Dari Kamera Lalu Lintas ke Serangan Mematikan: Begini Teknologi AI Berperan Tewaskan Pemimpin Tertinggi Iran
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran akhir bulan Februari lalu bukan sekadar operasi militer biasa. Di balik ledakan yang mengguncang Teheran, ada operasi intelijen senyap yang disebut-sebut telah dirancang selama bertahun-tahun. Kamera lalu lintas di jalanan ibu kota Iran, data satelit, hingga kecerdasan buatan (AI) disebut menjadi bagian dari mesin pemburu target yang akhirnya mengarah pada kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Menurut seorang pejabat Israel seperti dikutip The Guardian, mengetahui operasi tersebut, kamera lalu lintas di Teheran sudah lama diretas dan dimanfaatkan untuk memantau pergerakan di dalam kota secara real time. Dari sana, pola mobilitas, kebiasaan, hingga jalur pengamanan elite Iran dipetakan secara rinci.
Target Berbasis AI
Sumber Israel lain yang memahami detail operasi menyebut sistem itu sebagai “mesin produksi target berbasis kecerdasan buatan”. Sistem ini dirancang untuk mengolah data dalam jumlah masif dan mengubahnya menjadi koordinat presisi.
Data yang dimasukkan tidak hanya berupa rekaman visual. Informasi intelijen manusia, penyadapan komunikasi, citra satelit, hingga sinyal elektronik digabungkan dalam satu sistem. Hasil akhirnya berupa titik koordinat 14 digit yang diyakini sangat akurat.
Proses tersebut, kata sumber itu, tetap melibatkan manusia. Tim yang terdiri dari teknolog, analis data, dan insinyur bertugas memverifikasi rekomendasi serangan dan menyempurnakan algoritma agar tidak terjadi kesalahan fatal.
Selama satu dekade terakhir, sistem ini disebut telah membantu Israel melakukan berbagai operasi rahasia di Iran, termasuk pembunuhan sejumlah ilmuwan nuklir dan pejabat tinggi, pencurian arsip nuklir Iran, hingga operasi terhadap tokoh politik Hamas di Teheran.
Serangan Israel ke Iran
Kemampuan itu sebelumnya sudah diuji dalam konflik 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni tahun lalu. Dalam serangan pembuka, Pasukan Pertahanan Israel dilaporkan menargetkan dan menewaskan pejabat militer tertinggi Iran, termasuk kepala Korps Garda Revolusi Islam serta salah satu ajudan dekat Khamenei.
Namun saat itu, Khamenei lolos. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, sebelumnya menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kesempatan untuk menargetkan pemimpin tertinggi Iran karena ia diduga bersembunyi di bunker bawah tanah dan menghentikan semua komunikasi.
Serangan pada Sabtu pagi waktu setempat dilakukan secara terbuka di siang hari. Seorang pejabat militer Amerika, Jenderal Dan Caine, mengatakan operasi tersebut dipicu oleh peristiwa tertentu dan dilaksanakan oleh Pasukan Pertahanan Israel dengan dukungan intelijen Amerika Serikat.
“Ini adalah serangan siang hari yang didasarkan pada pemicu tertentu, dilakukan oleh Pasukan Pertahanan Israel dan didukung oleh Komunitas Intelijen AS,” kata Caine.
Ia tidak merinci lebih jauh, namun sejumlah sumber menyebut koordinat lokasi Khamenei diperoleh dari kombinasi intelijen Israel dan Amerika, termasuk data terbaru yang memetakan pergerakan di dalam kompleks kediamannya.
Beberapa jam setelah serangan, optimisme mulai muncul di pihak Israel meski belum ada kepastian bahwa target utama telah tewas. Konfirmasi baru datang Minggu dini hari, ketika televisi pemerintah Iran menyiarkan pengumuman bahwa Pemimpin Tertinggi Iran telah “mencapai kesyahidan”.
Diplomasi Gagal, Opsi Militer Menguat
Serangan ini terjadi di tengah perundingan antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir Teheran. Namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diyakini sejak awal tidak percaya bahwa pembicaraan tersebut akan menghasilkan kesepakatan yang bisa diterima Israel.
Netanyahu, yang selama karier politiknya kerap memperingatkan dunia tentang bahaya Iran bersenjata nuklir, disebut memandang momen ini sebagai kesempatan strategis.
Pada 11 Februari lalu, ia bertemu Presiden Donald Trump di Gedung Putih. Pertemuan tertutup hampir tiga jam itu hanya menghasilkan satu foto resmi. Menurut laporan sejumlah pejabat, pembahasan utama bukan soal negosiasi yang sedang berlangsung, melainkan skenario jika diplomasi benar-benar gagal.
Netanyahu dilaporkan membawa intelijen terbaru mengenai kemampuan militer Iran. Diskusi tersebut diikuti rangkaian pertemuan tingkat tinggi antara militer dan badan intelijen kedua negara.
Pada Jumat pukul 15.38 waktu Timur AS, Trump disebut memberikan perintah final untuk memulai operasi. Pesan singkat yang dikutip pejabat militer berbunyi: Operasi Epic Fury disetujui. Tidak ada pembatalan. Semoga berhasil.
Perintah itu menjadi titik awal dari salah satu operasi militer paling berisiko dalam sejarah hubungan Timur Tengah modern.
Dampak Global dan Risiko Eskalasi
Kematian pemimpin tertinggi Iran bukan hanya soal perubahan kepemimpinan internal. Langkah ini berpotensi memicu eskalasi luas di kawasan, memengaruhi pasar energi global, hingga meningkatkan ketegangan antara kekuatan besar dunia.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa serangan terhadap simbol tertinggi Republik Islam dapat memicu respons keras, baik melalui serangan langsung maupun perang proksi di berbagai wilayah.