BMKG Catat 14 Gempa Susulan Usai Bantul Diguncang Gempa M 4,5, Tanda Bencana Besar?
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,5 mengguncang wilayah Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Selasa (27/1/2026) siang.
Guncangan gempa dirasakan di sejumlah wilayah dan diikuti oleh rangkaian gempa susulan.
Kepala Stasiun Geofisika Sleman Ardhianto Septiadhi mengatakan, pihaknya mencatat aktivitas gempa susulan setelah gempa utama terjadi.
Hingga pukul 13.45 WIB, tercatat sebanyak 14 kali gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai M 2,0.
Rentetan gempa susulan tersebut memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama terkait kemungkinan terjadinya gempa besar setelah aktivitas gempa yang terjadi dalam waktu berdekatan.
Potensi Gempa Besar Belum Bisa Diprediksi
Menanggapi kekhawatiran masyarakat terkait potensi gempa besar, Ardhianto menegaskan bahwa kemunculan gempa susulan yang terjadi setelah gempa utama hanya terjadi dalam skala atau magnitudo lebih kecil.
Ia juga menekankan bahwa hingga saat ini belum ada metode ilmiah maupun teknologi yang mampu memprediksi secara pasti kapan dan di mana gempa besar akan terjadi.
Oleh sebab itu, Ardhianto meminta masyarakat agar tetap tenang, tidak terpancing informasi yang belum jelas kebenarannya, serta selalu memantau perkembangan informasi resmi yang disampaikan melalui kanal komunikasi BMKG yang telah terverifikasi.
“Untuk gempa yang terjadi disertai gempa susulan untuk kejadian hari ini dengan kekuatan atau magnitudo yang lebih kecil, Pak,” kata Ardhianto kepada Kompas.com, Selasa (27/1/2026).
“Untuk sinyal mau ada gempa besar sampai saat ini dari ilmu atau teknologi di mana pun belum ada yang bisa memprediksi dengan tepat,” sambungnya.
Sesar Opak Picu Gempa Jogja Hari Ini
Ardhianto menjelaskan bahwa gempa Jogja hari ini terjadi pukul 13.15.32 WIB dan tergolong sebagai gempa bumi tektonik dangkal.
“Hari Selasa, 27 Januari 2026 pukul 13.15.32 WIB wilayah Bantul dan sekitarnya diguncang gempa bumi tektonik,” ujarnya.
“Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M 4.5,” lanjut Ardhianto.
Berdasarkan analisis BMKG, episenter gempa berada pada koordinat 7,87 lintang selatan dan 110,49 bujur timur atau tepatnya berlokasi di darat sekitar 16 kilometer arah timur Bantul dengan kedalaman 11 kilometer.
“Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Opak,” kata Ardhianto.
Getaran Gempa Dirasakan di Gunungkidul hingga Pacitan
Gempa tersebut dirasakan cukup luas di sejumlah wilayah dengan tingkat intensitas yang berbeda.
Skala intensitas III MMI dirasakan di Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, Kota Yogyakarta, dan Klaten, dengan getaran dirasakan seperti truk bermuatan sedang melintas.
Sementara itu, getaran dengan intensitas II MMI dirasakan di wilayah Wonogiri, Purworejo, Trenggalek, Solo, Pacitan, dan Magelang yang ditandai dengan getaran ringan dan benda-benda gantung yang bergoyang.
Hingga saat ini, BMKG menyatakan belum menerima laporan adanya kerusakan bangunan akibat gempa tersebut.
Selain itu, hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa Bantul tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership.