Samir Nasri Mundur dari Siaran Final Liga Champions usai Ibunya Dihina Fans PSG

Samir Nasri
Samir Nasri

 Mantan bintang Arsenal FC, Samir Nasri, memutuskan mundur dari tugasnya sebagai pundit pinggir lapangan untuk final Liga Champions antara Paris Saint-Germain melawan Arsenal di Budapest.

Keputusan tersebut diambil Nasri setelah dirinya mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari ultras PSG saat laga semifinal melawan FC Bayern Munich di Allianz Arena.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut laporan Le Parisien, stasiun televisi Canal+ awalnya memasukkan nama Nasri dalam daftar tim peliput untuk final Liga Champions. Namun, daftar terbaru yang dikirim ke UEFA ternyata sudah tidak lagi mencantumkan nama mantan gelandang Timnas Prancis tersebut.

Final Liga Champions musim ini memang mempertemukan dua juara liga domestik. PSG datang dengan status juara bertahan Eropa setelah menyingkirkan Bayern Munich lewat agregat dramatis 6-5. Sementara Arsenal lolos usai mengalahkan Atlético de Madrid dengan agregat 2-1.

Nasri memilih menepi demi menghindari kembali mendapat tekanan dan hinaan dari suporter PSG seperti yang terjadi di semifinal.

Permusuhan terhadap Nasri disebut tak lepas dari masa lalunya bersama Olympique de Marseille, rival abadi PSG di Prancis. Sebelum bersinar di Premier League, Nasri memang sempat mencatatkan 166 penampilan bersama Marseille.

Saat siaran langsung semifinal di Munich, para ultras PSG terus melontarkan ejekan kepada Nasri. Situasi terasa kontras karena mantan winger PSG, David Ginola, justru mendapat sambutan hangat dari suporter.

Nasri akhirnya buka suara soal kejadian tersebut.

"Ya, itu benar. Tapi sebagai mantan pemain Marseille, dihina fans Paris adalah bagian dari permainan. Meski menurut saya mereka seharusnya punya hal lain untuk dilakukan, seperti merayakan kelolosan ke final," ujar Nasri kepada L’Equipe.

Namun ada satu hal yang benar-benar membuatnya kecewa.

"Yang mengganggu saya adalah mereka menghina ibu saya... Tapi itu bukan alasan saya tidak pergi ke Budapest untuk final."

Nasri menegaskan dirinya sudah terbiasa mendapat perlakuan kasar di stadion dan tak ingin terlalu memikirkannya.

"Ini bukan pertama kalinya saya dihina di stadion, dan tentu bukan yang terakhir. Kalau saya terlalu memikirkannya, saya akan berhenti bekerja di televisi dan berhenti datang ke pertandingan."

Pria berusia 38 tahun itu juga menjelaskan bahwa final PSG kontra Arsenal lebih cocok dianalisis oleh sosok yang punya kedekatan emosional dengan kedua klub.

"Ini laga PSG-Arsenal. Akan lebih baik ada Robert Pires yang benar-benar fans Arsenal dan David Ginola yang sangat dekat dengan PSG, dibanding seseorang netral seperti saya. Arsenal memang mantan klub saya, tetapi saya tidak punya hubungan luar biasa dengan suporternya."

Tak hanya dihina soal masa lalunya di Marseille, Nasri juga menjadi sasaran chant "bayar pajak" dari sebagian suporter PSG. Ejekan tersebut berkaitan dengan laporan Les Echos pada Maret lalu mengenai dugaan tunggakan pajak senilai 5,5 juta euro.

Kasus itu disebut berkaitan dengan status domisili Nasri di Dubai. Otoritas pajak Prancis mengklaim Nasri menghabiskan lebih dari 200 hari per tahun di Prancis. Bahkan, laporan tersebut menyebut penyelidik menggunakan data 212 pesanan makanan Deliveroo di Paris sebagai bagian investigasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski begitu, pihak pengacara Nasri membantah keras tuduhan tersebut.

Walau mundur dari tugas liputan langsung di stadion, Nasri tetap akan muncul di layar televisi. Setelah final berakhir, ia dijadwalkan bergabung dalam panel analisis di studio Paris bersama Mickaël Landreau.