Dinkes Jabar Kejar Imunisasi Campak 102.000 Anak Usai Dokter Muda Cianjur Meninggal
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Vini Adiani Dewi memastikan pihaknya telah menindaklanjuti instruksi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terkait kasus meninggalnya seorang dokter muda berinisial AMW (26) di Kabupaten Cianjur yang diduga akibat campak.
Kasus ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena berpotensi menandakan peningkatan penyebaran penyakit di sejumlah wilayah.
Vini menyampaikan bahwa Dinas Kesehatan Jawa Barat telah mengumpulkan seluruh kepala dinas kesehatan kabupaten dan kota untuk melakukan pemetaan kasus serta menentukan langkah penanganan yang tepat.
"Kemarin sudah rapat dengan semua kepala dinas kesehatan, saya menyampaikan bahwa harus cepat dilakukan pemetaan, jadi ketika kasusnya meningkat, harus langsung dilakukan CUC bagi orang-orang yang belum diimunisasi campak. Tapi kalau kasusnya banyak itu dilakukan namanya ORI (Outbreak Response Immunization)," katanya di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (30/3/2026).
Mengapa pemetaan kasus campak menjadi penting?
RSHS dan Dinkes Jabar menjelaskan persiapan arus mudik di RSHS Bandung, Senin (16/3/2026)
Menurut Vini, pemetaan kasus menjadi langkah awal yang krusial untuk menentukan strategi penanganan.
Dengan mengetahui wilayah yang mengalami peningkatan kasus, pemerintah dapat segera melakukan intervensi berupa imunisasi tambahan.
Pendekatan yang dilakukan meliputi:
- CUC (Catch Up Campaign) bagi individu yang belum mendapatkan imunisasi
- ORI (Outbreak Response Immunization) jika terjadi lonjakan kasus dalam jumlah besar
Langkah ini diharapkan mampu menekan penyebaran campak secara cepat dan terarah.
Wilayah mana saja yang menjadi fokus penanganan?
Saat ini, Dinas Kesehatan Jawa Barat memfokuskan penanganan di Kabupaten Garut dan Tasikmalaya. Kedua wilayah tersebut tercatat mengalami peningkatan kasus campak yang cukup signifikan.
Sementara itu, di daerah lain kondisi dinilai relatif lebih terkendali, meskipun tetap dilakukan pemantauan dan intervensi sesuai kebutuhan di tingkat kecamatan.
Penanganan juga dilakukan di Kabupaten Cianjur sebagai lokasi kasus meninggalnya dokter muda tersebut.
Bagaimana strategi imunisasi yang dilakukan?
Program imunisasi menjadi langkah utama dalam penanganan campak. Vini menjelaskan bahwa imunisasi akan dilakukan berdasarkan temuan kasus di masing-masing wilayah.
Selain itu, program imunisasi akan diperluas ke 10 kabupaten dan kota lain di Jawa Barat sebagai langkah pencegahan.
Ia juga mengingatkan bahwa imunisasi massal campak terakhir dilakukan pada 2022. Setelah itu, vaksinasi rutin tetap berjalan setiap tahun dengan sasaran balita hingga anak usia di bawah 14 tahun.
Berapa jumlah anak yang belum diimunisasi?
Dinas Kesehatan Jawa Barat mencatat masih terdapat sekitar 102.000 anak yang belum mendapatkan imunisasi campak secara lengkap hingga 2025.
"Yang belum akan kita kejar imunisasinya karena sekitar 102.000 anak, data hingga 2025, yang belum diimunisasi secara lengkap. Untuk orang dewasa diharapkan secara mandiri," ujar Vini.
Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor yang memicu peningkatan kasus di beberapa wilayah.
Apa imbauan kepada masyarakat?
Vini mengimbau masyarakat untuk tidak menolak imunisasi, karena vaksinasi merupakan langkah penting dalam mencegah penyebaran campak dan menghindari kejadian luar biasa (KLB).
Rendahnya cakupan imunisasi di beberapa daerah, seperti Garut dan Tasikmalaya, disebut menjadi penyebab meningkatnya kasus.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga menegaskan pentingnya penanganan cepat agar penyakit tidak meluas.
"Saya sampaikan duka mendalam, itu pengabdian tertinggi dari seorang dokter, meninggal di tempat ketika sedang bertugas," ujar Dedi.
Ia juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit campak.
"Penyakitnya harus segera ditangani dan diawaspadai, apalagi bupatinya seorang dokter," kata Dedi.
Dedi menegaskan bahwa penanganan penyakit harus menjadi prioritas utama pemerintah.
"Tetapi penyakitnya harus ditanganin," pungkasnya.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang