Iran Rilis Grafik 'Zona Bahaya' di Selat Hormuz, Ada Apa Sebenarnya?

Selat Hormuz, Iran
Selat Hormuz, Iran

Sejumlah kantor berita semi-resmi di Iran pada Kamis merilis sebuah grafik yang menunjukkan bahwa Garda Revolusi Iran diduga menempatkan ranjau laut di Selat Hormuz selama perang. Langkah ini dinilai sebagai pesan untuk menekan Amerika Serikat, di tengah ketidakpastian soal gencatan senjata dua minggu yang baru berjalan beberapa hari serta rencana perundingan lanjutan di Pakistan Jumat besok.

Melansir laman AP News, Kamis 9 April 2026, grafik Selat Hormuz tersebut dirilis oleh kantor berita ISNA dan juga Tasnim, yang dikenal dekat dengan Garda Revolusi. Dalam grafik itu terlihat lingkaran besar bertuliskan ’zona bahaya’ dalam bahasa Persia, tepat di jalur pelayaran utama atau dikenal dengan Traffic Separation Scheme, yaitu rute yang biasa dilalui kapal-kapal di selat sempit pintu masuk Teluk Persia, jalur yang sebelumnya dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Grafik itu juga menyarankan agar kapal melintas lebih ke utara, mendekati perairan Iran di sekitar Pulau Larak, rute yang memang sempat digunakan sejumlah kapal selama masa perang. Grafik tersebut bertanggal 28 Februari hingga Kamis, 9 April, namun belum jelas apakah ranjau di jalur tersebut sudah dibersihkan atau belum.

Trump: Pasukan AS tetap siaga

Sementara itu, presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pengerahan kapal perang dan pasukan di sekitar Iran akan tetap dipertahankan hingga kesepakatan yang sebenarnya benar-benar dipatuhi sepenuhnya.

Pernyataan Trump di platform Truth Social itu dinilai sebagai upaya menekan Iran.

“Jika karena alasan apa pun tidak dipatuhi meski sangat kecil kemungkinannya maka pertempuran akan dimulai kembali, dengan skala yang lebih besar dan lebih kuat dari yang pernah ada,” tulis Trump.

Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir, dan Selat Hormuz harus tetap terbuka serta aman.

Baik AS maupun Iran sama-sama mengklaim kemenangan setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata, dan para pemimpin dunia menyambutnya dengan lega. Namun, setelah pengumuman itu, serangan drone dan rudal masih terjadi di Iran dan negara-negara Arab di Teluk.

Serangan Israel di Lebanon

Israel juga meningkatkan serangan terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon pada Rabu beberapa waktu setelah kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan AS, dengan menargetkan kawasan komersial dan permukiman di Beirut. Sedikitnya 254 orang dilaporkan tewas dalam serangan yang dilakukan Israel ke Lebanon.

Tim penyelamat terus melakukan pencarian sepanjang malam untuk menemukan korban yang masih tertimbun reruntuhan akibat serangan tersebut.

Kekerasan ini mengancam menggagalkan kesepakatan yang oleh Wakil Presiden AS JD Vance disebut sebagai rapuh.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa penghentian perang di Lebanon merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata. Namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Trump menyatakan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut. Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan yang menjadi mediator mengatakan di media sosial bahwa kesepakatan berlaku di semua wilayah, termasuk Lebanon.

Sebuah lembaga pemikir yang berbasis di New York memperingatkan bahwa gencatan senjata ini berada di ambang kehancuran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

The Soufan Center menyebut serangan Israel ke Lebanon pada Rabu semakin meningkatkan risiko runtuhnya kesepakatan.

“Meski Lebanon secara resmi berada di luar kesepakatan, skala serangan Israel tetap akan dipandang sebagai bentuk eskalasi. Serangan ini bisa dilihat sebagai upaya memisahkan Iran dari sekutunya, sekaligus respons karena Israel dianggap tidak dilibatkan dalam pembahasan awal gencatan senjata,” tulisnya dalam analisis yang dirilis Kamis.