Bisnis Remitansi Terancam
Sebagian besar dari mereka berasal dari India, Pakistan, dan Bangladesh. Selama puluhan tahun mereka turut mendorong ledakan ekonomi negara-negara Teluk, dengan bekerja di sektor konstruksi, perhotelan, pariwisata, dan layanan kesehatan.
Uang yang mereka kirimkan ke tanah air tidak hanya menjadi sumber penghasilan penting bagi keluarga mereka, tetapi juga menjadi salah satu sumber utama pemasukan devisa bagi India, Pakistan, dan Bangladesh.
Remitansi berfungsi sebagai bantalan finansial bagi perekonomian negara-negara tersebut serta membantu menutup defisit perdagangan, seperti dikutip dari situs DW, Selasa, 31 Maret 2026.
Dengan infrastruktur energi yang menjadi sasaran serangan serta jalur transit minyak dan gas yang terhambat di Selat Hormuz, kombinasi harga energi yang tinggi dalam waktu lama dan penurunan remitansi dapat menjadi ancaman ganda bagi ekonomi negara-negara berkembang tersebut.
India merupakan penerima remitansi terbesar di dunia, dengan aliran dana mencapai rekor US$135 miliar (Rp2.100 triliun) pada 2025, menurut data pemerintah. Pada tahun sebelumnya, India menerima hampir US$40 miliar remitansi dari negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) saja, atau sekitar 38 persen dari total arus masuk remitansi.
Dana miliaran dolar AS itu membantu membiayai sebagian besar defisit perdagangan barang India, menurut data tersebut. India juga menjadi sumber pekerja asing terbesar di kawasan Teluk, dengan lebih dari 9 juta warga India tinggal dan bekerja di sana.
Bangladesh dan Pakistan menyusul, masing-masing mengirim sekitar 5 juta pekerja ke negara-negara GCC. Para pekerja ini menyumbang sebagian besar dari US$30 miliar remitansi Bangladesh dan US$38 miliar remitansi Pakistan tahun lalu.
Perang tersebut juga meningkatkan risiko bagi warga sipil di seluruh kawasan GCC, termasuk pekerja migran. Di seluruh wilayah itu, setidaknya 11 warga sipil tewas dan lebih dari 260 orang terluka, sebagian akibat puing-puing yang jatuh, menurut siaran pers Human Rights Watch (HRW) pada 17 Maret 2026.
“Warga sipil, terutama pekerja migran di negara-negara Teluk, terancam, terbunuh, dan terluka akibat drone dan rudal Iran,” kata Joey Shea, peneliti senior HRW untuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Setidaknya, tiga pekerja Pakistan tewas di Uni Emirat Arab (UEA), termasuk seorang pria yang terkena puing-puing dari serangan drone. Meski menghadapi bahaya, sebagian besar ekspatriat Asia Selatan di Teluk tampaknya tetap bertahan, tanpa laporan adanya eksodus massal.
“Kelangsungan ekonomi lebih penting daripada risiko yang dirasakan bagi sebagian besar pekerja,” kata Harsh Pant, kepala program studi strategis di Observer Research Foundation (ORF), lembaga pemikir di New Delhi, kepada DW.
Menurutnya, sebagian besar pekerja India di Teluk menilai situasi saat ini sebagai “sementara dan masih dapat dikelola kecuali terjadi eskalasi dramatis.” Namun, bahkan jika para pekerja tetap tinggal, risiko jangka panjangnya adalah pekerjaan mereka mungkin tidak bertahan, terutama jika perang berlangsung berbulan-bulan.
Guncangan paling cepat sejauh ini dirasakan di sektor yang banyak mempekerjakan migran seperti penerbangan dan pariwisata. Meski demikian, selain beberapa gangguan dalam sistem pembayaran akibat lonjakan transfer karena kepanikan, perang sejauh ini belum berdampak pada arus remitansi.
Analis ORF, Pant, mengatakan bahwa bagi India, beberapa perkiraan menunjukkan penurunan remitansi dari Teluk sebesar 10-20 persen dapat berarti kehilangan US$5 miliar hingga 10 miliar per tahun.
Jika perang hanya berlangsung beberapa minggu, ekonomi negara-negara Teluk diperkirakan mengalami penurunan PDB sekitar 1-2 persen, yang berarti remitansi turun sekitar 5 persen, menurut perkiraan Capital Economics, lembaga analisis berbasis di London, Inggris.
Namun, jika konflik berlangsung tiga bulan atau lebih dan merusak infrastruktur energi kawasan secara signifikan, laporan tersebut memperingatkan bahwa PDB negara-negara Teluk bisa turun 10-15 persen dan remitansi sekitar 30 persen.
Untuk saat ini, ancaman ekonomi utama dari perang Iran bagi negara-negara tersebut justru berasal dari gangguan pengiriman minyak Bumi, LNG atau gas alam, dan pupuk melalui Selat Hormuz. Namun, jika penurunan remitansi berlangsung lama, tekanan ekonomi di Asia Selatan bisa semakin dalam.