"Kami Menunggu Hujan Reda untuk Panen, tapi Kini Sawahnya Hilang Tersapu Banjir"

Pilu masih dirasakan warga di Desa Meuse, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh selepas banjir Sumatera yang menerjang pada 26 November 2025.

Dua puluh hari pascabanjir, ratusan warga masih tidur berdesakan di lantai posko pengungsian, hanya beralaskan tikar sederhana.

Baju yang dikenakan pun seadanya saja. 

"Karena banyak baju warga yang sudah tertimbun lumpur, tak bisa diambil lagi. Tapi sebagian bisa dicuci dan dibersihkan dari lumpur yang menempel," papar Zahrul Fuadi, sekretaris desa, kepada Kompas.com, Selasa (16/12/2025) melalui sambungan telepon.

"Sawah kami lenyap"

Kesedihan warga Meuse tidak hanya soal rumah yang sekarang tidak layak huni lagi karena tertimbun lumpur, tapi juga karena sebagian warga kini kehilangan mata pencaharian.

"Kebanyakan warga desa di sini ya bertani, punya sawah dan ladang, Total ada sekitar 17 hektar ladang milik warga Meuse," papar Fuad.

Menurut Fuad, beberapa hari sebelum air bah menerjang, warga desa sebenarnya tengah penuh senyum karena padi sudah menguning, tinggal menunggu untuk dipanen.

"Sebelum banjir itu, memang hujan terus, makanya kami sabar menunggu hujan reda untuk akhirnya panen padi," kenang Fuad.

Namun sayang, takdir berkata lain. Tepat pada Rabu (26/11/2025) pagi, banjir mulai "bertamu" ke Desa Meuse. 

"Kami benar-benar tidak mengira akan banjir sebesar itu. Ini pertama kalinya. Biasanya di tahun-tahun kemarin, ketinggian air maksimal hanya 30 cm saja, itu pun hanya di jalan-jalan yang rendah," papar Fuad.

Pada puncaknya, banjir mengalir deras menerjang Desa Meuse, dengan ketinggian air mencapai 3 meter. 

Warga pun berlarian mengungsi. Beberapa terjebak arus dan harus berpegangan pada pohon kelapa dan rambutan, dan bertahan di sana semalam suntuk hingga air surut.

"Alhamdulillah, warga Meuse semua selamat, tak ada korban jiwa," ujar Fuad penuh syukur.

Meski begitu, selepas air surut, warga harus menelan pil pahit dua kali. Selain rumah rusak, sawah dan ladang pun lenyap.

"Kami menunggu hujan reda untuk panen, tapi kini sawahnya sudah hilang tersapu banjir," kenang Fuad.

Potret di pengungsian

Warga Desa Meuse di Bireuen, Aceh, tengah membersihkan rumahnya dari lumpur.

Semenjak 27 November hingga hari ini, ratusan warga Meuse masih tinggal di pengungsian.

Di Desa Meuse, ada dua dapur umum yang tiap hari mengepul demi menjaga perut warga dari kelaparan. 

Empat orang bertugas di masing-masing dapur umum, mengolah beras dan lauk pauk yang dikirim oleh para relawan.

Stok beras cukup melimpah. Tapi tidak begitu dengan lauk pauk yang stoknya sering menipis.

Di dalam kondisi terhimpit, Fuad bersyukur kini ada kiriman makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah yang datang rutin.

Selama sekolah belum aktif akibat bencana, MBG disalurkan ke desa-desa, termasuk ke Meuse.

Pada Senin (15/12/2025), bantuan MBG datang dengan lauk ayam, memberi hiburan tersendiri bagi warga yang selama ini dijejali dengan makanan-makanan instan seadanya.

"Jadi menu harian kami ya mi instan. Semalam agak istimewa, karena selain mi instan, juga ada ikan asin yang kami beli sendiri di pasar. Tapi menu ini tak setiap hari ada karena keterbatasan dana," ujar Fuad.

Aliran listrik di Meuse sendiri sudah perlahan pulih, meski beberapa kali padam hingga hampir 24 jam.

Sedangkan untuk kebutuhan air bersih, warga menggantungkan stok dari sebuah sumur yang masih bisa digunakan untuk makan, minum, dan juga mandi.

Hingga kini, kesibukan warga di siang hari adalah membersihkan jalan desa dan rumah-rumah dari timbunan lumpur.

Mereka berharap, kehidupan segera pulih seperti sedia kala.

"Sebagian warga tak mau pindah dari sini. Karena memang di sinilah rumah kami," pungkas Fuad,

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini