Puasa Terlama 2026 Tembus 18 Jam, Ini Negaranya

Durasi puasa selama Ramadan 2026 diperkirakan akan berbeda signifikan di berbagai belahan dunia.
Perbedaan ini dipengaruhi oleh letak geografis serta panjang siang hari di masing-masing negara.
Dilansir dari Khaleej Times, waktu puasa dihitung sejak terbit fajar (Subuh) hingga terbenam matahari (Maghrib).
Karena posisi matahari tidak sama di setiap wilayah, durasi puasa pun bisa terpaut hingga beberapa jam.
Negara dengan puasa terlama
Negara-negara di kawasan utara Bumi yang mendekati Kutub Utara diperkirakan mengalami durasi puasa paling panjang pada Ramadan 2026.
Di Tromsø, Norwegia, waktu puasa dapat melebihi 18 jam dalam sehari.
Sementara itu, Reykjavik, Islandia, mencatat durasi sekitar 17 jam 28 menit.
Wilayah utara Eropa lainnya juga mengalami puasa lebih dari 17 jam karena memasuki periode musim semi menuju musim panas, ketika siang hari berlangsung lebih lama.
Negara dengan puasa lebih singkat
Sebaliknya, negara yang berada lebih dekat dengan garis khatulistiwa atau di belahan Bumi selatan cenderung memiliki durasi puasa lebih pendek.
Beberapa durasi puasa Ramadan 2026 di berbagai kota dunia antara lain:
- Tromsø, Norwegia: lebih dari 18 jam
- Reykjavik, Islandia: sekitar 17 jam 28 menit
- Berlin, Jerman: sekitar 15 jam 15 menit
- Paris, Prancis: sekitar 15 jam 2 menit
- Dubai, Uni Emirat Arab: sekitar 14 jam 3 menit
- Jakarta, Indonesia: sekitar 13 jam 17 menit
- Auckland, Selandia Baru: sekitar 13 jam 23 menit
Daftra negara diatas menunjukkan adanya selisih durasi puasa hingga lima jam antara Eropa Utara dan kawasan Asia Tenggara.
Mengapa bisa berbeda?
Perbedaan panjang puasa terjadi karena adanya variasi panjang siang hari di setiap wilayah.
Negara yang jauh dari garis khatulistiwa mengalami perubahan musim yang lebih ekstrem.
Pada saat mendekati musim panas, siang hari menjadi lebih panjang sehingga waktu puasa ikut bertambah.
Sebaliknya, negara tropis seperti Indonesia yang memiliki durasi siang dan malam yang relatif stabil sepanjang tahun, sehingga lama puasa tidak berubah secara drastis.
Apa Dampaknya bagi Umat Muslim?
Variasi durasi ini memengaruhi pola aktivitas dan persiapan fisik umat Muslim di masing-masing negara.
Di wilayah dengan puasa sangat panjang, umat Islam perlu menjaga stamina lebih optimal karena waktu berbuka yang lebih lama menunggu.
Sementara itu, di negara dengan durasi puasa lebih singkat, waktu istirahat malam relatif lebih panjang.
Meski demikian, jadwal resmi puasa tetap mengikuti ketetapan otoritas keagamaan setempat.
Perbedaan metode penentuan awal Ramadan di berbagai negara juga dapat memengaruhi kapan ibadah puasa dimulai.
Perbedaan panjang-pendeknya puasa ini menjadi salah satu dinamika Ramadan global yang menarik setiap tahunnya, terutama bagi umat Islam yang tinggal di wilayah dengan perubahan musim ekstrem.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang