Insiden Pesawat ANA Mendarat Darurat dengan Satu Mesin, Penumpang Selamat
Maskapai All Nippon Airways (ANA) mengalami insiden teknis pada Selasa (1/4/2026), ketika pesawat Boeing 777-200ER yang mengoperasikan penerbangan NH65 dari Tokyo Haneda terpaksa mendarat dengan satu mesin di New Chitose Airport.
Dilansir dari Travel and Tour World serta The Aviation Hub, insiden terjadi saat fase pendekatan setelah kru mendeteksi suhu oli mesin kiri (No. 1) meningkat melampaui batas operasional aman.
Kondisi tersebut memicu prosedur standar dengan mematikan mesin dan menyiapkan pendaratan satu mesin.
Menurut laporan insiden, pesawat berhasil mendarat dengan aman di landasan pacu 19L pada pukul 14.57 waktu setempat.
Pesawat kemudian berhenti selama sekitar 10 menit di landasan untuk pemeriksaan oleh tim Aircraft Rescue and Firefighting (ARFF).
Kronologi: Dari Penerbangan Normal hingga Gangguan Mesin
Penerbangan NH65 berangkat dari Tokyo Haneda menuju Chitose dengan membawa sekitar 327 orang, terdiri dari 317 penumpang dan 10 awak pesawat.
Namun, beberapa laporan lain menyebut jumlah penumpang sebanyak 323 orang.
Pada awal perjalanan, penerbangan berlangsung normal tanpa kendala.
Masalah mulai muncul ketika pesawat mendekati tujuan.
Berdasarkan data Flightradar24, pesawat sempat melakukan go-around atau pendaratan ulang pada pendekatan pertama ke landasan pacu 01R di New Chitose.
Tak lama setelah manuver tersebut, indikator di kokpit menunjukkan adanya kenaikan suhu oli yang tidak normal pada mesin kiri.
Kondisi ini berpotensi membahayakan jika tidak segera ditangani.
Pilot kemudian mengambil langkah cepat dengan mematikan mesin yang terdampak sebagai bagian dari sistem perlindungan, sekaligus memastikan pesawat tetap dapat diterbangkan dengan aman.
Pesawat juga tercatat sempat berputar di udara selama sekitar tujuh menit di wilayah Hidaka, Hokkaido, untuk memberikan waktu bagi kru menyelesaikan prosedur sebelum melakukan pendekatan akhir.
Pendaratan Aman dengan Satu Mesin
Pesawat akhirnya melakukan pendaratan dengan satu mesin di landasan pacu 19L pada pukul 14.57 waktu setempat.
Setelah mendarat, pesawat tidak langsung menuju parkir, melainkan berhenti di landasan selama sekitar 10 menit.
Hal ini dilakukan untuk pemeriksaan awal oleh tim pemadam kebakaran dan penyelamatan bandara (Aircraft Rescue and Firefighting/ARFF).
Dari hasil pemeriksaan tersebut, tidak ditemukan adanya tanda kebakaran maupun kebocoran pada mesin.
Setelah dinyatakan aman, pesawat kemudian melanjutkan pergerakan dengan tenaga sendiri menuju area parkir (Spot 8) dan tiba pada pukul 15.24, atau sekitar 27 menit setelah pendaratan.
ANA menyatakan bahwa insiden ini tidak dikategorikan sebagai keadaan darurat, meskipun sejumlah media sempat melaporkannya sebagai situasi darurat.
Dampak ke Operasional Penerbangan
Insiden ini berdampak langsung pada pembatalan penerbangan lanjutan NH68 rute Chitose–Tokyo Haneda yang dijadwalkan berangkat pukul 15.30 waktu setempat.
Maskapai kemudian mengalihkan penumpang ke penerbangan lain sebagai bentuk penanganan terhadap gangguan operasional.
Secara keseluruhan, pembatalan NH68 menjadi satu-satunya dampak signifikan dari insiden ini, sementara jadwal penerbangan lainnya tetap berjalan normal.
Profil Pesawat dan Sistem Keamanan
Pesawat yang terlibat dalam insiden ini memiliki registrasi JA745A, berusia sekitar 12,8 tahun, dan telah beroperasi bersama ANA sejak Juni 2013.
Pesawat ini memiliki konfigurasi hingga 392 kursi, terdiri dari 28 kursi kelas premium dan 364 kelas ekonomi.
Selama masa operasionalnya, pesawat ini juga sempat mengalami perubahan konfigurasi kabin dari C21Y384 menjadi C28Y364 pada 2022.
Selain itu, pesawat ini juga pernah menggunakan livery khusus, termasuk tema “Demon Slayer” pada periode 2022 hingga 2024.
200ER dilengkapi dua mesin Pratt & Whitney PW4074D, yang masing-masing mampu menghasilkan daya dorong hingga 90.000 pon.
Dalam insiden ini, kenaikan suhu oli memicu sistem perlindungan mesin, yang secara otomatis atau prosedural mengharuskan mesin dimatikan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
Pesawat jenis ini juga telah tersertifikasi dalam standar ETOPS (Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards), yang memungkinkan pesawat tetap terbang dan mendarat dengan aman meski hanya menggunakan satu mesin dalam kondisi tertentu.
Penanganan Kru dan Keselamatan Penumpang
Meski situasi yang terjadi tidak biasa, awak pesawat dinilai mampu menangani kondisi dengan cepat dan tepat.
Keputusan untuk mematikan mesin dan melanjutkan penerbangan dengan satu mesin merupakan bagian dari prosedur keselamatan yang telah dilatih secara intensif.
Tidak ada laporan cedera dalam insiden ini, baik dari penumpang maupun awak pesawat.
Peristiwa ini sekaligus menunjukkan bahwa sistem keselamatan dalam penerbangan modern, ditambah dengan kesiapan kru, mampu menjaga keselamatan penerbangan meski terjadi gangguan teknis di udara.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang