Warga Pamekasan Temukan Serpihan Emas di Sungai, Diduga Sisa Peleburan Juragan Emas

Warga Kelurahan Parteker, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, dihebohkan dengan fenomena perburuan serpihan emas di aliran sungai setempat. Fenomena ini telah berlangsung selama sepekan terakhir dan menarik minat warga untuk mengais rezeki di dasar kali.
Berdasarkan pantauan di lokasi, warga mencari butiran logam mulia tersebut menggunakan alat tradisional rakitan sendiri.
Ukuran emas yang ditemukan bervariasi, mulai dari butiran halus seberat 1 miligram hingga 3 miligram.
Diduga Sisa Peleburan Juragan Emas
Salah satu warga yang rutin mencari emas, Syarifurrahman, mengungkapkan bahwa serpihan emas tersebut diduga berasal dari limbah peleburan perhiasan milik pengusaha emas yang tinggal di sekitar bantaran sungai.
"Di sini ada juragan emas dulu. Serpihan-serpihan emas tidak sengaja terbuang saat selesai melebur emas murni," ujar Syarifurrahman saat ditemui, Minggu (1/2/2026) malam.
Pria yang akrab disapa Arif ini menjelaskan bahwa emas yang ia temukan memiliki bentuk yang tidak beraturan.
"Ukurannya macam-macam. Ada yang sangat kecil hampir tidak terlihat kasat mata," tambahnya.
Raup Penghasilan hingga Rp 3 Juta
Meski butuh ketelitian tinggi, hasil dari berburu emas di kali ini ternyata cukup menjanjikan. Arif mengaku tidak hanya menemukan serpihan kecil (gramasi rendah), tetapi terkadang mendapatkan perhiasan dalam bentuk utuh.
"Pernah juga sehari tidak dapat apa-apa. Tapi, saat ada rezeki pernah menjual emas hingga Rp 3 juta. Saat itu saya menemukan anting, bentuknya masih utuh," ungkap Arif.
Menurutnya, pendapatan dari hasil mengumpulkan serpihan emas tersebut tidak menentu, namun seringkali ia berhasil mengantongi uang lebih dari Rp 1 juta dari hasil penjualan ke pengepul atau toko emas.
Teknik Mencari Emas: Harus Teliti dan Sabar
Proses pencarian emas di sungai ini membutuhkan kesabaran ekstra. Warga menggunakan alat berbentuk bulat mirip nampan yang biasa digunakan penambang emas tradisional untuk memisahkan pasir dengan logam.
"Harus pelan-pelan dan teliti. Sehingga emas tidak terbuang lagi. Karena emas pasti terpisah dengan pasir saat airnya dibuang sedikit demi sedikit pada alat ini," jelas Arif.
Kesulitan bertambah jika pencarian dilakukan malam hari karena keterbatasan cahaya. Namun, banyak warga lebih memilih waktu malam karena cuaca yang tidak terik.
Kendala Cuaca dan Debit Air
Pencari emas lainnya, Rian Hidayat, mengamini bahwa pekerjaan ini sangat bergantung pada faktor keberuntungan dan kondisi alam.
Jika hujan deras mengguyur wilayah Pamekasan dan debit air sungai meningkat, aktivitas pencarian otomatis terhenti.
"Kalau permukaan air kali tinggi karena hujan, pencarian tidak bisa dilakukan," kata Rian.
Rian biasanya mulai turun ke sungai sejak pukul 08.00 WIB hingga malam hari. Baginya, pekerjaan ini menjadi alternatif untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga.
"Pekerjaan ini tergantung rezeki. Kadang dapat sedikit, kadang dapat banyak. Kadang tidak dapat emas sama sekali. Kalau malam memang lebih nyaman karena tidak panas, tapi hanya dibantu penerangan lampu," pungkasnya.
Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang