah untuk menjalankan fungsi dari public service obligation (PSO) yang menjadi kewajiban pemerintah kepada masyarakat,” katanya, dikutip , Selasa.
Selain menjalankan fungsi pelayanan publik, Pertamina juga dituntut menjadi penggerak perekonomian nasional dengan melibatkan pelaku usaha dalam negeri (lokal).
Efek ganda bagi pertumbuhan ekonomi
Peran ini diharapkan dapat menciptakan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kita juga harus kemudian menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi, sehingga harus melibatkan para perusahaan-perusahaan lokal. Karena, multiplier effect inilah yang diharapkan akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” imbuhnya.
Nicke menambahkan, dalam beberapa kondisi, Pertamina juga harus memasuki sektor-sektor usaha yang belum diminati pelaku bisnis lain, sehingga berperan sebagai perintis.
Tanggung jawab membina UMKM
Di saat yang sama, perusahaan pelat merah tersebut juga dibebani tanggung jawab untuk membina dan mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Dan, kalau kita bicara energi migas, maka satu-satunya yang dimiliki oleh pemerintah itu adalah Pertamina. Oleh karena itu, misi menjalankan ini juga menjadi mandat yang harus dijalankan,” kata Nicke.
Selain itu, dirinya juga menyoroti aspek pengawasan dan regulasi yang berlapis. Menurut Nicke, Pertamina berada di bawah pengawasan tiga kementerian sekaligus.
Pengawasan oleh 3 kementerian
Kementerian BUMN berperan sebagai pemegang saham dan pengawas fungsi korporasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengawasi aspek teknis serta pelaksanaan PSO, sementara Kementerian Keuangan berwenang terkait kebijakan subsidi dan kompensasi.
“Tentu ada tiga regulasi yang menaungi, tiga-tiga ini yang dituangkan di dalam RJPP, RKAP, visi, misi, dan juga program-program serta kebijakan-kebijakan pemerintah,” imbuhnya.
Dalam perkara ini, Nicke Widyawati sebelumnya telah beberapa kali dimintai keterangan sebagai saksi.
Pada sidang tersebut, ia memberikan kesaksian untuk enam terdakwa tambahan, sehingga total terdapat sembilan terdakwa yang diadili dalam kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang.
Para terdakwa diduga terlibat dalam sejumlah proyek, termasuk penyewaan terminal bahan bakar minyak dan kapal pengangkut minyak, yang secara akumulatif disebut telah menimbulkan kerugian keuangan negara hingga Rp 285,1 triliun.
Kesembilan terdakwa tersebut yakni:
- Beneficial Owner PT Orbit Terminal Merak, Muhamad Kerry Adrianto Riza
- Direktur Utama PT Pertamina International Shipping, Yoki Firnandi
- VP Feedstock Management PT Kilang Pertamina Internasional Agus Purwono
- Komisaris PT Navigator Khatulistiwa sekaligus Komisaris PT Jenggala Maritim Dimas Werhaspati
- Komisaris PT Jenggala Maritim dan Dirut PT Orbit Terminal Merak Gading Ramadhan Joedo
- Dirut Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan
- Direktur Feedstock dan Product Optimization PT Kilang Pertamina Internasional, Sani Dinar Saifuddin
- Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga Maya Kusmaya
- VP Trading Operations PT Pertamina Patra Niaga Edward Corne.