Gelar Piala Afrika 2025 Dialihkan ke Maroko, Senegal Ajukan Banding ke CAS
Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) mengambil langkah lanjutan setelah gelar Piala Afrika 2025 dialihkan ke Maroko.
Senegal mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) sebagai respons atas keputusan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF).
Keputusan CAF sebelumnya mencabut gelar juara dari Senegal dan menyerahkannya kepada Maroko.
Langkah ini diambil setelah Dewan Banding CAF menilai aksi walk-out pemain Senegal pada laga final sebagai pelanggaran aturan.
Akibatnya, kemenangan 1-0 Senegal dibatalkan dan diubah menjadi kekalahan 0-3.
Gelar juara pun resmi berpindah ke Maroko. Tidak menerima hasil tersebut, FSF segera mengajukan banding demi memperjuangkan keputusan baru.
Proses Banding Mulai Berjalan
CAS telah menerima pengajuan banding dari Senegal dan memulai proses formal. Lembaga ini akan menangani sengketa tersebut dengan melibatkan arbiter independen.
Direktur Jenderal CAS, Matthieu Reeb, memastikan kesiapan pihaknya dalam menangani kasus ini.
"CAS sangat siap untuk menyelesaikan jenis sengketa ini, dengan bantuan arbiter ahli dan independen," ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa proses akan berjalan secepat mungkin.
Para pemain Senegal dan Maroko berhadapan dalam sebuah insiden di laga final Piala Afrika 2025. Pertandingan Senegal vs Maroko berlangsung di Stadion Prince Moulay Abdallah, Rabat, pada Senin (19/1/2026) dini hari WIB.
"Kami memahami bahwa tim dan penggemar ingin mengetahui keputusan akhir (terkait gelar juara Piala Afrika 2025)."
"Kami akan memastikan bahwa proses arbitrase dilakukan secepat mungkin, sambil menghormati hak semua pihak untuk mendapatkan sidang yang adil," lanjutnya.
Meski begitu, proses hukum tetap membutuhkan waktu. Mantan Kepala Panel Disiplin CAF, Raymond Hack, menyebut kemungkinan durasi penyelesaian bisa mencapai enam bulan.
Dampak bagi Senegal dan Maroko
Sengketa ini memberi dampak langsung bagi kedua tim. Senegal kehilangan status juara dan gagal menambah koleksi gelar Piala Afrika.
Selain itu, posisi mereka di ranking FIFA ikut turun ke peringkat 14.
Di sisi lain, Maroko mendapat keuntungan dari keputusan tersebut. Tambahan poin membuat mereka naik ke posisi kedelapan ranking FIFA.
Proses arbitrase diperkirakan masih berjalan saat kedua tim bersiap tampil di Piala Dunia 2026.
Situasi ini membuat perhatian publik tertuju pada hasil akhir dari CAS, sambil kedua tim tetap menjalani agenda kompetisi internasional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang