Belajar dari Kematian Dokter Muda Suspek Campak di Cianjur, Ini Cara Mencegah Campak

campak, Kemenkes, Belajar dari Kematian Dokter Muda Suspek Campak di Cianjur, Ini Cara Mencegah Campak, Lengkapi imunisasi campak, Kenali cara penularan, Kenali gejala sejak dini, Waspadai faktor risiko, Konsumsi vitamin dan makanan bergizi, Terapkan PHBS, Gunakan masker dan batasi kontak

Kasus meninggalnya seorang dokter di Cianjur yang diduga terkait campak menjadi pengingat bahwa penyakit ini tidak boleh dianggap sepele.

Selain mudah menular, campak juga dapat menyebabkan komplikasi serius hingga berujung fatal jika tidak ditangani dengan tepat.

Biro Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan, campak adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus dan termasuk penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).

Meski sering dianggap sebagai penyakit ringan dengan gejala ruam dan demam, campak dapat menimbulkan komplikasi berat seperti pneumonia, diare, hingga radang otak (ensefalitis) yang berisiko menyebabkan kecacatan bahkan kematian.

“Vaksinasi merupakan perlindungan paling efektif untuk mencegah gejala berat dan kematian akibat penyakit campak,” bunyi keterangan Kemenkes yang diterima Kompas.com, Jumat (27/3/2026). 

Lantas, bagaimana cara untuk mencegah campak?

Lengkapi imunisasi campak

langkah utama untuk mencegah campak adalah dengan melengkapi imunisasi.

Kemenkes menyebut kekebalan terhadap campak dapat diperoleh melalui vaksinasi, infeksi alami, maupun kekebalan pasif dari ibu pada bayi (yang umumnya bertahan hingga usia tertentu).

Karena itu, kelompok yang rentan antara lain bayi di atas usia 1 tahun yang belum diimunisasi, anak-anak, hingga remaja dan dewasa yang belum mendapatkan vaksin lengkap.

Vaksin campak membantu tubuh membentuk kekebalan sehingga dapat mencegah infeksi atau mengurangi tingkat keparahan gejala.

Kenali cara penularan

Dilansir dari laman Kemenkes (8/7/2024), campak termasuk penyakit yang sangat mudah menular. Virus dapat menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin.

Selain itu, penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita maupun benda yang terkontaminasi virus.

Virus campak bahkan dapat bertahan di permukaan benda selama beberapa jam, sehingga risiko penularan tetap ada jika seseorang menyentuh benda tersebut lalu menyentuh hidung atau mulut.

Kemenkes menambahkan, penularan dapat terjadi sejak sebelum gejala muncul hingga beberapa hari setelah ruam terlihat.

Kenali gejala sejak dini

Gejala campak umumnya diawali dengan demam tinggi yang disertai batuk, pilek, sakit tenggorokan, serta mata merah dan sensitif terhadap cahaya.

Penderita juga dapat mengalami lemas, tidak nafsu makan, hingga diare atau muntah.

Beberapa hari kemudian, muncul bercak merah (ruam) yang dimulai dari wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh. Pada sebagian kasus, muncul bercak putih keabu-abuan di mulut.

Jika kondisi memburuk, seperti muncul sesak napas, penderita perlu segera mendapatkan penanganan medis karena bisa menjadi tanda komplikasi.

Waspadai faktor risiko

Kemenkes mencatat beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang tertular campak, antara lain:

  • Belum mendapatkan imunisasi,
  • Tinggal di lingkungan padat penduduk,
  • Kekurangan vitamin A,
  • Tidak mendapatkan ASI eksklusif (pada bayi),
  • Serta bepergian ke wilayah dengan kasus campak tinggi.

Konsumsi vitamin dan makanan bergizi

Dalam penanganan kasus campak, tenaga kesehatan dapat memberikan vitamin A untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan menurunkan risiko komplikasi.

Selain itu, masyarakat dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, cukup istirahat, dan menjaga kondisi tubuh agar tetap optimal.

Terapkan PHBS

Pencegahan campak juga dapat dilakukan dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain rajin mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, serta rutin membersihkan dan mendisinfeksi permukaan benda di rumah.

Gunakan masker dan batasi kontak

Masyarakat yang sedang sakit disarankan menggunakan masker dan menghindari kontak dengan orang lain untuk mencegah penularan.

Selain itu, penting untuk menerapkan etika batuk dan bersin serta mengurangi aktivitas di luar rumah saat kondisi tubuh tidak sehat.

Kasus di Cianjur tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pencegahan campak perlu dilakukan secara serius, termasuk melalui imunisasi dan penerapan perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang