Filosofi Ketupat, Mengapa Identik dengan Lebaran dan Apa Saja Jenisnya?

Indonesia dikenal sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang memiliki kekayaan tradisi luar biasa. Salah satu identitas budaya yang paling menonjol adalah tradisi makan ketupat saat Hari Raya Idul Fitri.
Ketupat merupakan hidangan berbahan dasar beras yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda atau janur berbentuk belah ketupat.
Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, menjadikan ketupat sebagai elemen sentral dalam budaya kulinernya. Meski kini dapat ditemui di berbagai kesempatan, ketupat tetap memegang peranan penting dalam merepresentasikan identitas bangsa di 33 provinsi dari Sabang sampai Merauke.
Sejarah dan Filosofi: 'Ngaku Lepat' hingga 'Laku Papat'
Berdasarkan Journal of Ethnic Foods, ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo yang sangat berpengaruh dalam penyebaran Islam di Jawa pada abad ke-15 hingga ke-16.
Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu dari sembilan wali (Wali Songo) pada abad ke-15 hingga ke-16 di wilayah Demak, Jawa Tengah.
Sunan Kalijaga mengembangkan dua tradisi utama, yaitu Bakda Lebaran (dirayakan pada hari pertama Idul Fitri) dan Bakda Kupat (dirayakan seminggu setelah Lebaran).
Pada momen Bakda Kupat, hampir setiap rumah tangga sibuk menganyam janur dan menyajikannya sebagai simbol kebersamaan.
Secara etimologi, ketupat atau kupat dalam budaya Jawa dan Sunda memiliki makna yang mendalam:
- Ngaku Lepat: Mengakui kesalahan dan meminta maaf.
- Laku Papat: Empat tindakan yaitu Lebaran (pintu maaf terbuka lebar), Luberan (melimpah/berbagi sedekah), Leburan (saling menghapus dosa), dan Laburan (menjaga kemurnian diri).
- Jatining Nur: Berasal dari kata "Janur" yang berarti cahaya sejati atau hati nurani yang bersih.
Secara visual, kerumitan anyaman ketupat melambangkan kesalahan manusia, sedangkan nasi putih di dalamnya mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah sebulan penuh berpuasa.
Ragam Ketupat di Berbagai Penjuru Nusantara
Ilustrasi ketupat. Resep Ketupat Simpel Masak Cuma 40 Menit, Hemat Gas dan Tetap Pulen.
Setiap daerah di Indonesia memiliki kreativitas unik dalam mengolah dan menyajikan ketupat. Berikut adalah ragam ketupat di berbagai wilayah:1. Tradisi Ketupat di Pulau Jawa
Di Jawa Tengah, terdapat Ketupat Sumpil yang berbentuk segitiga unik, mirip dengan bentuk hewan siput sungai yang disebut "Sumpil".
Di Jawa Barat, masyarakat Sunda mengenal Kupat Tahu sebagai menu sarapan populer yang disajikan dengan tahu goreng, tauge, dan saus kacang segar.
Sementara itu di Jawa Timur, tepatnya di Malang, terdapat Orem-orem yang menggunakan ketupat raksasa (lima kali lebih besar dari ukuran biasa) dan disajikan dengan kuah santan serta irisan tempe.
2. Ketupat di Sumatera: Kekayaan Beras Ketan
Berbeda dengan di Jawa, masyarakat Sumatera sering menggunakan beras ketan (sticky rice) untuk membuat ketupat. Beberapa variasi terkenalnya antara lain Ketupat Bareh dari Minang, Katan Kapau, dan Sipulut (yang menggunakan ketan hitam).
Ketupat jenis ini biasanya dimasak dengan santan berbumbu untuk memberikan rasa gurih yang kuat, sering kali disantap sebagai pendamping rendang.
3. Ketupat Kandangan dari Kalimantan
Banjarmasin, Kalimantan Selatan, memiliki ikon kuliner bernama Ketupat Kandangan. Keunikannya terletak pada penggunaan beras jenis pera (berkadar amilosa tinggi) yang teksturnya tidak lengket dan mudah terurai.
Ketupat ini wajib disajikan dengan ikan gabus atau ikan haruan yang dimasak kuah santan khas Banjar.
4. Tradisi Tipat di Bali
Meskipun mayoritas masyarakat Bali beragama Hindu, mereka memiliki tradisi tipat (sebutan lokal untuk ketupat). Tipat sering digunakan dalam ritual keagamaan seperti hari Kajeng Kliwon.
Secara bentuk, tipat bali cenderung menggunakan anyaman persegi (kotak) dan dikonsumsi harian bersama sate lilit atau ayam betutu.
Secara teknis, membuat ketupat membutuhkan keahlian khusus dalam menganyam Janur (daun kelapa muda). Dipilih daun muda karena sifatnya yang lentur dan tidak mudah pecah saat dibentuk.
Nama janur sendiri diartikan sebagai “Jatining Nur” yang berarti cahaya sejati.
Proses perebusan ketupat dilakukan dalam air mendidih selama kurang lebih 5 jam. Untuk mendapatkan tekstur yang pas, anyaman harus diisi beras sebanyak 1/3 hingga 2/3 bagian. Penggunaan jenis beras sangat menentukan tekstur akhir; beras dengan kandungan amilopektin tinggi (ketan) akan menghasilkan ketupat yang lebih kenyal dibandingkan beras biasa.
Kini, ketupat tidak hanya menjadi simbol nasional Indonesia, tetapi juga telah diadopsi oleh negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei, hingga Filipina sebagai simbol kemeriahan Idul Fitri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang