Kim Ju Ae vs Kim Yo Jong, Siapa Paling Berpeluang Gantikan Kim Jong Un?
Putri Kim Jong Un, Kim Ju Ae disebut-sebut telah dipersiapkan untuk menjadi penerus tahta kepemimpinan Korea Utara. Hal tersebut diungkap oleh Badan Inteligen Korea Selatan (NIS) belum lama ini.
Bahkan disebut NIS, Kim Ju Ae yang masih berusia 13 tahun sudah mulai dilibatkan dalam pembahasan kebijakan. Isu tentang Kim Ju Ae yang telah dipersiapkan untuk meneruskan tahta sang ayah ini bahkan sudah dirasa sejak setahun setahun terakhir.
Hal ini terlihat dari semakin seringnya remaja tersebut tampil di hadapan publik. Ia beberapa kali mendampingi ayahnya saat peluncuran rudal, dan pada 2025 hadir di parade Victory Day di China, yang menjadi debutnya di panggung internasional.
Namun seberapa besar kemungkinan ia akan menggantikan ayahnya? Terlebih lagi masih ada sosok Kim Yu Jong sang bibi yang juga memiliki kekuatan politik besar setara dengan sang kakak?
Melansir laman Skynews, Selasa 17 Februari 2026, menurut seorang analis dari Sejong Institute, lembaga riset swasta di Korea Selatan, Kim Jong Un kemungkinan besar menilai putrinya memiliki kemampuan dan keteguhan untuk meneruskan kepemimpinannya.
“Dengan mendampingi ayahnya di berbagai acara penting, seolah-olah ia sedang belajar menjadi pemimpin dan membangun jaringan sejak usia sangat muda,” ujar Cheong Seong Chang.
Namun, badan intelijen Korea Selatan selama ini dikenal memiliki rekam jejak yang tidak selalu akurat dalam memastikan perkembangan terbaru di negara tetangganya tersebut.
Sementara itu dosen hubungan internasional di University of Oxford, Dr Edward Howell mengingatkan bahwa Kim Jong Un saat ini baru berusia 43 tahun. Menurutnya, jika dalam waktu dekat terjadi sesuatu pada Kim Jong Un, kemungkinan besar kekuasaan akan jatuh ke tangan adiknya, Kim Yo Jong.
Hingga kini, media pemerintah Korea Utara belum pernah secara resmi mengonfirmasi atau memberikan komentar mengenai rencana suksesi kepemimpinan.
Peta Kekuatan adik Kim Jong Un
Adik perempuan Kim Jong Un Kim Yo Jong yang saat ini memegang jabatan senior di Komite Sentral Partai Buruh Korea dan disebut memiliki pengaruh besar terhadap kakaknya. Di usianya yang baru 38 tahun dia kerap disebut sebagai sosok paling berkuasa kedua di Korea Utara, dengan dukungan politik dan militer yang kuat.
Namun dengan adanya sosok keponakan, bagaimana posisi Kim Yo Jong? Melansir laman NDTV, mantan pejabat senior intelijen Korea Selatan, Rah Jong Yil, memperingatkan bahwa perebutan kekuasaan sangat mungkin terjadi. Kepada sejumlah media, termasuk New York Post dan The Telegraph, ia mengatakan Kim Yo Jong hampir pasti akan mencoba mengambil posisi tertinggi jika merasa punya peluang. Menurutnya, tak ada alasan bagi Kim Yo Jong untuk menahan ambisi politiknya sendiri.
Kim Yo Jong dikenal memiliki reputasi keras, baik di dalam maupun luar negeri. Ia kerap melontarkan pernyataan tajam atas namanya sendiri.
Pada 2022, ia melontarkan kritik pedas terhadap menteri pertahanan Korea Selatan. Dalam laporan The Guardian, Kim Yo Jong menyebut pejabat tersebut sebagai orang tak waras dan seperti sampah, serta memperingatkan bahwa Seoul bisa menghadapi nasib menyedihkan yang nyaris berujung kehancuran total jika terus melontarkan ancaman.
Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah, ia menegaskan bahwa Korea Selatan bisa menghadapi ancaman serius akibat komentar sembrono tentang serangan pendahuluan terhadap negara bersenjata nuklir. Ia juga mengingatkan agar Korea Selatan mengendalikan diri jika ingin menghindari bencana.
Laporan lain yang terbit pada Desember lalu di 38 North situs milik lembaga think tank Amerika Serikat, Stimson Center juga menyoroti potensi gejolak jika Kim Jong Un meninggal secara mendadak. Analisis itu menekankan tingginya kemungkinan munculnya perebutan kekuasaan antara kandidat-kandidat penerus.
Menurut laporan tersebut, dalam jangka pendek, sosok yang sudah mapan secara politik seperti Kim Yo Jong lebih mungkin mengambil alih jika Kim Jong Un wafat atau sakit serius. Sementara itu, kandidat lain termasuk Kim Ju Ae dan dua saudara laki-lakinya dinilai masih terlalu muda dan belum cukup kuat secara politik untuk realistis memimpin dalam lima hingga 15 tahun ke depan.
Laporan itu juga menegaskan bahwa Kim Yo Jong punya keunggulan karena dukungan politik dan militer yang telah ia bangun di dalam Partai Buruh Korea, sehingga mampu mengungguli kandidat lain.
Apakah gender menjadi faktor penting?
Sebelumnya, NIS dan sejumlah pejabat pemerintah Korea Selatan pernah menyoroti bahwa struktur kekuasaan di Korea Utara didominasi laki-laki. Sejak berdiri pada 1948, negara tersebut selalu dipimpin oleh anggota laki-laki dari keluarga Kim.
Dr Howell menilai, yang paling penting bagi kelangsungan dinasti Kim adalah garis keturunan Baekdu, yang memastikan bahwa siapa pun pemimpinnya tetap berasal dari keluarga Kim, tanpa memandang jenis kelamin.
“Apa pun kromosom yang dimiliki seseorang, itu tidak sepenting fakta bahwa dia adalah seorang Kim, bagian dari garis keturunan tersebut,” ujarnya.
Analis Jean H Lee juga mengatakan dalam podcast Sky News Daily pada 2023 bahwa kemunculan Ju Ae di berbagai acara merupakan bagian dari upaya memperkuat citra keluarga Kim sebagai sebuah monarki dan dinasti.
“Saya yakin ada strategi untuk menampilkan diri mereka seperti keluarga kerajaan di Inggris,” katanya.