Kisah Warga Pati Terobos Banjir Gunakan Perahu untuk Antar Jenazah ke Makam
Suasana duka menyelimuti Desa Mintobasuki, Kamis pagi (15/1/2026), di tengah banjir yang masih merendam permukiman warga.
Banjir yang melanda wilayah Kecamatan Gabus memaksa aktivitas warga dilakukan dengan berbagai keterbatasan.
Di tengah kondisi tersebut, warga harus berjuang mengevakuasi jenazah seorang penduduk menggunakan perahu.
Kisah warga di tengah banjir Pati ini menjadi gambaran beratnya dampak banjir terhadap kehidupan sehari-hari.
Warga Terobos Banjir untuk Antar Jenazah ke Makam
Sebuah perahu kayu bermesin tempel melaju perlahan di atas air berwarna kecokelatan yang merendam rumah warga hingga setinggi paha orang dewasa.
Perahu itu difungsikan sebagai ambulans air dadakan untuk mengangkut jenazah almarhum Warsono (53), warga RT 4 RW 1 Desa Mintobasuki.
Karena banjir yang melanda, jenazah terpaksa dievakuasi melalui jalur air karena akses jalan menuju permakaman umum lumpuh total.
Keranda jenazah ditutup terpal biru, sementara beberapa pengiring duduk di atas perahu sambil memegang payung untuk melindungi jenazah dari rintik hujan.
Akses Darat Lumpuh, Perahu Jadi Satu-satunya Pilihan
Sejumlah warga lainnya berjalan setapak demi setapak menerjang genangan air sedalam paha untuk menuntun perahu agar sampai ke tempat pemakaman.
Di tengah kepungan banjir yang terus meninggi, warga harus mengerahkan tenaga ekstra demi memakamkan salah satu tetangganya.
Dengan khidmat, warga menaikkan keranda ke atas perahu kayu untuk menempuh perjalanan sekitar dua kilometer menuju lokasi pemakaman.
Sekretaris Desa Mintobasuki, Abdul Mustaji, membenarkan penggunaan perahu tersebut merupakan hasil kesepakatan keluarga dan warga.
"Tadi kontak mobil jenazah ternyata sedang dipakai. Akhirnya pihak keluarga dan masyarakat sepakat diantar melalui perahu. Karena lokasi makamnya melewati jalur sawah yang semuanya sudah terendam, jadi memungkinkan untuk dilewati perahu," ujar Abdul Mustaji saat dikonfirmasi TribunJateng.com melalui sambungan telepon.
Mustaji menambahkan, jalur yang dilewati perahu melintasi area persawahan yang kini telah berubah menjadi hamparan air.
Meski sebagian besar area permakaman mulai terendam, pihak desa memastikan masih terdapat titik tanah yang cukup tinggi untuk proses pemakaman.
Banjir Meluas Akibat Luapan Sungai
Menurut Mustaji, banjir di Desa Mintobasuki mulai terjadi sejak Sabtu sore (10/1/2026) akibat luapan Sungai Silugonggo.
Hingga Kamis, ketinggian air terus menunjukkan tren kenaikan.
Data pemerintah desa mencatat sedikitnya 241 rumah terendam banjir. Dampaknya dirasakan oleh 313 kepala keluarga atau sekitar 800 jiwa.
"Ketinggian air di dalam rumah berkisar antara 5 hingga 60 sentimeter. Sementara di jalan raya, ketinggiannya mencapai 5 hingga 90 sentimeter. Sepeda motor kecil sudah tidak bisa melintas," jelasnya.
Dampak Banjir Pati terhadap Pertanian dan Kesehatan Warga
Tak hanya permukiman, banjir Pati juga melumpuhkan sektor pertanian. Sebanyak 6 hektare tanaman padi muda dan 65 hektare padi siap panen dilaporkan terendam.
Kerugian materi akibat kerusakan lahan pertanian diperkirakan mencapai Rp515 juta.
Kondisi warga kian memprihatinkan. Mustaji menyebut banyak warga mulai mengeluhkan penyakit kulit seperti gatal-gatal akibat genangan air.
Namun hingga kini, belum ada posko kesehatan darurat yang berdiri di lokasi banjir.
"Kalau keluhan gatal-gatal sudah banyak. Posko kesehatan belum ada, mungkin masih dikoordinasikan. Untuk bantuan, kemarin baru ada kiriman mi instan dari Kemenag. Dari donatur mungkin memang bantuannya terbagi-bagi karena banjir ini memang merata (di seluruh Pati)," tandas dia.
Artikel ini telah tayang di TibunJateng.com dengan judul “Terobos Banjir, Warga Mintobasuki Pati Antar Jenazah ke Makam Gunakan Perahu”.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang