Tamasya An Nisa, Taman Asuh untuk Anak Petani dari Gotong Royong Warga

Tamasya An Nisa, Garut, kemendukbangga bkkbn, tamasya an nisa, rumah asuh, rumah asuh tamasy an nisa, Tamasya An Nisa, Taman Asuh untuk Anak Petani dari Gotong Royong Warga

Di Desa Mekarmukti, Kecamatan Caringin, Garut, berdiri sebuah taman asuh sederhana yang tumbuh dari kepedulian warga.

Namanya Tamasya An Nisa, tempat anak-anak petani belajar, bermain, dan diasuh saat orang tua mereka bekerja di ladang.

Tak ada biaya mahal di sini, hanya infak Rp500 per anak per hari, angka yang mungkin tak masuk akal bagi layanan pengasuhan anak.

Namun dari gotong royong itulah, tempat ini bisa berjalan hingga kini.

Saat meninjau Tamasya An Nisa dalam kunjungan kerjanya, Selasa (11/11/2025), Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, mengaku kagum.

Ia melihat langsung bagaimana warga desa memanfaatkan ruang seadanya untuk menjadi lokasi belajar bagi puluhan anak.

"Saya baru menemukan satu seperti ini di Indonesia, infaknya cuma 500 perak per anak per hari, tapi anak-anak tetap bisa belajar, bermain, dan diasuh dengan penuh kasih," ujarnya dikutip dari keterangan press release, Rabu (26/11/2025).

Ia juga menyoroti bagaimana anak-anak tetap mendapat pendidikan dasar, permainan edukatif, hingga Makan Bersama Gratis (MBG) setiap hari meskipun iuran hanya seikhlasnya.

Berawal dari kebutuhan ibu-ibu petani

Tamasya An Nisa bermula dari kebutuhan para ibu yang setiap hari bekerja di sawah.

Mereka kerap kebingungan harus membawa anak yang masih kecil, sementara kondisi ladang tidak aman untuk bermain.

Dari situ, beberapa warga mulai menitipkan anak kepada Bu Juju, yang kemudian menjadi pengelola taman asuh ini.

Jumlah anak yang dititipkan terus bertambah, hingga akhirnya taman asuh dibentuk secara lebih terorganisasi.

Meski ada imbauan infak Rp500 per hari, Bu Juju menegaskan bahwa konsepnya tetap seikhlasnya.

Banyak keluarga yang tidak mampu membayar penuh, namun kegiatan tetap berjalan karena pengelola tidak menuntut bayaran.

Dengan bantuan warga, donasi kecil, dan semangat gotong royong, kebutuhan alat tulis, mainan edukatif, serta kegiatan belajar bisa terpenuhi.

Para pengasuh pun bekerja dengan semangat kerelawanan.

Menteri Wihaji menyebut mereka sebagai guru "bergaji sajuta, yakni sabar, jujur, tawakal", menggambarkan ketulusan para pendidik yang menjaga anak-anak dengan penuh kasih.

Bikin Menteri Wihaji kagum

Kekaguman Menteri Wihaji tak hanya pada nilai infak yang sangat terjangkau, tetapi juga pada cara masyarakat menjaga keberlangsungan taman asuh ini.

Ia menilai Tamasya An Nisa sebagai contoh integrasi antara inisiatif warga dan program pemerintah dalam membangun keluarga berkualitas.

Ia bahkan berkomitmen membantu menambah fasilitas, mengingat jumlah anak yang kini mencapai 56 orang.

Menurutnya, program seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain.

"Inilah yang disebut integrasi. Masyarakat bergerak, pemerintah hadir, dan semua pihak ikut mendukung," ujar Wihaji.

Kunjungi keluarga risiko stunting

Dalam kunjungan yang sama, Wihaji juga meninjau beberapa keluarga yang masuk kategori Keluarga Risiko Stunting (KRS).

Ia menyerahkan bantuan berupa renovasi rumah, perbaikan fasilitas MCK, dukungan pengobatan, dan keikutsertaan BPJS Kesehatan.

Menurutnya, upaya pengentasan stunting harus menyeluruh, mulai dari kesehatan anak, kesejahteraan keluarga, hingga lingkungan rumah.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang