Mengenal Nyadran, Tradisi Islam Kejawen Menyambut Ramadan, Sejarah, dan Maknanya

Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Jawa memiliki tradisi turun-temurun yang masih terjaga hingga kini, yakni Nyadran.
Tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bentuk integrasi mendalam antara ajaran Islam Kejawen dengan budaya lokal yang sarat akan makna spiritual dan sosial.
Dikutip dari kajian Muhamad Aminudin (UIN Sunan Ampel Surabaya) dalam Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam (KONMASPI) edisi Oktober 2024, Nyadran merupakan manifestasi penghormatan kepada leluhur sekaligus sarana mempererat ikatan kekeluargaan.
Sejarah dan Akulturasi Budaya
Secara historis, istilah Nyadran berakar dari kata dalam bahasa Sanskerta, Sraddha. Pada masa kerajaan Hindu-Buddha, Sraddha merupakan ritual penghormatan bagi arwah leluhur.
Memasuki abad ke-15 hingga 16, saat Islam mulai menyebar di tanah Jawa, para pendakwah, terutama Sunan Kalijaga, menggunakan pendekatan akomodatif. Beliau tidak menghapus tradisi lama, melainkan mengintegrasikannya ke dalam kerangka ajaran Islam.
Hasilnya, Nyadran bertransformasi menjadi kegiatan ziarah kubur, doa bersama, dan kenduri yang disesuaikan dengan nilai-nilai tauhid.
Rangkaian Ritual Nyadran: Dari Besik hingga Kenduri
Tidak ada puluhan gunungan dan ribuan orang yang bersiap berebut isi gunungan. Nyadran Agung tahun ini berlangsung sederhana lewat doa dan kenduri di rumah dinas bupati depan alun-alun Wates pada Rabu (19/2/2025) pagi. Peserta nyadran menggunakan pakaian adat.
Nyadran tidak dilakukan dalam satu tahap tunggal. Ada prosesi panjang yang melibatkan keterlibatan kolektif masyarakat:1. Besik (Pembersihan Makam)
Warga bergotong-royong membersihkan makam leluhur. Kegiatan ini melambangkan kesiapan batin dalam membersihkan diri menyambut Ramadan.
2. Tabur Bunga dan Doa
Prosesi ini menjadi simbol pengharapan agar leluhur mendapatkan kedamaian di akhirat. Doa-doa Islam seperti Al-Fatihah, Surah Ya-Sin, dan tahlil dilantunkan sebagai penghubung antara dunia yang hidup dengan yang telah tiada.
3. Kenduri atau Selamatan
Setelah ritual di makam, masyarakat berkumpul untuk makan bersama. Menu khas yang wajib ada adalah nasi tumpeng, yang melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan harapan akan keberkahan hidup.
"Nyadran bukan sekadar ritual adat, tetapi lebih sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, serta menunjukkan bakti kepada orang tua dan nenek moyang yang telah meninggal dunia," tulis Muhamad Aminudin dalam artikelnya.
Dimensi Spiritual dan Sosial
Jodhang, peti segi empat berisi aneka makanan untuk ritual Nyadran Pasar di Padukuhan Saren, Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Rabu (19/2/2025).
Bagi masyarakat Islam Kejawen, Nyadran memiliki dimensi spiritual yang dalam sebagai pengingat akan kematian (memento mori). Doa yang dipanjatkan diyakini mampu memberikan ketenangan bagi roh leluhur sekaligus mendatangkan keberkahan bagi mereka yang masih hidup.Dari sisi sosial, Nyadran berfungsi sebagai:
- Media Solidaritas: Momen untuk memperbaiki hubungan yang renggang dan mempererat persaudaraan.
- Distribusi Sosial: Melalui kenduri, masyarakat saling berbagi rezeki. Tak jarang, acara ini dibarengi dengan santunan untuk anak yatim dan warga yang membutuhkan.
- Edukasi Budaya: Menjadi sarana bagi generasi muda untuk belajar langsung tentang nilai-nilai penghormatan dan solidaritas.
Adaptasi Nyadran di Era Modern
Seiring perkembangan zaman, pelaksanaan Nyadran mengalami transformasi. Di kawasan perkotaan, ritual mungkin dilakukan lebih intim dan sederhana karena keterbatasan waktu dan mobilitas.
Namun, di banyak daerah lain, Nyadran justru dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya. Beberapa desa mengemas Nyadran dengan festival yang melibatkan:
- Pertunjukan seni tradisional (Wayang Kulit, Gamelan, dan Tari-tarian).
- Bazar dan pasar rakyat.
- Kirab budaya yang menarik wisatawan luar.
Meskipun terdapat kelompok yang mulai kritis terhadap unsur mistik dalam tradisi ini, mayoritas masyarakat Islam Kejawen tetap mempertahankan Nyadran sebagai identitas budaya yang hidup.
Tradisi ini terbukti mampu bertahan di tengah arus globalisasi sebagai platform pertemuan antara nilai lokal dan perkembangan dunia modern.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang