BMKG Jelaskan Bedanya Gempa M 5,5 Pacitan dan M 4,5 Bantul yang Terjadi di Hari yang Sama

BMKG, gempa Bantul, gempa Pacitan, BMKG Jelaskan Bedanya Gempa M 5,5 Pacitan dan M 4,5 Bantul yang Terjadi di Hari yang Sama, BMKG tegaskan kedua gempa tidak saling berkaitan, Gempa Pacitan: Intra-slab dengan Kedalaman Menengah, Gempa Bantul: Gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Opak, Mengapa sensasi guncangan berbeda?

Gempa bumi sama-sama mengguncang wilayah Pacitan, Jawa Timur dan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Selasa (21/1/2026).

Pada Selasa pukul 8.20 WIB pagi, gempa berkekuatan magnitudo 5,5 mengguncang Pacitan, Jawa Timur. 

Kemudian pada siang harinya, wilayah Yogyakarta dan sekitarnya merasakan getaran akibat gempa yang mengguncang Bantul pada pukul 13.15 WIB. 

Meski terjadi pada hari yang sama dan getarannya saling dirasakan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kedua gempa tersebut memiliki sumber dan karakter yang berbeda.

Lantas, bagaimana penjelasannya mengenai dua peristiwa gempa bumi di wilayah selatan Pulau Jawa ini?

BMKG tegaskan kedua gempa tidak saling berkaitan

BMKG menegaskan gempa Bantul tidak berhubungan dengan gempa Pacitan meskipun terjadi pada hari yang sama dan getarannya saling dirasakan.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menegaskan bahwa dua gempa yang terjadi di bagian selatan Pulau Jawa itu tidak saling berkaitan.

"Tidak (berhubungan dengan gempa Pacitan)," kata Daryono saat dihubungi Kompas.com, Selasa (27/1/2026).

Perbedaan sumber, kedalaman, dan mekanisme gempa menjadi dasar penegasan BMKG bahwa kedua peristiwa tersebut berdiri sendiri dan tidak saling memicu.

Gempa Pacitan: Intra-slab dengan Kedalaman Menengah

Seperti diketahui, gempa berkekuatan magnitudo 5,5 yang mengguncang Pacitan pada pukul 08.20 WIB. 

Dalam penjelasan Daryono, gempa Pacitan merupakan gempa jenis intra-slab dengan kedalaman menengah. 

Gempa jenis ini terjadi pada bagian lempeng bumi yang menunjam ke dalam mantel.

Daryono menjelaskan, gempa intra-slab memiliki spektrum guncangan yang luas sehingga getarannya dapat dirasakan di wilayah yang cukup jauh dan berlangsung relatif lebih lama di permukaan.

Karakter tersebut menjelaskan mengapa gempa Pacitan terasa seperti ayunan dan dirasakan di sejumlah daerah. 

Adapun wilayah yang mengalami getaran akibat gempa ini antara lain: Nganjuk, Ponorogo, Kediri, dan Lumajang dengan intensitas III MMI, Tulungagung III–IV MMI, Madiun serta Jember II–III MMI. 

Selain itu, getaran juga dirasakan di wilayah DIY dengan intensitas II MMI, serta di Bali, yakni Denpasar, Kuta, dan Karangasem dengan intensitas II–III MMI.

Gempa Bantul: Gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Opak

Sementara itu, gempa berkekuatan magnitudo 4,5 yang terjadi di Bantul pada pukul 13.15 WIB tergolong gempa dangkal (shallow crustal earthquake). 

BMKG mencatat gempa ini terjadi pada kedalaman 11 kilometer dan berkaitan dengan aktivitas Sesar Opak.

Gempa dangkal umumnya menimbulkan sentakan yang lebih kuat, meski durasinya singkat. 

Hal ini membuat guncangan terasa lebih mengejutkan bagi warga, meski magnitudonya lebih kecil dibanding gempa Pacitan.

BMKG mencatat gempa Bantul dirasakan di wilayah Sleman, Kulonprogo, Gunungkidul, Magelang, Pacitan, Solo, Trenggalek, Purworejo, dan Wonogiri dengan intensitas II hingga III MMI.

Mengapa sensasi guncangan berbeda?

BMKG menjelaskan, perbedaan kedalaman dan mekanisme sumber gempa menjadi faktor utama perbedaan sensasi guncangan yang dirasakan masyarakat.

Gempa intra-slab dengan kedalaman menengah cenderung menghasilkan getaran yang terasa lebih lama dan menjangkau wilayah luas. 

Sebaliknya, gempa dangkal menghasilkan guncangan yang lebih kuat. 

"Karakter intraslab event memiliki groundmotion yang lebih kuat dari sumber lain," ujar Daryono.

Sementara itu, BMKG dalam keterangan resminya menegaskan bahwa gempa M 4,5 di Bantul tidak berpontensi tsunami.

BMKG juga mencatat hingga pukul 13.45 WIB, telah terjadi gempa susulan (aftershock) sebanyak 14 kali dengan kekuatan terbesar M 2,0. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang