Perang Iran Vs AS-Israel, Ratusan Ribu Penumpang Pesawat Telantar di Timur Tengah
- Bandara kunci di Dubai, Abu Dhabi, dan Doha Tutup
- Lebih dari 1.000 penerbangan dibatalkan
- Maskapai besar Timur Tengah lumpuh
- Kerusakan bandara dan korban jiwa
- Maskapai dunia ikut batalkan rute
- Penutupan wilayah udara di berbagai negara
- Dampak ekonomi dan operasional
- Kapan situasi pulih?
- Penumpang diminta pantau jadwal secara berkala
Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu kekacauan besar di sektor penerbangan global.
Sejumlah negara di Timur Tengah menutup wilayah udaranya, menyebabkan ratusan ribu penumpang terlantar, ribuan penerbangan dibatalkan, serta berbagai bandara utama menghentikan operasi.
Bandara kunci di Dubai, Abu Dhabi, dan Doha Tutup
Penutupan wilayah udara terjadi di Israel, Qatar, Suriah, Iran, Irak, Kuwait, Bahrain, hingga Uni Emirat Arab (UEA).
Situs pelacakan penerbangan FlightRadar24 menunjukkan tidak ada aktivitas penerbangan di ruang udara UEA setelah pemerintah setempat mengumumkan partial and temporary closure.
Keputusan ini memaksa penutupan tiga hub internasional paling vital di dunia:
- Dubai International Airport
- Zayed International Airport
- Hamad International Airport
Ketiga bandara ini melayani sekitar 90.000 penumpang per hari, menjadikan dampaknya sangat masif bagi arus penerbangan global.
Lebih dari 1.000 penerbangan dibatalkan
Menurut perusahaan analitik penerbangan Cirium, terdapat:
- 4.218 penerbangan yang dijadwalkan mendarat di negara-negara Timur Tengah pada Sabtu (28/2/2026), sebanyak 966 dibatalkan (22,9 persen)
- Jika dihitung dengan penerbangan keluar, total pembatalan melampaui 1.800 penerbangan
- Untuk Minggu, 716 dari 4.329 penerbangan juga telah dibatalkan
Secara global, FlightAware mencatat 18.000 penerbangan mengalami keterlambatan dan lebih dari 2.350 dibatalkan.
Maskapai besar Timur Tengah lumpuh
Operasional tiga maskapai raksasa terganggu:
- Emirates
- Qatar Airways
- Etihad Airways
Banyak pesawat terpaksa mengalihkan rute ke Athena, Istanbul, hingga Roma, atau bahkan kembali ke bandara asal.
Salah satu contoh ekstrem: sebuah pesawat dari Philadelphia sudah mencapai Spanyol tetapi kemudian berputar kembali, membuat perjalanan berlangsung hampir 15 jam tanpa mendarat.
Kerusakan bandara dan korban jiwa
Serangan balasan Iran menyebabkan sejumlah fasilitas menjadi target.
Bandara Internasional Dubai dan hotel ikonis Burj Al Arab mengalami kerusakan, melukai empat orang.
Bangunan ikonik Burj Al Arab dengan latar Burj Khalifa dilihat dari The View at The Palm, Palm Jumeirah, Dubai, Uni Emirat Arab, Senin (28/10/2024). Burj Al Arab merupakan salah satu bangunan ikonik di Dubai dan berdekatan dengan Palm Jumeirah.
Di Abu Dhabi, sebuah insiden di Zayed International Airport menewaskan satu orang dan melukai tujuh lainnya, menurut unggahan yang sempat muncul di X oleh Abu Dhabi Airports.
Maskapai dunia ikut batalkan rute
Gelombang pembatalan turut dilakukan maskapai internasional:
- Air India membatalkan seluruh penerbangan ke Timur Tengah.
- Turkish Airlines menghentikan penerbangan ke Lebanon, Suriah, Irak, Iran, dan Yordania.
- Delta Air Lines dan United Airlines menangguhkan penerbangan ke Tel Aviv.
- KLM, Lufthansa, Air France, Transavia, dan Pegasus menghentikan rute ke Lebanon.
- Virgin Atlantic menghindari terbang di atas Irak sehingga waktu tempuh ke India, Maladewa, dan Riyadh menjadi lebih lama.
- British Airways menunda penerbangan ke Tel Aviv dan Bahrain.
Penutupan wilayah udara di berbagai negara
- Iran: ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut
- Israel: ditutup untuk semua penerbangan sipil
- Qatar: ditutup sementara
- Irak: wilayah udara ditutup penuh
- UEA: penutupan parsial dan sementara
- Suriah: wilayah selatan ditutup selama 12 jam
- Yordania: melakukan latihan pertahanan udara intensif
- Kuwait: menutup wilayah udara
Dampak ekonomi dan operasional
Penutupan wilayah udara ini menyebabkan:
- Rute penerbangan memanjang karena pesawat harus mengitari area konflik melalui Arab Saudi
- Konsumsi bahan bakar meningkat, menaikkan biaya operasional
- Kemungkinan harga tiket naik jika krisis berlangsung lebih lama
- Tekanan tambahan bagi pengatur lalu lintas udara Arab Saudi
- Negara yang menutup wilayah udara kehilangan pemasukan dari overflight fee
Kapan situasi pulih?
Menurut Mike McCormick, mantan pejabat Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA):
36 jam ke depan, beberapa bagian wilayah udara mungkin dibuka kembali jika risiko serangan Iran menurun dan koordinasi dengan AS–Israel menjadi jelas.
Namun hingga kini, belum ada kepastian berapa lama gangguan penerbangan akan berlangsung.
Sebagai pembanding, serangan gabungan AS–Israel pada Iran pada Juni 2025 berlangsung 12 hari.
Penumpang diminta pantau jadwal secara berkala
Maskapai di seluruh dunia sudah mengeluarkan travel waiver, memungkinkan penumpang mengubah jadwal tanpa biaya tambahan.
Kisah Jonathan Escott dari Inggris menjadi gambaran kekacauan ini. Ia datang ke bandara Newcastle, tetapi mendapati penerbangan langsung ke Dubai dibatalkan:
“Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi,” ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang