Kebiasaan Makan Sendirian Bikin Lansia Rentan Alami Masalah Kesehatan
Kebiasaan lanjut usia (lansia) makan sendirian bisa membuat mereka lebih rentan mengalami masalah kesehatan. Hal ini menurut kajian terbaru beragam studi oleh peneliti dari Flinders University, Australia.
"Makanan tidak hanya memberikan manfaat gizi. Berbagi makanan adalah aktivitas sosial yang penting yang dapat memengaruhi nafsu makan, keragaman diet, dan kesejahteraan secara keseluruhan," tutur penulis utama kajian tersebut, sekaligus ahli gizi berlisensi dan kandidat PhD di Caring Futures Institute, Caitlin Wyman, dilansir dari SciTechDaily, Senin (24/11/2025).
Lansia yang makan sendirian konsumsi sayur lebih sedikit
Dipublikasikan di jurnal Appetite, kajian ini menggabungkan hasil 24 studi internasional, dari Jepang hingga Amerika Serikat, tentang kebiasaan makan lansia berusia 65 tahun ke atas yang hidup mandiri.
Hasilnya, lansia yang sering makan sendirian cenderung memiliki kualitas diet yang lebih rendah. Mereka juga lebih jarang makan buah, sayur, dan makanan berprotein seperti daging. Padahal protein penting untuk menjaga massa otot dan fungsi fisik.
Lansia di Swedia yang makan sendirian dinilai 32 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengonsumsi sayur-sayuran secara rutin.
Para lansia ini juga mengandalkan makanan siap saji hampir empat kali lebih sering daripada mereka yang makan bersama orang lain, dilansir dari StudyFinds.org.
Wyman menambahkan, penelitian sebelumnya sudah menunjukkan bahwa rasa kesepian dan terisolasi bisa membuat seseorang makan lebih sedikit.
Namun, penelitian terbaru ini menyoroti dampak fisik dan nutrisi pada lansia yang makan sendirian dibanding mereka yang makan bersama.
Tak hanya pengaruhi gizi, tapi juga massa otot
Lansia yang sering makan sendirian rentan mengalami masalah kesehatan. Simak penjelasan lengkap para peneliti.
Kajian ini ini mengambil data dari lebih dari 80.000 lansia di 12 negara. Hasilnya menunjukkan bahwa lingkungan saat makan sangat memengaruhi kesehatan lansia.
Beberapa studi lain juga menemukan bahwa lansia yang makan sendirian memiliki risiko lebih tinggi mengalami penurunan berat badan yang tidak disengaja, ditambah risiko frailty.
Adapun penurunan berat badan yang tak disengaja pada lansia bisa mengkhawatirkan karena memicu beragam masalah kesehatan. Bahkan, bisa berisiko kematian yang lebih tinggi.
Sementara itu, frailty dalam hal ini lebih dari sekadar mudah lemah. Frailty merupakan gejala medis ketika seseorang kehilangan kekuatan dan ketahanan.
Setelah kelemahan muncul, lansia menjadi rentan terjatuh, mengalami cacat, dan kehilangan kemampuan untuk hidup mandiri.
Lansia yang sering makan sendirian rentan mengalami masalah kesehatan. Simak penjelasan lengkap para peneliti.
Para peneliti menilai, kebiasaan makan saat tua tidak hanya dipengaruhi faktor fisik seperti menurunnya rasa lapar atau perubahan selera. Faktor sosial punya pengaruh yang tidak kalah besar.
“Kami tahu bahwa penuaan membawa perubahan fisiologis, seperti berkurangnya sinyal lapar dan perubahan rasa, tapi temuan kami menunjukkan bahwa faktor sosial sama pentingnya,” ucap Wyman.
"Makan bersama memperkuat ikatan, kesenangan, dan gizi. Mendorong kesempatan untuk makan bersama, baik itu dengan keluarga, teman, atau program komunitas, dapat membantu meningkatkan asupan makanan, status gizi, dan kualitas hidup bagi lansia yang tinggal di rumah," tambahnya.
Pentingnya deteksi dini dalam layanan kesehatan
Lansia yang sering makan sendirian rentan mengalami masalah kesehatan. Simak penjelasan lengkap para peneliti.
author kajian ini, Dr. Alison Yaxley menuturkan, kajian ini penting bagi layanan dan perawatan lansia.
“Pertanyaan sederhana tentang kebiasaan makan dapat membantu mengidentifikasi orang yang berisiko nutrisi lebih tinggi," ucap Yaxley yang juga periset dari Flinders University.
Para peneliti juga menyarankan program berbasis komunitas, seperti kelompok makan warga, kegiatan makan lintas generasi, atau kerja sama dengan kafe setempat. Semua program ini dapat membantu mengurangi jumlah lansia yang makan sendirian.
Namun, kajian ini memiliki batasan yang sebaiknya dicermati. Sebagian besar studi bersifat snapshot daripada mengikuti partisipan selama periode waktu tertentu sehingga tidak dapat membuktikan bahwa makan sendirian secara langsung menyebabkan masalah kesehatan.
Selain itu, tidak ada metode standar yang digunakan peneliti untuk mengukur "makan sendirian" di seluruh studi. Beberapa studi mengamati pola harian, sedangkan yang lain fokus pada kebiasaan mingguan atau bulanan.
Tidak hanya itu, lima dari 24 studi tidak menemukan efek negatif sama sekali dari makan sendirian.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.