Minuman Manis Bisa Picu Obesitas pada Anak yang Mager

obesitas, Minuman Manis Bisa Picu Obesitas pada Anak yang Mager, Konsumsi Gula Berlebih Picu Obesitas, Kurang Aktivitas Fisik Perparah Risiko, Anak Perlu Aktif Bergerak, Pentingnya Mengatur Konsumsi Gula

Konsumsi minuman manis yang makin meningkat dapat berkontribusi terhadap risiko obesitas, terutama pada anak-anak. Risiko ini menjadi lebih besar jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengatakan bahwa konsumsi gula berlebih dapat mempercepat terjadinya obesitas, khususnya pada kelompok usia muda.

Menurutnya, anak-anak cenderung terbiasa dengan makanan dan minuman yang memiliki rasa manis sehingga konsumsi gula menjadi lebih tinggi.

“Anak-anak itu cenderung konsumsi gula. Itu sebenarnya seperti adiksi. Kalau terbiasa dengan makanan atau minuman manis, mereka akan terus mencari rasa manis,” terangnya saat ditemui dalam Media Briefing “Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas” di Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026).

Konsumsi Gula Berlebih Picu Obesitas

Nadia menjelaskan bahwa konsumsi gula dalam jumlah besar dapat meningkatkan asupan kalori secara signifikan. 

Jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang memadai, kelebihan energi tersebut akan disimpan dalam tubuh sebagai lemak.

Hal inilah yang membuat konsumsi gula berlebih, termasuk dari minuman manis menjadi salah satu faktor pemicu obesitas.

“Konsumsi gula itu sangat berpengaruh, itu paling cepat bikin obesitas,” jelasnya.

Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa konsumsi gula sebenarnya tidak selalu menjadi masalah selama diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup.

Menurut Nadia, prinsip dasar obesitas adalah keseimbangan antara energi yang masuk ke tubuh dan energi yang digunakan.

“Prinsipnya obesitas itu balance antara yang masuk dan yang keluar,” katanya.

Kurang Aktivitas Fisik Perparah Risiko

Namun, dalam praktiknya, konsumsi gula sering kali tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang memadai.

Adapun Nadia menyebutkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah.

“Data menunjukkan sekitar 96 persen masyarakat kita kurang bergerak,” ujarnya.

Kondisi ini membuat kalori yang masuk ke tubuh tidak terbakar secara optimal sehingga meningkatkan risiko kelebihan berat badan.

Situasi tersebut juga terlihat pada anak-anak yang saat ini cenderung lebih jarang berolahraga dibandingkan sebelumnya.

Anak Perlu Aktif Bergerak

Padahal, aktivitas fisik merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga keseimbangan energi tubuh. Anak-anak idealnya melakukan aktivitas fisik secara rutin setiap hari.

“Anak-anak seharusnya minimal satu jam aktivitas fisik dalam sehari,” tuturnya.

Namun, kenyataannya banyak anak yang hanya melakukan olahraga satu kali dalam seminggu, misalnya saat pelajaran olahraga di sekolah.

Kurangnya aktivitas fisik ini membuat kalori dari makanan dan minuman manis tidak terbakar dengan baik sehingga berpotensi memicu kenaikan berat badan.

Pentingnya Mengatur Konsumsi Gula

Melihat kondisi tersebut, Nadia menekankan pentingnya mengatur konsumsi gula sejak dini, terutama pada anak-anak.

Salah satu langkah yang sering dianjurkan saat seseorang ingin menurunkan berat badan adalah dengan mengurangi asupan gula.

Hal ini karena gula merupakan sumber energi yang cepat diserap tubuh dan dapat meningkatkan asupan kalori secara signifikan.

Dengan mengatur konsumsi gula serta meningkatkan aktivitas fisik, risiko obesitas dapat ditekan, terutama pada anak-anak yang terbiasa mengonsumsi makanan atau minuman manis.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang