Kemenkes Jelaskan Dampak Cs-137: Dari Mual hingga Risiko pada Janin

Kementerian Kesehatan, cs-137, Cesium-137, efek paparan radioaktif, radioaktif CS-137, paparan radioaktif, radioaktif Cs-137 di Cikande, Kemenkes Jelaskan Dampak Cs-137: Dari Mual hingga Risiko pada Janin

Kementerian Kesehatan (Kemkes), Jumat (4/10/2025), menjelaskan potensi bahaya Cs-137 setelah muncul kasus paparan di Kawasan Industri Cikande, Serang, Banten.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemkes, Aji Muhawarman, Jumat (3/10/2025), mengatakan, efek paparan radioaktif berbeda antara jangka pendek dan jangka panjang.

"Efek jangka pendek, antara lain sindrom radiasi akut, yakni mual, muntah, diare, kelelahan, sakit kepala, hingga penurunan sel darah putih," jelas Aji.

Selain itu, paparan Cs-137 bisa merusak kulit dan jaringan dengan tanda kemerahan, lepuh, atau luka bakar radiasi.

Pada paparan tinggi, risiko yang mungkin terjadi termasuk perdarahan, infeksi berat, kerusakan organ, hingga kematian.

Paparan rendah dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker akibat kerusakan DNA, menurunkan daya tahan tubuh akibat gangguan sumsum tulang dan imunitas, serta menimbulkan risiko kelainan janin bila yang terpapar adalah ibu hamil.

Namun, Aji menegaskan, mayoritas kasus yang ditemukan masih dapat ditangani dengan dekontaminasi radiasi, obat khusus, dan pemantauan kesehatan jangka panjang.

Radioaktif Cs-137 pada udang beku

137 menjadi sorotan setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat (AS) mendeteksi kontaminasi pada udang ekspor dari perusahaan Indonesia, PT Bahari Makmur Sejati (PT BMS).

Pemerintah merespons dengan membentuk Satuan Tugas Penanganan Kerawanan Bahaya Radiasi Cs-137 untuk menyelidiki kasus tersebut.

Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa sumber kontaminasi berasal dari pabrik baja PT PMT di kawasan industri Cikande, Serang, Banten.

Kontaminasi itu terjadi karena serbuk besi bekas (scrap metal) yang mengandung Cs-137 menyebar melalui udara ke fasilitas pengemasan, berjarak kurang dari dua kilometer dari pabrik baja.

Cs-137 merupakan isotop radioaktif hasil fisi nuklir, mudah bergerak melalui udara, larut dalam air, dan mudah berinteraksi dengan tanah, tanaman, serta beton.

Obat prussian blue untuk 9 orang positif terpapar radioaktif Cs-137 di Cikande

Hasil pemeriksaan whole-body counter (WBC) menunjukkan sembilan orang positif terpapar radioaktif Cs-137 di Cikande.

Kesembilan orang tersebut telah mendapatkan penanganan medis di RS Fatmawati, Jakarta, tanpa menunjukkan gejala.

"Untuk perawatannya diberikan obat prussian blue," kata Aji.

Kemkes juga memeriksa sekitar 1.562 pekerja dan warga sekitar kawasan industri sebagai tindak lanjut kasus paparan cesium-137 di Kawasan Industri Cikande, yang sebelumnya memengaruhi udang dan cengkeh Indonesia.

Proses deteksi dilakukan berlapis.

"Surveymeter untuk mendeteksi paparan eksternal radiasi pada tubuh dan pakaian.

Jika positif, dilakukan dekontaminasi. Mandi, ganti pakaian, lalu diperiksa ulang," ujar Aji.

Tahap berikutnya, sambung Aji, adalah pemeriksaan darah untuk menilai penurunan limfosit.

Bagi yang limfosit rendah, dilakukan WBC untuk mendeteksi paparan internal Cs-137, guna mengetahui kadar cesium dalam tubuh.

"Jika terindikasi serius, dirujuk ke RS rujukan nasional (RS Fatmawati) untuk pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut," katanya.

Dekontaminasi radiasi berjarak 5 km

Pemerintah melalui Satgas Penanganan Cs-137 telah melakukan langkah cepat dalam radius 5 km dari lokasi terpapar.

Satgas juga memberi edukasi dan komunikasi risiko agar masyarakat tetap tenang seraya waspada, serta melakukan pemantauan kesehatan warga, termasuk keluarga dan kontak serumah.

"Pemeriksaan akan diperluas menunggu hasil pemetaan dari BAPETEN dan BRIN," ujar Aji.

Masyarakat diimbau mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis di puskesmas atau fasilitas kesehatan yang ditunjuk.

Kemudian, ia menambahkan bahwa radiasi tidak bisa dilihat, didengar, atau dicium, sehingga pemeriksaan sangat penting untuk mengetahui dampaknya.

“Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Rajin cuci tangan, mandi setelah beraktivitas di area berisiko, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup,” ucapnya.

Warga yang mengalami gejala seperti mual, muntah, lemas, atau perubahan kesehatan lainnya diminta segera melapor.

"Tidak perlu khawatir berlebihan, pemerintah telah melakukan dekontaminasi radiasi, pengamanan lokasi, dan penanganan medis," ujarnya.

Aji juga mengingatkan pentingnya solidaritas sosial dan menghindari stigma atau diskriminasi terhadap mereka yang terpapar radioaktif Cs-137.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.tv dengan judul "Waspada! Kemenkes Jelaskan Efek Paparan Radioaktif CS 137 terhadap Tubuh Manusia" dan di Kompas.com dengan judul "FDA Temukan Cesium-137 pada Cengkeh Indonesia, Sumber Kontaminasi Diselidiki".