Kim Jong Un Sebut Nuklir Korut Jadi Ancaman Nyata bagi Amerika Serikat
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, mengatakan bahwa perang yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Iran menjadi bukti bahwa negaranya sudah mengambil keputusan yang tepat dengan mempertahankan senjata nuklir.
Dalam pidatonya di Majelis Rakyat Tertinggi Korea Utara yang dipublikasikan pada Selasa, Kim menuduh Washington melakukan aksi terorisme dan agresi yang disponsori negara, meski tidak secara langsung menyebut Iran.
Ia menyatakan bahwa situasi saat ini jelas membuktikan bahwa Korea Utara benar ketika menolak tekanan dan ‘rayuan’ Amerika Serikat untuk melepaskan senjata nuklirnya. Kim juga menegaskan bahwa status nuklir Korea Utara kini sudah tidak bisa diubah lagi.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyebut Iran sebagai ancaman yang sewaktu-waktu bisa menyerang meskipun ia juga pernah mengklaim telah menghancurkan kemampuan nuklir Iran dalam perang singkat selama 12 hari di tahun lalu. Trump menjadikan pencegahan Iran memiliki senjata nuklir sebagai salah satu alasan utama melancarkan serangan pada Februari lalu.
Bagi kepemimpinan Korea Utara, konflik Iran semakin menguatkan keyakinan lama mereka yakni negara yang tidak memiliki senjata nuklir akan lebih rentan terhadap kekuatan militer AS, sementara negara yang memilikinya bisa menahan atau mencegah serangan tersebut.
Waktu penyampaian pidato Kim juga cukup penting. Belakangan, Trump memberi sinyal terbuka untuk melanjutkan kembali pembicaraan dengan Korea Utara, menghidupkan lagi jalur diplomasi yang sempat gagal pada 2019.
Namun, pernyataan terbaru Kim menunjukkan bahwa jika pertemuan kembali terjadi, bentuknya akan berbeda dari sebelumnya yang fokus pada denuklirisasi. Ia memberi sinyal bersedia berunding lagi dengan Trump, tetapi hanya jika AS mengakui Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir dan menghentikan apa yang disebut Pyongyang sebagai ‘kebijakan bermusuhan’.
Korea Utara diyakini telah memiliki puluhan hulu ledak nuklir. Berbeda dengan Iran atau Venezuela, negara ini mengklaim sudah memiliki senjata nuklir yang siap digunakan, lengkap dengan sistem peluncur yang mampu menjangkau wilayah daratan utama Amerika Serikat meski belum sepenuhnya teruji.
Baru-baru ini, Korea Utara juga memamerkan sejumlah uji coba senjata besar, termasuk peluncuran rudal jelajah dari kapal perang baru serta rentetan roket yang disebut media negara mampu membawa hulu ledak nuklir. Dalam kongres Partai Buruh bulan lalu, Kim berjanji akan terus memperluas persenjataan nuklir negaranya, baik dari sisi jumlah maupun kemampuan penggunaannya.
Kim bahkan mulai menampilkan putrinya yang masih remaja, Kim Ju Ae dalam berbagai acara militer tersebut. Hal ini memberi sinyal bahwa program nuklir Korea Utara bukan hanya bersifat permanen, tetapi juga akan berlanjut lintas generasi.
Di saat yang sama, Pyongyang juga semakin mempererat hubungan dengan Moskow. Televisi pemerintah Rusia menayangkan rekaman pasukan Korea Utara yang berlatih di dekat garis depan Ukraina, menggambarkan hubungan keduanya sebagai kemitraan kuat anti AS sekaligus menegaskan meningkatnya kerja sama militer.
Hubungan ini kini makin penting, dengan peran Korea Utara dalam perang Rusia di Ukraina menjadi bagian utama propaganda Pyongyang. Kim disebut telah menyetujui pengiriman amunisi dan roket, serta mengirim ribuan tentara untuk membantu Rusia.
Sebagai imbalannya, para analis menilai Korea Utara mendapatkan pasokan makanan, bahan bakar, dan kemungkinan teknologi militer sensitif, serta data dari medan perang yang membantu mereka mengembangkan senjata.
Kedekatan ini menambah rumit situasi bagi Washington. Hal ini menunjukkan Korea Utara tidak bergerak sendiri, melainkan menjadi bagian dari jaringan negara-negara yang menantang pengaruh Amerika Serikat.
Meski retorikanya keras, Kim belum sepenuhnya menutup pintu diplomasi. Dalam kongres partai terakhir, ia masih memberi sedikit ruang untuk dialog dengan Washington.
Namun syaratnya jelas yakni pembicaraan mungkin saja dilakukan, tetapi menyerahkan senjata nuklir bukanlah pilihan.