Mengenal Cilia Flores Istri Maduro, Sosok Berpengaruh di Balik Kekuasaan Venezuela

Ibu Negara Venezuela, Cilia Flores dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Ibu Negara Venezuela, Cilia Flores dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro

 Dalam sejarah politik dunia, kekuasaan tidak selalu dijalankan oleh sosok yang paling sering tampil di hadapan publik. Di banyak rezim, justru figur yang berada di belakang layar memiliki pengaruh paling besar terhadap arah kebijakan dan konsolidasi kekuasaan. 

Hal ini pula yang dinilai terjadi di Venezuela, di mana Cilia Flores disebut memainkan peran krusial yang jauh melampaui statusnya sebagai istri presiden.

Cilia Flores, istri Nicolás Maduro, disebut memiliki pengaruh politik yang sangat besar dalam rezim Venezuela. Saat menjalani sidang pertamanya setelah ditangkap oleh pasukan khusus Amerika Serikat bersama suaminya, Flores bahkan menegaskan posisinya. 

“Saya adalah ibu negara Republik Venezuela,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Rabu, 7 Januari 2026.

Namun, berbagai pihak yang mengenal pasangan ini menilai Flores bukan sekadar ibu negara. Sebelum dipindahkan ke New York, kekuasaannya disebut sebanding, bahkan dalam beberapa momen melebihi tokoh-tokoh penting lain dalam rezim, termasuk Delcy Rodríguez. 

Nicolás Maduro sendiri kerap menyebut istrinya bukan sebagai first lady, melainkan “pejuang pertama”, istilah yang mencerminkan keterlibatannya langsung dalam politik.

Eva Golinger, pengacara dan penulis asal Amerika Serikat yang pernah menjadi penasihat Hugo Chávez, mengungkapkan kedekatan dan pengaruh Flores. 

“Flores memang istri Maduro, tetapi lebih dari itu. Ia adalah mitra utamanya, orang kepercayaan terdekatnya, dan dalam banyak hal membantu jalan Maduro naik ke dunia politik,” ungkapnya. 

 “Flores lebih berperan sebagai otak, sementara Maduro lebih sebagai tenaga. Bukan berarti mengabaikan kemampuan Maduro sebagai operator politik yang sukses, tetapi Flores adalah pilar utama yang mendukungnya dalam segala hal,” kata Golinger. 

Keduanya pertama kali bertemu pada 1990-an di sebuah penjara Venezuela saat mengunjungi mentor politik mereka, Hugo Chávez, yang kala itu dipenjara akibat percobaan kudeta. Saat itu, Maduro masih berprofesi sebagai sopir bus dan pemimpin serikat buruh, sedangkan Flores adalah pengacara yang tergabung dalam tim hukum yang memperjuangkan pembebasan Chávez.

Setelah Chávez dibebaskan dan memenangkan pemilu pada 1999, pasangan ini terjun penuh ke dalam gerakan politik yang kemudian dikenal sebagai Chavismo. Mereka mendapatkan posisi strategis dan secara bertahap memperluas pengaruhnya di pemerintahan.

Karier Flores mencapai titik penting pada 2006 ketika ia menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua Majelis Nasional Venezuela. Pada masa itu, ia dituding menunjuk hampir 40 anggota keluarganya ke jabatan publik. 

Menanggapi temuan tersebut, Flores menyebut para jurnalis sebagai “tentara bayaran” dan melarang media meliput aktivitas parlemen. Meski kerap digambarkan sebagai sosok yang “tertutup, pemalu, berbicara lembut, dan berpenampilan sederhana”, Golinger menegaskan bahwa Flores adalah “operator politik yang sangat cerdas”. 

Di bawah rezim Maduro, pemerintah Venezuela dituduh melakukan lebih dari 20.000 pembunuhan di luar proses hukum, penghilangan paksa, penyiksaan, serta pemenjaraan ribuan oposisi politik, yang memicu krisis kemanusiaan dan eksodus sekitar 8 juta warga.

Jurnalis investigasi Venezuela yang berbasis di AS, Casto Ocando, menyebut Flores memiliki kendali besar atas lembaga peradilan. "Dia sangat aktif terlibat dalam proses pengangkatan hakim dan jaksa, area yang sangat krusial karena mereka mengganti pejabat lama dengan orang-orang yang setia pada revolusi.”

Jaksa Amerika Serikat menuduh pasangan ini menikmati keuntungan dari perdagangan narkoba skala besar dan terlibat dalam jaringan yang dikenal sebagai Cartel de los Soles. Tuduhan tersebut juga mencakup dugaan suap dan kasus dua keponakan Flores yang divonis bersalah di AS karena penyelundupan kokain. Meski demikian, Flores dan Maduro membantah seluruh tuduhan.

Dalam sidang belum lama ini, pengacara Flores, Mark Donnelly, menyatakan kliennya mengalami “cedera serius” saat operasi militer penangkapannya. “Sidang itu mungkin menjadi hari terakhir mereka saling melihat. Saya bisa membayangkan betapa beratnya hal itu setelah mereka menghabiskan seluruh hidup bersama,” kata Eva Golinger.