Iran Langsung Hujani Israel dengan Rudal Setelah Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi

Ledakan akibat serangan rudal Iran di pusat kota Tel Aviv Israel
Ledakan akibat serangan rudal Iran di pusat kota Tel Aviv Israel

 Iran meluncurkan rudal pertamanya ke Israel pasca terpilihnya Ayatollah Mojtaba sebagai pemimpin terbaru Iran. Serangan rudal pertama ini diluncurkan Iran pada Senin dini hari 9 Maret 2026, demikian dilaporkan oleh penyiar negara IRIB.

“Iran menembakkan gelombang pertama rudal di bawah kepemimpinan Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei ke wilayah pendudukan,” tulis IRIB melalui saluran Telegram resminya seperti dikutip dari laman Arab News, Senin 9 Maret 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

IRIB juga membagikan foto sebuah proyektil yang bertuliskan slogan “At Your Command, Sayyid Mojtaba,” yang merujuk pada ungkapan religius dalam tradisi Syiah.

Seperti diketahui, Minggu 8 Maret 2026, Mojtaba Khamenei dipilih sebagai penerus ayahnya yang tewas, Ayatollah Ali Khamenei. Terpilihnya Mojtaba sebagai pemimpin Iran terbaru ini mendapat ketidaksetujuan dari AS dan Israel. Kedua negara tersebut sebelumnya juga telah mengancam akan menjadikan Mojtaba sebagai target berikutnya jika terpilih sebagai pengganti Ali Khamenei.

Sembilan hari setelah serangan Amerika Serikat dan Israel menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan memicu perang besar di kawasan Timur Tengah. Insiden ini membuat para ulama Syiah berkumpul untuk memilih pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak Revolusi Islam 1979.

Seorang pembawa acara di televisi pemerintah dengan khidmat membacakan pernyataan dari Majelis Ahli yang beranggotakan 88 orang, berdampingan dengan foto pemimpin baru berusia 56 tahun tersebut yang memiliki kemiripan mencolok dengan ayahnya.

Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa Mojtaba Khamenei ditunjuk dan diperkenalkan sebagai pemimpin ketiga dari sistem suci Republik Islam Iran, berdasarkan hasil pemungutan suara yang tegas dari para anggota terhormat Majelis Ahli.

Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa lembaga ulama itu tidak ragu sedikit pun dalam memilih pemimpin baru, meskipun di tengah agresi brutal Amerika yang kriminal dan rezim Zionis yang jahat.

Selain menyerang Israel, Iran juga meluncurkan gelombang rudal dan drone ke sejumlah negara tetangganya di kawasan Teluk.

Ledakan juga dilaporkan terdengar pada Senin dini hari di Qatar, negara yang menjadi lokasi salah satu pangkalan udara besar milik Amerika Serikat.

Kementerian Pertahanan Kuwait menyatakan bahwa pasukan mereka sedang menghadapi ancaman udara yang datang dari Iran.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengatakan bahwa sistem pertahanan udara kerajaan pada Senin dini hari berhasil menembak jatuh sedikitnya tiga rudal balistik dan empat drone yang memasuki wilayah udara mereka.

Perang ini pecah beberapa minggu setelah pasukan keamanan Iran menumpas gelombang demonstrasi nasional yang menentang pemerintah, yang menewaskan ribuan orang. Mojtaba Khamenei dikenal sebagai tokoh garis keras yang diperkirakan akan melanjutkan sikap ayahnya yang menolak segala bentuk perbedaan pendapat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya pernah meremehkan Mojtaba Khamenei dengan menyebutnya sebagai sosok kelas ringan. Pada Minggu waktu setempat, Trump kembali menegaskan bahwa dirinya seharusnya ikut memiliki peran dalam penunjukan pemimpin baru Iran.

“Kalau dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump kepada ABC News sebelum pengumuman resmi tersebut dibuat.

Militer Israel juga telah memperingatkan bahwa siapa pun yang menggantikan posisi tersebut akan menghadapi ancaman yang sama.

“Kami tidak akan ragu untuk menjadikan Anda target,” demikian peringatan mereka.

Banyak pihak memperkirakan tidak akan ada perubahan besar di bawah kepemimpinan Mojtaba Khamenei. Ia adalah seorang ulama terlatih yang memiliki hubungan dekat dengan Garda Revolusi, sayap ideologis militer Iran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Garda Revolusi dengan cepat menyatakan dukungannya kepada pemimpin baru tersebut. Mojtaba sendiri dianggap memiliki pengalaman yang jauh lebih sedikit dibandingkan ayahnya, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai presiden di bawah pemimpin tertinggi pertama Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Dalam pernyataan resminya, Korps Garda Revolusi menyatakan siap “memberikan ketaatan penuh dan pengorbanan diri” untuk menjalankan perintah ilahi dari Mojtaba Khamenei.