Koki Restoran Nomor 1 Dunia Mundur Usai Dituduh Melecehkan Staf
Koki ternama sekaligus pendiri restoran Noma, Rene Redzepi, mengundurkan diri usai dilaporkan atas tuduhan perundungan dan melecehkan puluhan karyawan.
"Setelah lebih dari dua dekade membangun dan memimpin restoran ini, saya memutuskan untuk menjauh dan membiarkan para pemimpin saat ini untuk membimbing restoran ini ke bab berikutnya."
Demikian pernyataan Redzepi yang diunggah melalui Instagram pribadi @reneredzepinoma pada Kamis (12/3/2026) lalu.
Makanan di Noma Restaurant atau restoran Noma.
Selama ini, Redzepi dikenal sebagai salah satu koki paling berpengaruh di dunia dan termasuk pelopor kuliner Nordik baru.
Noma Restaurant yang didirikan oleh Redzepi pada 2003 ini pernah menyabet gelar restoran terbaik nomor satu di dunia dalam daftar "The World's 50 Best Restaurant".
Noma dinobatkan sebagai restoran terbaik di dunia dalam daftar 50 Restoran Terbaik di Dunia sebanyak lima kali pada 2010, 2011, 2012, 2013, 2014, dan 2021.
Bersama Claus Meyer, restoran milik Redzepi berbasis di Kopenhagen ini juga meraih bintang tiga Michelin, yang membuat namanya kian dikenal dunia.
Dilaporkan staf restoran
Pengunduran diri koki pemilik restoran Noma merupakan buntut dari laporan para mantan karyawannya berupa dugaan pelecehan verbal dan fisik selama beberapa dekade, seperti dikutip BBC pada Minggu (15/3/2026).
Sebuah laporan terbaru di New York Times menyebutkan bahwa puluhan mantan karyawan menuduh koki tersebut menciptakan budaya yang kasar di dapur dan lingkungan kerja yang tidak sehat.
Mencakup ancaman verbal dan perlakuan fisik di restoran yang dialami oleh sedikitnya 35 orang karyawan.
Para mantan karyawan restoran Noma mengalami trauma berkepanjangan akibat berbagai pelecehan psikologis, termasuk intimidasi, penghinaan fisik, dan ejekan di depan umum, yang dilakukan oleh Redzepi.
Koki tersebut bahkan mengancam akan membuat karyawan masuk daftar hitam (blacklist) di industri kuliner, mendeportasi keluarga mereka, dan memecat anggota keluarganya dari pekerjaan di bisnis lain, seperti dikutip Guardian.
"Sejujurnya, saya pikir dampak dari tetap diam akan lebih buruk daripada jika saya berbicara dan berdiri bersama rekan-rekan saya melawan kekerasan," kata Jason Ignacio White, mantan karyawan Noma.
White mengatakan bahwa ia menyaksikan pelecehan yang meluas selama bertahun-tahun saat dirinya masih bekerja untuk koki selebriti tersebut.
Klip dari sebuah film dokumenter tahun 2014 yang menunjukkan Redzepi mempermalukan staf di dapurnya di Kopenhagen, Denmark, kembali muncul di media sosial.
Dalam beberapa klip, ia terlihat melontarkan kata-kata kasar, menaruh tangannya di depan wajah orang, mendorong seorang koki wanita, dan mengacungkan jari tengahnya ke arah seorang pria muda, seperti dikutip New York Post.
Restrukturisasi organisasi
Meski pengakuannya telah diunggah melalui media sosial pribadi Redzepi, protes di sekitar lokasi restoran Noma di kawasan Silver Lake, tetap terjadi.
Protes yang dilakukan oleh sejumlah mantan karyawan Noma ini menyerukan hak upah dan pengunduran diri Redzepi secara resmi.
Noma Restaurant atau restoran Noma.
"Siapa yang mau makan makanan yang berasal dari air mata dan keringat orang-orang yang menderita?," kata Saru Jayaraman, anggota One Fair Wage, organisasi nirlaba di Amerika Serikat yang memperjuangkan upah minimum penuh.
American Express dan Blackbird, sebuah perusahaan perhotelan, akhirnya memutuskan hubungan dengan Noma menjelang acara pop-up restoran di Los Angeles, Amerika Serikat, selama 16 minggu.
Reservasi untuk pop-up restoran tersebut berharga senilai 1.500 dolar AS atau sekitar Rp 25,5 jutaan per orang dan terjual habis hanya dalam hitungan menit.
Lebih lanjut, pernyataan resmi dari Noma pada Rabu (11/3/2026) mengumumkan bahwa mereka tengah melakukan audit independen untuk memastikan standar tetap tinggi dan tempat kerja dinilai aman.
Rencana tersebut juga menguraikan restrukturisasi organisasi yang mencakup pengenalan tim SDM, sistem kerja empat hari, dana pensiun untuk karyawan, tunjangan staf, sampai pelatihan kepemimpinan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang