Harga Minyak Dunia Kembali Tembus US$100 per Barel Usai Mojtaba Khamenei Perintahkan Tutup Selat Hormuz
Harga minyak dunia kembali menembus level psikologis US$100 per barel pada penutupan perdagangan Kamis waktu setempat, 12 Maret 2026. Lonjakan tajam terjadi setelah Mojtaba Khamene menyampaikan pidato perdana sebagai pemimpin tertinggi baru Iran dan menegaskan untuk tetap menutup Selat Hormuz di tengah eskalasi perang di Timur Tengah.
Mengutip CNBC Internasional, harga minyak acuan global, Brent, naik 9,22 persen sekitar US$8,48 menjadi US$100,46 atau setara Rp 1.700.737,57 (estimasi kurs R 16.930 per dolar AS) per barel. Ini menjadi pertama kalinya harga Brent ditutup di atas US$100 sejak bulan Agustus 2022.
Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), mencatatkan kenaikan 9,72 persen atau naik US$8,48 menjadi US$95,73 atau sekitar Rp 1.620.661,04 per barel.
Ilustrasi minyak mentah.
Putra dari Ali Khamenei ini berjanji akan mempertahankan penutupan Selat Hormuz. Pemimpin Iran menyampaikan perintah ketika serangan terhadap kapal komersial di Teluk Persia terus meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Setidaknya, dua kapal tanker minyak dan satu kapal kargo dihantam di dekat wilayah perairan Irak dan Uni Emirat Arab pada Kamis malam, 12 Maret 2026. Serangan terbaru juga dilaporkan terjadi di dekat Selat yang sangat penting secara strategis tersebut.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi energi paling strategis di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi dunia.
Pasar Abaikan Pelepasan Cadangan Minyak IEA dan AS
Lonjakan harga minyak terjadi saat negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) telah mengumumkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah. IEA menyepakati untuk menggalokasikan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis untuk meredam lonjakan harga akibat gangguan pasokan global.
Pemeritah Amerika Serikat (AS) juga menyatakan akan melepas 172 juta barel dari cadangan minyak strategis nasional. Namun, pasar tampaknya meragukan langkah tersebut dapat menutup kekurangan pasokan yang muncul akibat penutupan Selat Hormuz.
“Seperti yang sudah kami katakan berulang kali, satu-satunya cara agar harga minyak turun secara berkelanjutan adalah dengan memastikan aliran minyak kembali melewati Selat Hormuz,” tulis Analis Bank Belanda (ING) dalam keterangannya.
“Jika gagal melakukannya, artinya harga minyak berpotensi mencetak level yang lebih tinggi lagi,” lanjut laporan tersebut.
Kekhawatiran Kekurangan Pasokan
Analis energi dari MST Marquee, Saul Kavonic, mengatakan pelepasan cadangan akan menambah pasokan minyak ke pasar. Namun, jumlahnya hanya mampu menutup sebagian kecil kekurangan suplai.
“Keputusan IEA juga menunjukkan betapa seriusnya risiko kekurangan minyak saat ini. Hal itu mengindikasikan bahwa IEA tidak yakin perang akan segera berakhir,” kata Kavonic.
Menurutnya, cadangan yang dilepas juga harus ditarik kembali kembali di masa depan sehingga berpotensi mendorong harga minyak tetap tinggi bahkan setelah perang berakhir. Di sisi lain, pasar masih khawatir karena distribusi minyak dari cadangan strategis membutuhkan waktu yang cukup lama.
Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, mengatakan pelepasan cadangan minyak AS akan memakan waktu sekitar 120 hari hingga seluruh volume masuk ke pasar. Cadangan strategis tersebut juga disimpan secara terpisah oleh masing-masing negara anggota IEA sehingga kendala teknis dan logistik dapat memperlambat proses distribusi.
Ahli strategi investasi senior dari Raymond James, Pavel Molchanov, menilai pasar membutuhkan pasokan minyak dalam waktu cepat untuk meredakan gejolak harga.
“Empat ratus juta barel memang jumlah yang besar. Tetapi gangguan pasokan kali ini adalah yang terbesar setidaknya sejak 1970-an, sehingga pasar membutuhkan minyak dalam jumlah besar dan secepat mungkin,” ujarnya.