AFC Minta Kejelasan CAS Soal Status Pemain Naturalisasi Bodong Malaysia Saat Proses Banding Berlangsung
Asian Football Confederation (AFC) meminta kejelasan hukum kepada Court of Arbitration for Sport (CAS) terkait status tujuh pemain naturalisasi bodong timnas Malaysia yang tetap tampil dalam kompetisi saat menjalani proses banding sanksi disiplin.
Permintaan tersebut diajukan menjelang keputusan CAS yang dijadwalkan pada 25 Februari. AFC menilai terdapat risiko hukum dan kompetisi jika ketujuh pemain bersangkutan bisa merumput selama masa penangguhan sanksi sebelum putusan final keluar.
Ketujuh pemain naturalisasi bodong yang bermasalah adalah Facundo Garces, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, Joao Figueiredo, Gabriel Palmero, Jon Irazabal, dan Hector Hevel.
Sekretaris Jenderal AFC Windsor Paul menegaskan kekhawatiran utama berada pada periode kini ketika pemain diizinkan tampil setelah mendapatkan penangguhan hukuman dari CAS.
“Ada risiko signifikan ketika pemain terus bermain di bawah bayang-bayang sanksi disiplin,” kata Windsor seperti dikutip dari media Malaysia, The Star.
“Seorang pemain mungkin diizinkan bermain sementara, tetapi putusan akhir bisa mengubah situasi secara drastis.”
Risiko Kompetisi Jika Putusan Banding Negatif
Windsor menjelaskan, jika pemain kalah dalam banding setelah sempat bermain selama periode interim, penyelenggara kompetisi bisa menghadapi persoalan serius.
“Jika seorang pemain kalah dalam kasus setelah sempat bermain pada periode interim, hal itu menciptakan masalah praktis bagi penyelenggara,” ujarnya.
Menurut Windsor, sejumlah pertanyaan penting muncul, termasuk apakah hasil pertandingan tetap sah dan bagaimana dampaknya terhadap klasemen liga maupun integritas kompetisi apabila mereka akhirnya dinyatakan tetap bersalah.
“Periode ketidakpastian ini tidak bisa dihindari ketika penangguhan sanksi diberikan,” katanya.
Striker naturalisasi timnas Malaysia, Joao Figueiredo. Pemain Johor Darul Tazim tersebut merupakan salah satu pemain yang terlibat dalam skandal naturalisasi Malaysia pada 2025.
“Tanggung jawab selalu ada pada klub dan pemain. Penyelenggara tidak mengambil risiko.”
Ia menegaskan klub harus siap menanggung konsekuensi jika tetap memainkan pemain selama masa penangguhan.
"Klub-klub harus siap menerima konsekuensi jika sanksi kemudian diberlakukan kembali apabila memainkan para pemain tersebut selama masa penangguhan,” tuturnya.
AFC Tidak Akan Buat Aturan Khusus
Windsor juga memastikan badan tertinggi sepak bola Asia tersebut tidak akan membuat aturan khusus untuk melindungi klub dari risiko tersebut.
“Kami akan mengikuti regulasi yang ditetapkan AFC dan FIFA. Tidak akan ada aturan terpisah untuk melindungi klub dari risiko ini,” ujarnya.
Untuk mencegah ketidakpastian berlarut, AFC secara resmi meminta CAS memberi kejelasan pada dua aspek utama: konsekuensi pertandingan selama masa penangguhan dan kemungkinan dispensasi khusus untuk menjaga stabilitas kompetisi hingga sidang final.
“Sampai kami mendapat jawaban tersebut, risiko sepenuhnya berada pada peserta kompetisi,” kata Windsor.
Raksasa Liga Malaysia, Johor Darul Ta'zim, memiliki tiga pemain dalam daftar tersebut, yakni Joao Figueiredo, Hector Hevel, dan Jon Irazabal.
Ketiganya saat ini masih dapat tampil di AFC Champions League Elite dan ASEAN Club Championship sambil menunggu keputusan akhir banding.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang