Mengenal Sosok Alireza Arafi Pemimpin Tertinggi Sementara Iran Usai Khamenei Tewas

Ayatollah Alireza Arafi jadi pemimpin sementara Iran menggantikan Ali Khamenei
Ayatollah Alireza Arafi jadi pemimpin sementara Iran menggantikan Ali Khamenei

 Minggu 1 Maret 2026, Alireza Arafi ditunjuk sebagai anggota yuris dari Dewan Kepemimpinan Sementara Iran. Penunjukan ini dilakukan setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan AS-Israel.

Dewan yang terdiri dari tiga anggota ini akan menjalankan tugas-tugas Pemimpin Tertinggi sampai Majelis Ahli memilih pengganti, lapor Reuters mengutip ISNA. Selain Arafi, dua anggota lainnya adalah Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Mahkamah Agung Gholamhossein Mohseni Ejei.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kami sudah mempersiapkan momen seperti ini dan memiliki rencana untuk semua skenario, termasuk waktu setelah syahidnya Imam Khamenei yang dihormati,” kata Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf dikutip dari laman  Sky News.

Lantas siapakah Alireza Arafi? Melansir laman NDTV News, Selasa 3 Maret 2026, Alireza Arafi lahir pada 1959 di kota Meybod, Provinsi Yazd, Iran tengah. Ia berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, Mohammad Ibrahim Arafi, adalah tokoh agama yang kemudian disebut media pemerintah dekat dengan mantan Pemimpin Tertinggi Ruhollah Khomeini, menurut laporan Middle East Institute.

Pada 1969, saat berusia 11 tahun, Arafi pindah ke Qom, pusat pendidikan agama utama di Iran, untuk melanjutkan studinya. Di sana, ia belajar di bawah bimbingan ulama senior. Selama bertahun-tahun, ia menempuh pendidikan agama tingkat lanjut dan memperoleh gelar mujtahid, yang memungkinkannya menafsirkan hukum Islam secara mandiri. Bidang keahliannya meliputi fiqih dan filsafat Islam. Ia juga fasih berbahasa Arab dan Inggris, serta telah menulis buku dan artikel.

Saat Revolusi Islam 1979, Arafi berusia 21 tahun. Pada 1980-an, ia tetap menjadi salah satu ulama muda di Republik Islam yang baru terbentuk.

Kariernya mulai menanjak setelah Ayatollah Ali Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi pada 1989. Pada 1992, di usianya yang baru 33 tahun, Arafi ditunjuk sebagai imam shalat Jumat di Meybod, menurut Siasat. Seiring waktu, ia menerima lebih banyak jabatan penting. Pada 2015, ia menjadi imam shalat Jumat di Qom, posisi yang dianggap kunci dalam struktur keagamaan Iran.

Arafi juga menjadi ketua Universitas Internasional Al-Mustafa, sebuah lembaga yang dibentuk untuk melatih ulama Syiah non-Iran dan menyebarkan ideologi Republik Islam ke luar negeri, menurut laporan Middle East Institute. Universitas ini resmi berdiri pada 2009 setelah menggabungkan beberapa inisiatif sebelumnya.

Pada 2016, Arafi ditunjuk sebagai kepala sistem pesantren di seluruh Iran. Pada 2019, ia menjadi anggota Dewan Pengawas (Guardian Council), badan berpengaruh yang terdiri dari 12 orang, bertugas meninjau undang-undang, mengawasi pemilu, serta menyetujui atau menolak kandidat jabatan publik, lapor Al Jazeera. Dewan ini bahkan bisa memveto undang-undang yang disahkan parlemen.

Ia juga menjadi anggota dan wakil ketua Majelis Ahli, yang bertugas memilih dan mengawasi Pemimpin Tertinggi.

Pada Februari 2016, Arafi mencalonkan diri sebagai anggota Majelis Ahli dari Tehran, tetapi kalah. Ia mencalonkan diri melalui daftar garis keras yang terkait dengan Perkumpulan Guru Pesantren Qom.

Meski kurang dikenal di luar lingkaran ulama, Arafi dianggap sebagai tokoh institusional yang serius dan berpengaruh di Iran.

Tokoh yang Sangat Dipercaya

Penunjukan berulang-ulang Alireza Arafi oleh Khamenei ke posisi-posisi senior  yang sering kali bersifat strategis dan sensitif  menunjukkan bahwa Khamenei sangat percaya pada kemampuan birokrasi Arafi. Selain itu, menurut banyak pengamatan, Arafi terbukti memiliki pandangan yang selaras dengan Khamenei tentang arah masa depan Republik Islam.

Di kancah internasional, seperti halnya Khamenei, Arafi melihat ‘Wahhabisme’ sebagai musuh utama Islam Syiah. Namun, catatan Arafi bukan hanya soal memperkuat peran politik ulama pro-rezim di Iran, tetapi juga soal memperluas penyebaran ideologi rezim ke seluruh dunia.

Selama bertahun-tahun, Arafi menjadi salah satu tokoh sentral yang mendorong internasionalisasi agenda Republik Islam, seperti yang terlihat dari posisinya sebagai kepala seluruh pesantren di Iran dan ketua Universitas Al-Mustafa.

Menurut pernyataan Arafi, saat ini terdapat sekitar 40.000 santri non-Iran yang belajar di Iran, dan sekitar 80.000 lulusan Al-Mustafa University telah menyebar ke berbagai negara selama bertahun-tahun. Filosofi politiknya, menurut kata-katanya sendiri, adalah “Pesantren (di Iran) harus berasal dari rakyat, bersolidaritas dengan yang tertindas, bersifat politik (Islamis), revolusioner, dan memiliki pendekatan internasional.”

Ini jelas menunjukkan pola pikir seorang ideolog.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski komitmen politik Arafi terhadap Republik Islam tak diragukan lagi dan kemampuan birokrasinya sangat dihargai karena terus bekerja dengan restu Khamenei, rekam jejaknya sebagai politisi masih jauh lebih tidak pasti dan sulit diprediksi.