Ukuran Organ Intim Pria Ternyata Bisa Diturunkan dari Orang Tua, Ini Penjelasan yang Jarang Diketahui

ilustrasi pria berjanggut, cegukan, sendawa
ilustrasi pria berjanggut, cegukan, sendawa

 Pembahasan organ intim pria selalu menarik untuk disimak, termasuk soal ukuran organ intim. Disebut-sebut ukuran organ intim pria itu bersifat turunan. Tapi sebenarnya apa yang menentukan ukuran penis?

Apakah ukuran organ intim pria sepenuhnya ditentukan oleh faktor genetik? Ternyata, pertanyaan-pertanyaan ini termasuk soal dari mana “gen ukuran penis” berasal dan seberapa besar peran lingkungan tidak sesederhana yang dibayangkan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ukuran penis merupakan hasil kerja sama genetik dari kedua orang tua. Meski sebagian besar gen yang berperan dalam ukuran penis berada di kromosom X.

“Ada juga beberapa gen di kromosom Y yang berkaitan dengan panjang dan ukuran penis. Jadi, kamu tidak bisa sepenuhnya menyalahkan ibu jika ukuran penis kecil,” ujar ahli urologi Jamin Brahmbhatt, M.D dikutip dari laman fatherly, Selasa 16 Desember 2025.

Apa yang Menentukan Ukuran Penis?

Janin tidak langsung memiliki penis selama tujuh minggu pertama di dalam kandungan. Baru pada minggu kedelapan, alat kelamin mulai berkembang dan berdiferensiasi. Kalau masih ingat pelajaran biologi di sekolah, orang dengan kromosom Y akan mulai menumbuhkan penis.

Namun, soal ukuran penis, para ilmuwan belum bisa memastikan orang tua mana yang pengaruhnya lebih besar. Fakta bahwa saudara kandung laki-laki bisa memiliki ukuran penis yang sangat berbeda membuat sebagian ahli menduga pengaruh kromosom X dari ibu cukup besar. Jika ukuran penis sepenuhnya ditentukan oleh kromosom Y, maka anak laki-laki dengan ayah yang sama seharusnya memiliki ukuran penis yang hampir sama. Kenyataannya tidak demikian.

Lantaran ukuran penis lebih banyak dipengaruhi kromosom X, seorang anak laki-laki bisa mewarisi gen ukuran penis dari salah satu dari dua kromosom X milik ibunya. Artinya, satu saudara bisa memiliki ukuran penis lebih besar, sementara saudaranya yang lain justru lebih kecil.

Meski faktor genetik memegang peran besar, ukuran penis juga dipengaruhi kombinasi antara faktor bawaan dan lingkungan. Paparan ibu terhadap bahan kimia tertentu seperti ftalat, serta konsumsi obat-obatan dan alkohol selama kehamilan, bisa memengaruhi ukuran penis anak. Namun, jika bayi lahir dengan penis kecil akibat faktor lingkungan, biasanya ukuran penis bukanlah masalah medis yang paling utama.

Menurut pengalaman Brahmbhatt, masalah kesehatan paling umum yang berkaitan dengan ukuran penis terjadi ketika bayi tidak memproduksi hormon testosteron dalam jumlah yang cukup. Kondisi ini bisa menyebabkan mikropenis, yaitu penis dengan panjang kurang dari sekitar 7,5 cm. Pada bayi baru lahir, membedakan mikropenis dengan penis normal memang tidak mudah, tetapi dokter kini semakin andal dalam mendeteksi kondisi ini sejak dini dan menanganinya dengan terapi hormon sebelum masa pubertas.

Sebagian orang dewasa mungkin mengira terapi testosteron bisa membantu menambah ukuran penis. Namun Brahmbhatt menegaskan, terapi ini hanya efektif pada masa kanak-kanak dan hanya untuk anak yang memang didiagnosis mikropenis.

Perlu diketahui, mikropenis tergolong kondisi yang jarang. Meski begitu, penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pria tidak puas dengan ukuran penisnya. Ketidakpuasan ini kerap dikaitkan dengan kesehatan seksual yang buruk dan rendahnya rasa percaya diri. Padahal, tidak ada bukti bahwa penis kecil memengaruhi gairah seksual atau kesuburan, kecuali jika memang ada masalah hormon yang mendasarinya.

Cara terbaik untuk mencegah rasa minder berlebihan adalah dengan membicarakan soal anatomi penis yang sehat dan normal kepada anak-anak. Brahmbhatt, yang juga ayah dari tiga anak, mengakui bahwa hal ini tidak mudah. Namun, menurutnya, ini sangat penting. Jika anak tidak mendapatkan informasi yang benar dari orang tua, mereka akan mencarinya dari sumber lain yang belum tentu dapat dipercaya.

“Saat rasa ingin tahu mereka muncul, kemungkinan besar mereka akan mencari di pornografi. Dan apa yang mereka lihat di sana bukan gambaran yang normal. Membicarakan hal ini bisa mengurangi stres dan kecemasan mereka, tapi sayangnya kebanyakan orang tua tidak melakukannya,”kata Brahmbhatt.